Untuk mendukung program prioritas Prabowo Subianto dibutuhkan anggaran mencapai Rp 446 triliun, Hal itu diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat membeberkan dana yang dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ada 11 program prioritas Prabowo yang akan dibiayai dengan anggaran Rp 446 triliun tersebut.
Bendahara negara itu menyebut APBN terus dioptimalkan sebagai instrumen shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung dunia usaha, menciptakan kesempatan kerja, dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. “Melalui berbagai belanja APBN, pemerintah telah menyiapkan respons kebijakan countercyclical dalam bentuk berbagai paket kebijakan ekonomi,” tulis Sri Mulyani dalam unggahan Instagram @smindrawati pada Selasa, 3 Juni 2025.
Inilah rincian alokasi anggaran untuk program prioritas Prabowo:
- Makan Bergizi Gratis (MBG) Rp 121 triliun
- Program 3 juta rumah melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) Rp 41,88 triliun
- Koperasi Desa Merah Putih Rp 200 triliun
- Sekolah Rakyat Rp 11,6 triliun
- Sekolah Unggul Garuda Rp 2 triliun
- Rehabilitasi sekolah Rp 19,5 triliun
- Cek Kesehatan Gratis (CKG) Rp 3,4 triliun
- Penuntasan Tuberkulosis Rp 1,5 triliun
- Pembangunan RS berkualitas Rp 1,7 triliun
- Lumbung pangan Rp 23,16 triliun
- Pembangunan bendungan dan irigasi Rp 20,5 triliun
Selain itu, pemerintah juga menggulirkan paket stimulus ekonomi untuk menjaga laju pertumbuhan dan memperkuat stabilitas perekonomian nasional.
Stimulus itu terdiri dari diskon tarif tol, diskon tarif transportasi, diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), bantuan subsidi upah, dan penebalan bantuan sosial. Secara keseluruhan, nilai paket stimulus mencapai Rp 24,44 triliun, terdiri dari Rp 23,59 triliun yang bersumber dari APBN dan Rp 0,85 triliun dari non-APBN.
Stimulus ini juga dilengkapi dengan pencairan gaji ke-13 pada bulan Juni ini sebesar Rp 49,3 triliun bagi ASN, TNI, Polri, dan pensiunan.
“Kami harapkan pada kuartal II, pertumbuhan ekonomi tetap bisa dijaga mendekati 5 persen dari yang tadinya diperkirakan akan melemah akibat kondisi global,” ujar Sri Mulyani.















