Harian Masyarakat | Komika Pandji Pragiwaksono akhirnya meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Toraja. Permintaan maaf ini muncul setelah potongan video lawakannya tahun 2013 dalam pertunjukan Mesakke Bangsaku kembali viral dan menuai protes besar. Materi tersebut dinilai menyinggung tradisi adat, khususnya ritual Rambu Solo’, upacara pemakaman yang sakral dalam budaya setempat.
Awal Mula Kontroversi
Video berdurasi sekitar satu menit empat puluh detik itu memperlihatkan Pandji menyinggung tradisi Rambu Solo’. Dalam lawakannya, ia menyebut banyak orang Toraja jatuh miskin karena menggelar pesta pemakaman besar-besaran dan menyinggung kebiasaan jenazah yang belum dimakamkan ditempatkan di rumah keluarga. Gaya tubuh dan ekspresi Pandji dalam video itu dianggap melecehkan nilai budaya.
Materi tersebut memicu reaksi keras dari masyarakat adat dan komunitas Toraja di berbagai daerah. Aliansi Pemuda Toraja pun melaporkan Pandji ke Bareskrim Polri atas dugaan penghinaan terhadap adat. Ketua Aliansi Pemuda Toraja, Prilki Prakasa Randan, menyebut lelucon itu mengandung unsur rasisme kultural dan diskriminasi berbasis etnis. “Pernyataan itu menyakiti harga diri dan kehormatan adat yang diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.
Prilki menilai tindakan Pandji berpotensi melanggar Pasal 156 dan 157 KUHP tentang penghinaan terhadap golongan serta Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) UU ITE.
Permintaan Maaf Terbuka
Selasa, 4 November 2025, Pandji mengunggah permintaan maaf di akun Instagram-nya. Dalam unggahan berjudul “Kepada yang Terhormat Masyarakat Toraja” dengan latar hitam, ia mengakui menerima banyak kemarahan dan surat protes dari warga Toraja. Ia menegaskan bahwa potongan video itu berasal dari pertunjukan tahun 2013 dan bukan konten baru.
View this post on Instagram
“Tadi malam, saya berdialog dengan Ibu Rukka Sombolinggi, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Dalam pembicaraan kami lewat telepon, Ibu Rukka menceritakan dengan sangat indah tentang budaya Toraja, maknanya, nilainya, dan kedalamannya,” tulis Pandji. “Dari obrolan itu, saya menyadari bahwa joke yang saya buat memang ignorant. Untuk itu saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Toraja yang tersinggung dan merasa dilukai.”
Pandji juga mengungkapkan kesiapannya menghadapi dua jalur hukum sekaligus, yaitu hukum negara dan hukum adat. Menurutnya, penyelesaian adat hanya dapat dilakukan di Toraja. Rukka Sombolinggi bersedia menjadi fasilitator pertemuan antara Pandji dan perwakilan dari 32 wilayah adat. “Saya akan berusaha mengambil langkah itu. Namun bila secara waktu tidak memungkinkan, saya akan menghormati dan menjalani proses hukum negara yang berlaku,” ujarnya.
Tanggapan Masyarakat Toraja
Ketua Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia di Makassar, Amson Padolo, menyambut baik permintaan maaf Pandji. “Sebagai manusia biasa dan karena dasar cinta kasih, saya pribadi tentu menerima permintaan maaf itu. Hal itu sudah menunjukkan itikad baik Pandji dan pengakuan atas kesalahannya,” kata Amson.
Namun, ia menegaskan bahwa persoalan ini tetap akan dibahas bersama tokoh-tokoh adat. Menurutnya, Rambu Solo’ bukan sekadar pesta kematian. Di balik ritual itu, ada nilai solidaritas, kepedulian sosial, dan toleransi. “Tidak semua hewan yang disiapkan disembelih. Sebagian disumbangkan ke gereja, warga tidak mampu, atau digunakan untuk kepentingan bersama seperti perbaikan jalan dan jembatan,” jelasnya.
Pelajaran bagi Dunia Komedi

Dalam unggahannya, Pandji menyebut insiden ini sebagai pelajaran penting. Ia berjanji untuk menjadi pelawak yang lebih peka, cermat, dan peduli terhadap keberagaman. Ia juga berharap kasus ini tidak membuat para komika berhenti mengangkat tema budaya dan tradisi.
“Menurut saya, anggapan bahwa pelawak tidak boleh membicarakan SARA kurang tepat. Indonesia adalah negara dengan keragaman luar biasa. Yang penting bukan berhenti membicarakan SARA, tapi bagaimana membicarakannya tanpa merendahkan atau menjelek-jelekkan,” tulis Pandji.
Pandji Pragiwaksono menutup pernyataannya dengan pesan untuk para komika agar terus bercerita tentang adat dan tradisi bangsa dengan cara yang lebih bijak dan menghormati.
Peristiwa ini membuka kembali perdebatan lama tentang batas antara kebebasan berekspresi dan sensitivitas budaya. Kasus Pandji menjadi contoh nyata bagaimana komedi yang lahir dari ketidaktahuan bisa berujung pada konflik sosial dan hukum, sekaligus menjadi pelajaran bahwa memahami konteks budaya adalah bagian penting dari tanggung jawab publik seorang seniman.















