Harian Masyarakat | Harapan besar rakyat Indonesia untuk melihat tim nasional tampil di Piala Dunia 2026 resmi pupus. Tim asuhan Patrick Kluivert tersebut tersingkir di putaran keempat kualifikasi setelah kalah 0-1 dari Irak di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Arab Saudi, Minggu (12/10/2025) dini hari WIB.
Gol tunggal Zidane Iqbal memupus perjuangan panjang skuad Garuda. Kekalahan itu sekaligus menempatkan Indonesia sebagai juru kunci Grup B, menyusul kekalahan sebelumnya dari Arab Saudi dengan skor 2-3. Dua hasil buruk ini memastikan Indonesia gagal melangkah ke putaran kelima.

Kegagalan ini menjadi akhir perjalanan dua tahun terpanjang dalam sejarah tim nasional Indonesia di ajang kualifikasi Piala Dunia. Sejak Oktober 2023, Indonesia telah memainkan 20 pertandingan, terbanyak di zona Asia. Sebanyak 47 pemain berbeda dipanggil dalam kurun waktu dua tahun tersebut.
Namun, perjalanan panjang itu berakhir dengan tangis dan frustrasi. Mimpi 280 juta penduduk Indonesia untuk melihat Merah Putih di pentas Piala Dunia kembali tertunda.
Laga Kontra Irak: Tekanan Mental dan Keputusan Taktik
Laga melawan Irak disebut sebagai pertandingan hidup-mati bagi tim Garuda. Patrick Kluivert melakukan sejumlah perubahan susunan pemain. Eliano Reijnders dan Mauro Zijlstra diberi kepercayaan tampil sejak awal, sementara Dean James dan Kevin Diks mengisi sektor sayap pertahanan.
Kehadiran Calvin Verdonk yang sempat absen pada laga melawan Jepang dan Australia sempat memberi harapan memperkuat lini belakang. Namun, tekanan besar dan trauma kekalahan beruntun dari Irak sejak 2023 membuat para pemain tampil gugup.
Meski tampil lebih disiplin dibanding laga sebelumnya, Indonesia gagal memanfaatkan peluang. Irak justru memaksimalkan satu kesalahan kecil di lini tengah yang berujung gol kemenangan Zidane Iqbal.

Kekalahan dari Arab Saudi Jadi Awal Antiklimaks
Kisah pahit Indonesia di Jeddah dimulai tiga hari sebelumnya. Tim Garuda kalah 2-3 dari Arab Saudi, meski sempat unggul lebih dulu lewat penalti Kevin Diks pada menit ke-11.
Setelah unggul, Indonesia sempat bertahan solid. Namun, tuan rumah mampu membalikkan keadaan melalui gol Saleh Abu Al-Shamat dan dua gol Feras Al-Buraikan. Indonesia kembali mencetak gol lewat penalti Diks di menit ke-88, tapi sudah terlambat untuk menghindari kekalahan.
Pertandingan ini menunjukkan masalah mendasar di skuad Kluivert. Sistem permainan yang terus berubah membuat para pemain sulit beradaptasi. Dalam tujuh laga bersama timnas, Kluivert kerap mengganti formasi dan gaya bermain tanpa hasil maksimal.
Patrick Kluivert Gagal Capai Target
Ketika ditunjuk pada 8 Januari 2025 menggantikan Shin Tae-yong, Patrick Kluivert datang dengan harapan besar. Ia dibawa langsung oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir, yang ingin menghadirkan sentuhan sepak bola Belanda di tim Garuda.
Namun, harapan itu sirna hanya dalam waktu sembilan bulan. Dua kekalahan di putaran keempat kualifikasi memastikan Indonesia tersisih dari jalan menuju Piala Dunia 2026.
”Tentu saya sangat kecewa. Semua orang di tim ini bekerja keras untuk mewujudkan mimpi ini. Kekecewaan dirasakan tidak hanya oleh pemain dan staf, tetapi juga bangsa Indonesia,” ujar Kluivert seusai laga melawan Irak.
Bagi Kluivert, ini bukan kali pertama gagal memenuhi target besar. Sebelumnya, ia juga tidak mampu membawa Curacao lolos ke Piala Dunia 2018 setelah menelan dua kekalahan dan dua hasil imbang di babak kualifikasi.

Nasib Kluivert Menggantung, Tekanan Publik Meningkat
Setelah kegagalan di Jeddah, masa depan Kluivert menjadi sorotan. Dalam konferensi pers usai laga, pelatih berusia 49 tahun itu mengaku belum tahu rencananya ke depan.
“Saya butuh waktu untuk merefleksikan apa yang telah kami lakukan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini,” ujarnya.
Tekanan publik untuk memecat Kluivert kini sangat kuat. Kritik diarahkan kepada strategi yang tidak konsisten dan pemilihan pemain yang dianggap tidak tepat.
Namun, PSSI tidak bisa sembarangan mengambil keputusan karena terikat kontrak berdurasi panjang dengan pelatih asal Belanda itu.
Dilema PSSI: Pecat Kluivert atau Bayar Kompensasi Miliaran Rupiah
Kluivert dikontrak hingga Januari 2027 dengan opsi perpanjangan satu tahun. Jika PSSI memutus kontrak lebih awal, federasi harus menanggung kompensasi besar.
Kasus sebelumnya di Turki menjadi gambaran. Berdasarkan putusan FIFA Football Tribunal nomor FPSD-13870 tertanggal 4 April 2024, klub Adana Demirspor diwajibkan membayar kompensasi 150.000 euro (sekitar Rp2,9 miliar) kepada Kluivert setelah pemutusan kontrak.
Selain itu, Adana juga menunggak pembayaran gaji dan fasilitas senilai 142.666 euro (Rp2,75 miliar). Total kewajiban klub mencapai hampir Rp6 miliar meski Kluivert hanya melatih selama lima bulan.
Jika pola ini berulang, PSSI bisa menghadapi beban keuangan serupa bila memecat Kluivert sebelum kontrak berakhir.
Namun, ada opsi lain. PSSI bisa meniru langkah Curacao dengan memberikan posisi berbeda bagi Kluivert, seperti penasihat teknis atau kepala akademi. Kluivert pernah memegang peran serupa di Paris Saint-Germain dan Barcelona.

Arah Baru Timnas dan Tantangan Menuju 2030
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut pencapaian Indonesia hingga putaran keempat kualifikasi adalah sejarah baru. Meski gagal melangkah ke Piala Dunia, perjalanan panjang timnas menunjukkan kemajuan signifikan dibanding edisi sebelumnya.
”Terima kasih kepada suporter, pemain, dan ofisial atas perjuangan hingga putaran empat kualifikasi. Kami memohon maaf mimpi masuk ke Piala Dunia belum bisa terwujud,” kata Erick Thohir.
Evaluasi besar kini menanti PSSI. Selain masa depan Kluivert, federasi perlu memperbaiki sistem pembinaan pemain muda dan memperkuat struktur kompetisi domestik.
Kegagalan 2026 bisa menjadi titik awal menuju target berikutnya: Piala Dunia 2030, edisi ke-100 turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Indonesia gagal menembus Piala Dunia 2026 setelah dua kekalahan di putaran keempat kualifikasi. Patrick Kluivert gagal memenuhi ekspektasi publik dan kini berada di ujung tanduk.
PSSI dihadapkan pada dua pilihan sulit: mempertahankan Kluivert dengan segala risikonya atau memutus kontrak dengan konsekuensi kompensasi miliaran rupiah. Apa pun keputusannya, masa depan tim Garuda akan ditentukan dari langkah berani yang diambil federasi dalam waktu dekat.















