Harian Masyarakat | Dua tahun setelah perang di Gaza dimulai, Israel kini menghadapi isolasi global dan perpecahan internal yang semakin dalam. Lebih dari 67.000 warga Palestina tewas, jutaan lainnya mengalami kelaparan, dan kekacauan politik di dalam negeri kian parah.
Pada Sidang Umum PBB akhir September lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi pemandangan memalukan: puluhan delegasi dunia meninggalkan ruangan sebagai bentuk protes terhadap apa yang mereka sebut sebagai perang genosida di Gaza.

Negara-negara yang dulu menjadi sekutu dekat Israel, seperti Inggris, Prancis, bahkan Jerman, kini mengkritik keras operasi militernya. Mereka kini hanya bergantung penuh pada dukungan mutlak Amerika Serikat.
Israel Terjebak di Masa Lalu
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.139 orang dan menyandera sekitar 200 lainnya, masih dijadikan justifikasi oleh pemerintah Israel untuk seluruh operasi militernya. Media dan politisi Israel terus mengulang narasi itu untuk membenarkan agresi di Gaza.
“Dunia sudah bergerak maju, tapi Israel masih terjebak di 7 Oktober,” kata Yossi Mekelberg, peneliti senior di Chatham House. “Mereka melihat semua warga Gaza sebagai bagian dari serangan itu, padahal sudah lebih dari 65.000 orang tewas.”
Alon Pinkas, mantan duta besar Israel untuk AS, menggambarkan perubahan sikap dunia yang drastis. “Pada Oktober 2023, gedung-gedung terkenal seperti Parlemen Inggris, Menara Eiffel, dan Empire State Building disorot warna biru-putih untuk mendukung Israel. Sekarang, kita diasingkan,” ujarnya.
Masyarakat yang Lelah dan Penuh Luka
Dua tahun perang membuat masyarakat Israel kelelahan dan semakin brutal. Perpecahan semakin tajam antara kelompok yang mendukung, menentang, atau memilih diam terhadap perang yang terus berlanjut tanpa arah.
“Israel menjadi lelah dan lebih kejam di saat bersamaan,” ujar ilmuwan politik Ori Goldberg. Ia menggambarkan suasana sosial yang penuh trauma dan kemarahan. Bahkan di tempat umum, orang menghindari pembicaraan soal tawanan yang belum dibebaskan atau korban sipil di Gaza.

Keluarga para tawanan terus menggelar protes menuntut kesepakatan politik untuk membebaskan mereka, tapi perang tak berhenti. Sementara ribuan tentara cadangan yang kembali dari medan perang menunjukkan gejala trauma berat. Kasus bunuh diri dan kekerasan domestik meningkat tajam.
“Dampak perang terlihat di mana-mana,” kata Goldberg. “Bahkan hal kecil, seperti pengendara yang tak lagi menyalakan lampu sein, mencerminkan sikap acuh yang menyebar luas.”
Politik yang Dikuasai Sayap Kanan Ekstrem
Di Knesset (parlemen), perdebatan tentang perang hanya menyentuh soal taktik, bukan penghentian perang. Oposisi resmi pun kehilangan arah.
Dua tokoh sayap kanan, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, kini memegang kendali besar dalam pemerintahan Netanyahu. Koalisi yang rapuh ini memberi mereka hak veto atas hampir semua kebijakan besar.
“Politik Israel sedang berjuang untuk menyelamatkan jiwanya,” kata Mekelberg. “Perang hanya mempercepat proses radikalisasi yang sudah dimulai sejak pemilu terakhir.”
Netanyahu sendiri menghadapi tuduhan korupsi sejak 2019. Namun, menurut Pinkas, keberuntungan masih berpihak padanya karena oposisi yang lemah dan tidak konsisten. “Selama Netanyahu tetap menggandeng kelompok sayap kanan ekstrem, dia bisa bertahan,” ujarnya.
Kebijakan keras terhadap Gaza, mulai dari penghancuran Rafah pada Mei 2024 hingga pembatalan gencatan senjata pada Maret, menjadi bukti dominasi kelompok ekstrem di kabinet. Mereka melihat perang sebagai sarana untuk menghapus batas demokrasi dan memperkuat kendali atas Tepi Barat.
Citra Israel Runtuh di Dunia

Dalam beberapa bulan terakhir, dukungan internasional terhadap Israel runtuh. Inggris, Kanada, Prancis, dan Australia kini mengecam serangan di Gaza dan mengakui Negara Palestina. Uni Eropa bahkan mempertimbangkan sanksi terhadap pejabat sayap kanan Israel dan menangguhkan perjanjian dagang.
Dari 192 anggota PBB, sebanyak 159 negara kini mengakui Palestina. Empat dari lima anggota tetap Dewan Keamanan juga mendukung pengakuan itu. Satu-satunya pengecualian hanyalah Amerika Serikat.
“Awalnya mereka menyalahkan antisemitisme atau menganggap ini salah paham,” kata Pinkas. “Tapi dunia akhirnya sadar, sebuah negara dinilai dari tindakannya. Dan Israel selama dua tahun terakhir menciptakan bencana kemanusiaan, melakukan kejahatan perang, dan dituduh melakukan genosida.”
Pada 2019, kampanye Netanyahu memamerkan foto dirinya bersama Vladimir Putin dan Narendra Modi dengan slogan A Different League. Kini, kata Pinkas, “Israel memang di liga yang berbeda, tapi sejajar dengan Korea Utara dalam hal kebencian dunia internasional.”
Krisis yang Belum Berakhir
Perang di Gaza bukan hanya menghancurkan wilayah Palestina, tapi juga meruntuhkan fondasi sosial dan politik Israel. Negara yang dulu dilihat sebagai demokrasi kuat kini berubah menjadi bangsa yang terpecah, terisolasi, dan kehilangan arah moral.
Di dalam negeri, trauma, kekerasan, dan kelelahan terus menumpuk. Di luar negeri, negara itu semakin kehilangan teman dan kepercayaan. Dua tahun perang telah mengubah wajah negara itu secara permanen, dan belum ada tanda kapan luka ini akan sembuh.















