Harian Masyarakat | Israel melancarkan serangan udara di ibu kota Qatar, Doha, pada Selasa, 9 September 2025. Target utama adalah pimpinan senior Hamas yang sedang membahas proposal terbaru gencatan senjata dan pertukaran tahanan dengan Israel. Serangan ini menghantam kompleks perumahan di distrik Katara, utara Doha, yang digunakan sebagai tempat tinggal anggota Biro Politik Hamas.
Menurut otoritas Qatar, sedikitnya enam orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk lima anggota Hamas dan seorang anggota Pasukan Keamanan Dalam Negeri Qatar. Hamas mengonfirmasi korban tewas mencakup Humam, putra dari Khalil al-Hayya yang juga ketua tim negosiasi, serta seorang ajudannya. Al-Hayya sendiri selamat dari serangan itu.
Saksi mata di Doha melaporkan adanya delapan ledakan beruntun pada sore hari. Media Israel mengungkap operasi itu melibatkan 15 jet tempur yang menembakkan 10 amunisi dalam hitungan detik. Israel Defence Forces (IDF) dan dinas keamanan internal Shin Bet menyebut aksi ini sebagai “serangan tepat” untuk melumpuhkan pimpinan Hamas, termasuk al-Hayya dan Zaher Jabarin, pemimpin Hamas yang diasingkan di Tepi Barat.
Reaksi Hamas dan Tuduhan terhadap AS
Hamas mengecam serangan itu sebagai “kejahatan keji” dan “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional”. Kelompok itu menegaskan Israel sengaja menargetkan delegasi negosiasi agar perundingan gencatan senjata gagal. Hamas juga menyatakan pemerintahan Amerika Serikat turut bertanggung jawab karena mendukung operasi militer Israel.

Dalam pernyataannya, Hamas menilai serangan ini membuktikan Israel tidak menginginkan perdamaian dan hanya berupaya menggagalkan semua inisiatif internasional.
Israel Nyatakan Serangan Sah
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut serangan itu “sepenuhnya dibenarkan”. Ia menegaskan targetnya adalah pimpinan Hamas yang merancang serangan 7 Oktober 2023 ke Israel dan terus melancarkan aksi bersenjata. Netanyahu juga menyatakan operasi ini bagian dari tanggapan atas penyerangan di Yerusalem dan Gaza awal pekan lalu, yang menewaskan 10 warga Israel.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menambahkan, Hamas akan “dihancurkan” bila tidak segera membebaskan sandera dan menghentikan serangan.
Sikap Amerika Serikat
Gedung Putih menyatakan Presiden Donald Trump menilai insiden ini “sangat disayangkan”, tetapi tujuan mengeliminasi Hamas adalah “hal yang layak dicapai”. Juru bicara Karoline Leavitt menyebut AS sempat diberi tahu militer Israel sebelum serangan dilakukan. Ia menegaskan Trump langsung mengutus utusan khusus Steve Witkoff untuk memberi tahu Qatar.
Namun, Kementerian Luar Negeri Qatar membantah klaim tersebut. Menurut juru bicara Majid al-Ansari, satu-satunya panggilan dari pejabat AS datang saat ledakan sudah terjadi di Doha.

Trump kemudian berbicara dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Ia berjanji kejadian serupa tidak akan terulang di wilayah Qatar.
Kecaman Internasional
Serangan Israel memicu kecaman luas.
- Qatar menyebut serangan itu “terorisme negara” dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan. Sheikh Tamim mengecam langsung dalam panggilan telepon dengan Trump.
- Arab Saudi menilai tindakan Israel sebagai agresi brutal terhadap negara tetangga.
- PBB melalui Sekjen António Guterres menyebut serangan itu ancaman serius terhadap kedaulatan Qatar dan menghambat upaya perdamaian.
- Prancis menyatakan serangan itu tidak dapat diterima, sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menilai aksi Israel melanggar kedaulatan Qatar dan berpotensi memperluas eskalasi kawasan.
- Paus Leo XIV menegaskan situasi yang terjadi “sangat serius”.
Dampak terhadap Negosiasi dan Sandera
Hamas menegaskan serangan gagal membunuh seluruh anggota tim negosiasi, meski menewaskan sejumlah orang dekat pimpinan. Namun, insiden ini membuat keluarga sandera Israel semakin cemas. Dari 48 sandera yang masih ditahan di Gaza, sekitar 20 diyakini masih hidup.
Sejumlah keluarga menilai serangan Israel justru memperburuk peluang kesepakatan pembebasan sandera. Oposisi Israel, Yair Lapid, juga mempertanyakan apakah risiko terhadap nyawa sandera dipertimbangkan sebelum operasi.

Latar Belakang Perang Gaza
Perang Gaza bermula setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyandera 251 orang. Israel kemudian melancarkan serangan balasan yang hingga September 2025 telah menewaskan lebih dari 64 ribu orang di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan setempat.
Dalam dua tahun terakhir, banyak pimpinan Hamas tewas dibunuh Israel. Ismail Haniyeh terbunuh dalam ledakan di Iran pada Juli 2024, sementara Yahya Sinwar, dalang serangan 7 Oktober, tewas di Gaza pada Oktober 2024.
Titik Balik Baru di Timur Tengah
Qatar yang sejak 2012 menjadi tuan rumah kantor politik Hamas dan mediator utama bersama AS dan Mesir kini berada dalam sorotan. Perdana Menteri Qatar menegaskan negara-negara kawasan harus bersatu memberi respons terhadap Israel.
Serangan di Doha menandai pertama kalinya Israel menyerang langsung di Qatar, negara yang juga menjadi lokasi pangkalan udara terbesar AS di kawasan, Al Udeid. Insiden ini dinilai sebagai titik balik baru yang berpotensi memperluas konflik dan mengancam stabilitas Timur Tengah.















