Harian Masyarakat – Kasus stroke di usia muda semakin meningkat di Indonesia. Fenomena ini kini banyak ditemukan pada kelompok usia di bawah 40 tahun. Dokter spesialis saraf dari Universitas Indonesia, dr. Bambang Tri Prasetyo, Sp.N, Subsp. NIOO(K), FINS, FINA, menjelaskan bahwa peningkatan kasus ini erat kaitannya dengan beban kerja tinggi dan stres kronis, terutama di masyarakat perkotaan.
“Faktor risiko stroke-nya kelihatannya ada perubahan dari perilaku hidup. Kalau yang tinggal di perkotaan, mungkin karena beban kerja stresnya tinggi, ditambah kebiasaan merokok jadi peningkatan makin banyak,” ujar dr. Bambang dalam diskusi memperingati Hari Stroke Sedunia, Jumat (31/10).
Secara teori, stroke umumnya menyerang usia 45 tahun ke atas. Namun, kini pola itu bergeser. Banyak pasien muda di bawah 40 tahun yang mengalami serangan stroke meski terlihat sehat.
Dr. Bambang menjelaskan bahwa stres berat, pola makan tidak sehat, dan kebiasaan merokok menjadi kombinasi berbahaya. Pada perokok berat, nikotin menempel di dinding pembuluh darah dan membentuk plak. Kondisi ini mempersempit aliran darah ke otak dan memicu lumpuh mendadak sebelah tubuh, bahkan tanpa gejala awal.
“Pada perokok berat, dinding pembuluh darahnya akan terdapat nikotin yang menyebabkan plak dan mempersempit aliran darah. Ini menyebabkan serangan lumpuh sebelah meski tidak sering,” jelasnya.
Bahaya Terlambat Ditangani

Penanganan cepat menjadi kunci pemulihan stroke. Dr. Bambang menegaskan bahwa semakin lama pasien ditangani, semakin sulit pemulihannya. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting, terutama pada usia produktif yang memiliki risiko tinggi.
“Stroke di usia muda maupun lanjut sangat bergantung dari seberapa cepat ditangani. Kalau terlambat, waktu pemulihannya juga akan panjang,” tegasnya.
Pemeriksaan menyeluruh diperlukan bagi pasien muda, termasuk evaluasi fungsi jantung, tekanan darah, dan faktor genetik. Tujuannya untuk mencegah serangan ulang dengan kondisi yang lebih parah.
Langkah Pencegahan yang Wajib Dilakukan

Untuk mencegah risiko stroke sejak muda, dr. Bambang menekankan pentingnya mengendalikan faktor risiko dan menjaga gaya hidup sehat. Berikut anjuran yang ia sampaikan:
- Hindari makanan cepat saji dan instan.
- Perbanyak konsumsi buah dan sayur segar.
- Lakukan olahraga rutin seperti berjalan kaki 30–60 menit setiap hari.
- Minum air putih minimal 2 liter per hari.
- Batasi konsumsi kopi dan teh berlebihan.
“Menjaga pola makan dan gaya hidup adalah langkah sederhana tapi sangat efektif untuk mencegah stroke,” ujarnya.
Hidup Seimbang, Kunci Utama Mencegah Stroke
Menurut dr. Bambang, gaya hidup modern di kota besar sering kali membuat orang muda lupa menjaga keseimbangan hidup. Target kerja yang tinggi, kurang istirahat, dan kebiasaan makan sembarangan menjadi kombinasi berbahaya yang pelan-pelan merusak sistem pembuluh darah.
“Poinnya adalah faktor risikonya harus dikendalikan. Kalau tidak dikendalikan, stroke bisa berulang dan pemulihan akan lebih berat,” tegas dr. Bambang yang juga berpraktik di RS Pusat Otak Nasional Mahar Mardjono dan RS Pondok Indah.
Tren meningkatnya stroke di usia muda menjadi peringatan serius. Beban kerja, stres, dan gaya hidup buruk terbukti mempercepat kerusakan pembuluh darah. Dengan mengenali tanda bahaya lebih dini dan memperbaiki pola hidup, risiko stroke bisa ditekan secara signifikan.















