Harian Masyarakat – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah menyelidiki dugaan korupsi dalam proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh. Penyelidikan difokuskan pada dua hal: penjualan aset negara ke negara sendiri dan penggelembungan harga lahan.
Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkapkan adanya praktik tidak wajar dalam pengadaan lahan proyek Whoosh. Menurutnya, sejumlah oknum diduga menjual tanah milik negara kepada negara sendiri dengan harga tinggi.
“Ada oknum-oknum yang seharusnya ini milik negara, tapi dijual lagi ke negara,” kata Asep di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta.
Asep menegaskan, sebagian lahan yang digunakan untuk proyek tersebut seharusnya merupakan aset negara sehingga tidak perlu dibeli kembali. Namun, dalam praktiknya, lahan itu diklaim sebagai milik pribadi dan dijual kepada pemerintah dengan harga tinggi.
“Kalaupun itu kawasan hutan, ya dikonversi saja dengan lahan lain. Tapi jangan dijual ke negara karena itu tanah negara,” ujarnya.
KPK menduga praktik ini dilakukan secara sistematis untuk memperoleh keuntungan besar dari anggaran pembebasan lahan proyek strategis nasional tersebut.
Selain itu, KPK menemukan indikasi mark up harga lahan yang tidak wajar. “Harga wajar Rp10 tapi dibayar Rp100. Negara dirugikan besar,” ujarnya. KPK menegaskan, jika terbukti, uang hasil kejahatan tersebut akan dikembalikan ke negara.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menyebut penyelidikan sudah dimulai sejak awal 2025. Fokusnya pada proses pengadaan dan pembebasan lahan, bukan operasional Whoosh. “KPK ingin memastikan setiap dana publik digunakan sesuai peruntukannya,” katanya.
Penyelidikan KPK terhadap proyek Kereta Cepat Whoosh menunjukkan bahwa lembaga antirasuah tetap memegang komitmen memberantas praktik korupsi di proyek strategis nasional. Dugaan penjualan aset negara ke negara sendiri dan mark up harga lahan menjadi fokus utama penyelidikan.
Jika terbukti, praktik ini bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga mencederai kepercayaan publik terhadap proyek transportasi yang digadang-gadang sebagai simbol kemajuan Indonesia.















