spot_img

Iran Bersedia Hidupkan Lagi Perundingan Nuklir dengan AS Jika…

Harian Masyarakat | Teheran menegaskan siap membuka kembali pintu diplomasi dengan Washington. Namun syaratnya jelas. Pemerintah AS harus berbicara dengan sikap hormat. Pesan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah konferensi keamanan di Teheran. Ia mengatakan Teheran tidak menutup jalur politik. Ia hanya menolak negosiasi yang dipakai sebagai alat tekanan.

Ketegangan Setelah Serangan 12 Hari

Serangan Israel pada Juni yang diperkuat serangan AS ke fasilitas nuklir Iran menghentikan seluruh proses yang sudah berjalan. Lima putaran pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan baru. Serangan itu memicu perang singkat selama 12 hari. Presiden AS Donald Trump kemudian mengklaim fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan. Teheran tidak menerima narasi itu.

Pemerintah Eropa memakai haknya untuk kembali menerapkan sanksi PBB. Teheran menyebut dampaknya kecil. Teheran menegaskan tidak pernah memiliki lokasi nuklir tersembunyi. Araghchi menjelaskan inspektur IAEA belum dapat mengakses lokasi yang dibom karena alasan keamanan.

Tuduhan Program Nuklir

AS, sekutunya di Eropa, dan Israel menuduh Iran menutupi upaya pengembangan kemampuan senjata nuklir. Teheran bersikeras program itu hanya untuk keperluan damai. Araghchi menjawab pertanyaan jurnalis Associated Press bahwa Iran saat ini tidak melakukan pengayaan di fasilitas mana pun. Alasannya sederhana. Fasilitas tersebut diserang dan tidak lagi beroperasi.

Ia menegaskan seluruh fasilitas berada di bawah pengawasan IAEA. Tidak ada aktivitas pengayaan yang tersembunyi.

iran nuklir

Sengketa Besar: Hak Pengayaan Uranium

Masalah inti masih sama. Teheran menuntut hak penuh untuk mengayaan uranium di wilayahnya. Araghchi menyebut hak itu tidak dapat dicabut. Dalam pembicaraan sebelumnya, kedua pihak sempat mendekati kompromi. Sebuah konsorsium berbasis di Iran dengan keterlibatan teknis AS nyaris disetujui. Teheran tetap bisa melakukan pengayaan domestik. AS bisa mengawasi bahwa program itu bersifat damai. Pejabat Iran mengklaim kesepakatan itu tiga kali runtuh akibat campur tangan kelompok penentang di Washington.

Kini Teheran mengatakan tawaran konsorsium sudah tidak berlaku. Namun peluang untuk menghidupkannya kembali tetap terbuka jika pembicaraan dimulai lagi.

Kritik Iran terhadap Washington

Araghchi menilai pendekatan AS tidak menunjukkan kesiapan untuk perundingan yang setara. Ia mengatakan AS tidak akan mendapatkan hasil yang gagal dicapai lewat perang. Wakil menteri luar negeri Saeed Khatibzadeh menuduh AS memakai negosiasi sebagai pertunjukan politik.

Teheran juga menilai serangan Israel dilakukan dengan pengetahuan penuh Washington. Hal ini membuat upaya membangun kembali kepercayaan menjadi sulit.

Iran Klaim Muncul Lebih Kuat

Araghchi menyampaikan bahwa Teheran keluar dari perang 12 hari dengan posisi yang lebih kuat. Ia menyebut kemampuan pertahanan sudah pulih. Semua kerusakan pada fasilitas akan dibangun kembali. Ia menilai tujuan serangan bukan hanya merusak teknologi nuklir, tetapi memecah persatuan nasional. Ia mengatakan upaya itu gagal. Ia mengklaim masyarakat Iran semakin solid mendukung negara.

iran nuklir

Syarat untuk Negosiasi Baru

Teheran menegaskan diplomasi masih menjadi pilihan. Namun Teheran menolak tekanan dan penyerahan tanpa syarat. Araghchi menyatakan jika AS dan negara Barat berbicara dengan bahasa hormat, Iran akan merespons dengan cara yang sama. Ia menegaskan hak Iran atas teknologi nuklir damai tidak akan dinegosiasikan.

Saat ini Teheran mengaku belum menerima tawaran yang jelas dari Washington atau para mediator regional seperti Qatar, Mesir, Oman, dan Arab Saudi. Trump berkata ia menerima pesan bahwa Teheran ingin membuka kembali pembicaraan. Pejabat Iran mengatakan pesan itu belum terkoordinasi.

Arah Berikutnya

Situasi ini menempatkan kedua pihak pada persimpangan. Teheran menuntut perlakuan setara. Washington belum menunjukkan sinyal konkret untuk mengubah pendekatan. Jika kedua pihak kembali ke meja perundingan, isu pengayaan uranium dan pengawasan internasional akan menjadi kunci. Teheran menunggu tawaran yang dianggap realistis. AS menuntut jaminan bahwa program nuklir tetap damai.

Ketegangan yang lahir dari perang 12 hari masih membayangi. Namun kedua pihak menyisakan ruang untuk diplomasi. Teheran menunggu bahasa hormat. AS menunggu kepastian teknis. Keputusan berikutnya akan menentukan arah krisis nuklir Iran.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related news