Harian Masyarakat | Rizki Juniansyah, sang lifter muda andalan Indonesia, kembali menulis sejarah di dunia angkat besi. Di Kejuaraan Dunia Angkat Besi (IWF World Championships) 2025 di Forde, Norwegia, ia membawa pulang dua medali emas, satu perunggu, dan sekaligus memecahkan rekor dunia.
Gemilang di Kelas Baru
Lomba kelas 79 kilogram putra yang diikuti 39 lifter dari berbagai negara berlangsung sengit. Dari empat sesi pertandingan, Rizki Juniansyah tampil di Grup A dan keluar sebagai yang terbaik dalam dua kategori utama: clean and jerk serta total angkatan.
Pada percobaan keduanya, Rizki Juniansyah mengangkat 204 kilogram di clean and jerk, rekor dunia baru yang menghapus catatan milik rekan senegaranya, Rahmat Erwin Abdullah, yang hanya bertahan selama dua jam di Grup B. Total angkatan Rizki mencapai 361 kilogram, hasil dari snatch 157 kilogram dan clean and jerk 204 kilogram.
View this post on Instagram
Catatan tersebut membuat Rizki unggul satu kilogram dari dua pesaing terdekatnya, Ri Chong-song (Korea Utara) dan Mohamed Younes (Mesir), yang sama-sama mencatatkan total 360 kilogram.
Dengan hasil itu, Rizki Juniansyah meraih:
- Emas clean and jerk (204 kg)
- Emas total angkatan (361 kg)
- Perunggu snatch (157 kg)
Duel Panas Sesama Indonesia
Persaingan menarik terjadi antara dua lifter Indonesia, Rizki Juniansyah dan Rahmat Erwin Abdullah.
Keduanya sudah lama bersaing di level elite sejak kelas 73 kg dan kini kembali bertemu di kelas baru 79 kg.
Rahmat tampil di Grup B setelah sempat diragukan karena cedera bahu kanan yang dialaminya saat seleksi nasional Agustus lalu. Meski hanya berlatih penuh seminggu, Rahmat tetap mencatat prestasi luar biasa dengan clean and jerk 203 kilogram, yang juga sempat menjadi rekor dunia sebelum dipecahkan Rizki.
View this post on Instagram
Rahmat menutup kejuaraan dengan total 359 kilogram (snatch 156 kg, clean and jerk 203 kg) dan membawa pulang perak di clean and jerk. “Mungkin ini robekan kecil, tapi saya tidak mau operasi,” kata Rahmat. “Saya belum cukup fit untuk clean and jerk, tapi saya ingin tetap tampil.”
Persaingan keduanya bukan hanya soal medali, tapi juga perebutan status lifter terbaik Indonesia. Dalam seleksi nasional sebelumnya, Rizki unggul dengan catatan 367 kilogram total angkatan, bahkan lebih tinggi dari rekor dunia resmi.
Rekor Dunia dan Tekanan Mental
Percobaan Rizki untuk memecahkan rekor dunia total angkatan (lebih dari 361 kilogram) sempat gagal. Ia mencoba menaikkan snatch ke 162 kilogram, namun dua kali gagal mempertahankan posisi berdiri penuh. Padahal, saat seleksi nasional, angkatan itu berhasil ia kuasai dengan mudah.

Kendati gagal pada dua percobaan terakhir, Rizki Juniansyah tampil percaya diri di atas panggung. Setelah berhasil mengangkat barbel ke bahu (clean), ia mengambil jeda empat detik sebelum mendorong beban ke atas kepala (jerk). Gerakannya stabil dan meyakinkan, disambut sorakan penonton dan tepuk tangan panjang di arena Fordehuset, Norwegia.
“Semoga nanti saya bisa memecahkan rekor total angkatan juga. Saya simpan itu untuk waktu lain,” ujar Rizki kepada Federasi Angkat Besi Internasional (IWF). Ia berjanji akan menuntaskannya di ajang SEA Games Thailand 2025 pada Desember mendatang.
Dominasi Asia dan Ketatnya Persaingan Dunia
Kelas 79 kilogram putra di Forde menjadi salah satu kategori paling ketat dalam sejarah IWF. Tercatat 12 upaya pemecahan rekor dunia, baik kategori senior maupun junior, dilakukan oleh lifter dari China, Kazakhstan, Mesir, Korea Utara, dan Indonesia. Hanya dua upaya yang berhasil, dan keduanya berasal dari Rizki dan Rahmat.
Banyak lifter muda yang menunjukkan potensi besar. Sembilan dari sepuluh lifter terbaik lahir setelah tahun 2000, dengan enam di antaranya berusia 22 tahun ke bawah. Persaingan ketat juga terlihat dari selisih berat total yang hanya 1 kilogram antara tiga lifter teratas.

Sistem Medali Berbeda dari Olimpiade
Kejuaraan Dunia Angkat Besi IWF memiliki sistem medali berbeda dari Olimpiade. Di Olimpiade, medali diberikan berdasarkan total angkatan (snatch + clean and jerk). Namun, di kejuaraan dunia, setiap kategori angkatan memiliki medali tersendiri, yaitu:
- Medali untuk snatch
- Medali untuk clean and jerk
- Medali untuk total angkatan
Itu sebabnya Rizki Juniansyah pulang dengan tiga medali sekaligus, bukan satu.
Lifter Indonesia Semakin Diperhitungkan
Selain Rizki dan Rahmat, Indonesia juga mencatat prestasi lain lewat Eko Yuli Irawan, yang meraih perunggu di kelas 65 kilogram untuk kategori snatch. Keberhasilan tiga lifter ini menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan besar di dunia angkat besi.
Performa gemilang Rizki juga menambah deretan prestasi setelah emas Olimpiade Paris 2024 di kelas 73 kilogram. Kini, di kelas baru 79 kilogram, ia memperlihatkan bahwa dominasinya belum berakhir.

Menuju SEA Games dan Target Rekor Baru
Rizki Juniansyah akan kembali tampil di SEA Games Thailand 2025, masih di kelas 79 kilogram. Dalam seleksi nasional, ia sudah menunjukkan potensi lebih besar dengan total angkatan 367 kilogram, angka yang jika dikukuhkan di ajang resmi akan menjadi rekor dunia baru.
Prestasi di Forde menjadi pembuka jalan untuk karier panjangnya di level internasional. Dengan usia muda dan konsistensi yang terus meningkat, Rizki Juniansyah bukan hanya lifter terbaik Indonesia, tetapi juga simbol harapan baru olahraga angkat besi dunia.















