spot_img

Pria Harus Olahraga 2 Kali Lebih Lama dari Wanita, Ini Alasannya

Harian Masyarakat | Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 85.000 orang menemukan fakta menarik: pria harus berolahraga hampir dua kali lebih lama dari wanita untuk mendapatkan manfaat kesehatan jantung yang setara. Penelitian yang diterbitkan di Nature Cardiovascular Research ini menyoroti perbedaan biologis dan fisiologis yang signifikan antara kedua jenis kelamin dalam merespons aktivitas fisik.

Riset dilakukan menggunakan data dari proyek UK Biobank, di mana peserta berusia 37 hingga 73 tahun diminta mengenakan alat pengukur aktivitas selama tujuh hari. Para peneliti kemudian memantau kondisi kesehatan mereka selama hampir delapan tahun untuk melihat hubungan antara tingkat aktivitas dan risiko penyakit jantung koroner (coronary heart disease/CHD).

Hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang berolahraga sekitar empat jam per minggu mengalami penurunan risiko CHD hingga 30 persen. Sementara itu, pria membutuhkan sekitar sembilan jam aktivitas serupa untuk mendapatkan penurunan risiko yang sama.

Hasil Utama Penelitian

Riset ini menganalisis dua kelompok besar:

  1. 80.243 orang tanpa riwayat CHD

    • Wanita yang memenuhi rekomendasi olahraga minimal 150 menit per minggu memiliki risiko 22 persen lebih rendah terkena CHD.
    • Pria yang melakukan aktivitas dalam durasi sama hanya mengalami penurunan risiko 17 persen.
    • Untuk mencapai pengurangan risiko 30 persen, wanita cukup berolahraga selama 250 menit per minggu, sedangkan pria butuh 530 menit.
  1. 5.169 peserta dengan CHD

    • Wanita yang rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu memiliki risiko kematian 70 persen lebih rendah dibanding yang tidak aktif.
    • Pria dengan durasi olahraga sama hanya menurunkan risiko kematian sebesar 19 persen.
    • Untuk mencapai manfaat yang sebanding, pria perlu berolahraga 1,7 kali lebih lama dari wanita, yaitu sekitar 85 menit per minggu dibanding 51 menit.

Mengapa Wanita Lebih Diuntungkan

Para ilmuwan menduga perbedaan ini disebabkan oleh faktor biologis dan hormonal. Estrogen, hormon yang lebih banyak beredar pada tubuh wanita, memiliki peran protektif terhadap jantung.

Dr. Jiajin Chen dari Xiamen University menjelaskan bahwa estrogen membantu pembakaran lemak saat olahraga, menjaga elastisitas pembuluh darah, menurunkan kolesterol jahat, serta mengurangi peradangan. Semua efek ini berkontribusi terhadap penurunan risiko penyakit jantung.

Selain itu, wanita umumnya memiliki lebih banyak serabut otot tipe slow-twitch yang tahan lelah dan lebih efisien dalam aktivitas aerobik jangka panjang. Sebaliknya, pria lebih banyak memiliki otot fast-twitch yang cocok untuk gerakan singkat dan intens, seperti sprint atau angkat beban.

“Perbedaan fisiologis ini dapat menjelaskan mengapa wanita menunjukkan peningkatan manfaat kardiovaskular yang lebih besar dari aktivitas fisik,” ujar Chen.

Dampak bagi Panduan Kesehatan

Penelitian ini memunculkan perdebatan tentang apakah panduan olahraga global perlu dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Saat ini, lembaga seperti WHO, CDC, dan American Heart Association masih menggunakan pedoman yang sama untuk semua orang: minimal 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga tinggi per minggu, ditambah latihan penguatan otot dua kali seminggu.

Dr. Emily Lau, ahli jantung dari Massachusetts General Hospital, menyebut temuan ini sebagai bukti kuat bahwa pendekatan “satu untuk semua” tidak lagi memadai. “Kita harus mulai menerapkan strategi yang mempertimbangkan perbedaan biologis pria dan wanita,” tulisnya.

Namun, para peneliti juga menekankan bahwa fokus utama tetap pada meningkatkan jumlah orang yang berolahraga secara teratur. Data CDC menunjukkan kurang dari separuh orang dewasa di Amerika memenuhi rekomendasi aktivitas fisik minimal. Bahkan, hanya 20 persen wanita yang mencapai target aerobik dan penguatan otot mingguan, lebih rendah dibanding pria (28 persen).

Hambatan dan Realitas Sosial

Meski wanita mendapat manfaat lebih besar dari olahraga, mereka justru lebih jarang melakukannya. Dr. Denice Ichinoe dari University of Nevada menyebutkan bahwa banyak perempuan terhalang waktu akibat pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga.

“Banyak perempuan, terutama ibu, sulit meluangkan waktu untuk berolahraga. Mulailah dari yang kecil, seperti berjalan kaki di rumah atau melakukan aktivitas ringan bersama anak,” katanya.

Semua Orang Tetap Butuh Bergerak

Para ahli sepakat bahwa olahraga tetap penting bagi kedua jenis kelamin. Penelitian ini tidak berarti wanita boleh berolahraga lebih sedikit, melainkan bahwa manfaat yang didapatkan berbeda.

Bethany Barone Gibbs, profesor epidemiologi di West Virginia University, menegaskan, “Baik pria maupun wanita sama-sama mendapat manfaat besar dari aktivitas fisik. Pesannya sederhana: tetap aktif.”

Beberapa tips yang disarankan pakar:

  • Mulai dengan aktivitas ringan dan tingkatkan secara bertahap.
  • Gunakan kegiatan harian seperti berkebun, menyapu, atau naik tangga sebagai bentuk latihan.
  • Jalan kaki atau bersepeda untuk perjalanan jarak pendek.
  • Pilih aktivitas yang disukai agar lebih konsisten.

Saatnya Pendekatan Baru dalam Olahraga

Temuan ini menjadi peringatan bahwa tubuh pria dan wanita tidak merespons olahraga dengan cara yang sama. Wanita mendapatkan manfaat jantung lebih besar dengan waktu lebih singkat, sementara pria butuh latihan lebih lama untuk efek yang sama.

Meski begitu, satu pesan tetap berlaku universal: semakin banyak Anda bergerak, semakin besar pula manfaat bagi kesehatan jantung. Olahraga tetap menjadi “obat” terbaik untuk jantung—asal dosisnya tepat untuk setiap orang.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related news