Hingga hari ke-38 operasional haji 1446 H/2025 M, jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat mencapai 175 orang.
Data terbaru jemaah haji dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kesehatan per Sabtu (7/6) pukul 23.00 waktu Arab Saudi (WAS) menunjukkan mayoritas kematian disebabkan oleh penyakit jantung.
Menurut dr. Mohammad Imran, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi, dari 175 jemaah yang wafat, sebanyak 170 orang berasal dari kloter reguler dan 5 orang dari haji khusus.
Faktor utama kematian jemaah haji tahun ini meliputi:
- 77 kasus akibat penyakit jantung
- 15 kasus karena infeksi berat dan kegagalan organ
- 11 kasus gangguan pernapasan akut
- 11 kasus dehidrasi ekstrem
“Cuaca panas ekstrem, kelelahan fisik, dan penyakit bawaan menjadi pemicu utama. Namun, angka kematian tahun ini lebih rendah dibanding 2024 yang mencapai 190 orang di periode yang sama,” jelas Imran.
Sebaran Lokasi dan Profil Jemaah yang Wafat
Berdasarkan dashboard kesehatan haji 2025, berikut lokasi kematian jemaah haji Indonesia:
- Makkah: 114 orang
- Madinah: 30 orang
- Arafah: 14 orang
- Bandara: 9 orang
- Mina: 8 orang
Dari sisi demografi:
- 62,9% laki-laki, 37,1% perempuan
- 55,4% lansia (65+ tahun), sisanya berusia 41–64 tahun
- Tren Kematian Saat Puncak Haji (Armuzna)
Selama fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (5–7 Juni 2025), terjadi peningkatan kasus:
- 5 Juni (Hari Wukuf): 9 jemaah wafat
- 6 Juni: 11 jemaah (angka tertinggi)
- 7 Juni: 5 jemaah
Kondisi ini menunjukkan bahwa suhu ekstrem dan tekanan fisik masih menjadi tantangan besar, terutama bagi jemaah berisiko tinggi.
Upaya PPIH Tingkatkan Pelayanan Kesehatan
PPIH Arab Saudi telah mengerahkan: 1.000+ tenaga kesehatan haji kloter (TKHK), 192 personel medis PPIH, Ambulans dan fasilitas rujukan di titik-titik padat
“Kami terus berupaya agar jemaah tetap sehat dan ibadah lancar hingga pulang ke Tanah Air,” pungkas Imran















