Harian Masyarakat | Gelombang perubahan mulai terasa di pasar pasar Indonesia sejak program Makan Bergizi Gratis atau MBG berjalan masif. Program ini menyiapkan jutaan porsi makanan setiap hari. Dapur dapur SPPG tersebar dari kota besar sampai desa desa. Semua bekerja menyiapkan menu harian untuk anak sekolah. Dampaknya cepat muncul. Permintaan bahan pangan meningkat. Harga pangan mulai bergerak. Telur lebih mahal. Ayam lebih sulit dicari. Sayur dan buah naik di banyak tempat.
Aroma gejolak itu kini tidak bisa diabaikan.
Kenaikan Telur dan Ayam Terpantau Nasional
BPS mencatat harga telur ayam ras pada pekan kedua November 2025 berada di angka Rp 31.646 per kilogram. Angka ini melewati batas harga acuan yang seharusnya Rp 30.000. Harga naik 0,32 persen dibanding Oktober. Data ini datang saat 157 kabupaten dan kota juga mencatat kenaikan. Kabupaten Mamberamo Tengah mencatat harga tertinggi dengan Rp 100.000 per kilogram. Disusul Puncak Jaya dan Intan Jaya yang mencapai Rp 90.000.
Kepala BPS Amalia Adninggar Widyasanti menegaskan kenaikan ini berhubungan dengan lonjakan permintaan MBG. Ia menunjukkan data kabupaten yang memiliki banyak SPPG cenderung mencatat kenaikan indeks perkembangan harga atau IPH lebih tinggi. Sambas dengan 26 SPPG mencatat IPH 8,32 persen. Pringsewu dengan 37 SPPG mencatat 8,1 persen. Jombang dengan 66 SPPG mencatat 6,38 persen. Ia melihat dua sisi. Ada tekanan pasokan. Ada peluang bisnis bagi peternak lokal.
Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menyampaikan sinyal yang sama. Menurutnya, gejolak baru muncul padahal baru 13.593 dari 15.211 SPPG yang beroperasi. Target BGN adalah 25.000 SPPG pada akhir Desember dan 32.000 SPPG pada Februari. Artinya permintaan masih akan melonjak.

Lonjakan Menjelang Natal, Tahun Baru, dan Ramadhan
BGN memperkirakan puncak gejolak akan terjadi pada Natal dan Tahun Baru 2025. Selain itu Ramadhan dan Lebaran 2026 akan membawa gelombang baru permintaan telur dan ayam.
Nanik melihat dua penyebab utama lonjakan ini. Tenaga ahli gizi di banyak SPPG belum menerapkan diversifikasi menu. Setelah kasus keracunan sebelumnya, banyak dapur memilih telur dan ayam sebagai bahan paling aman. Selain itu bahan alternatif seperti ikan lebih sulit didapat di banyak daerah.
BGN merespons dengan strategi jangka pendek. Frekuensi menu telur dan ayam dikurangi dari dua kali per pekan menjadi sekali. Dapur didorong memakai bahan lain. Untuk jangka panjang, BGN mendorong pemerintah daerah memperbesar produksi pangan lokal dan mendorong warga berkebun atau beternak secara berkelompok.
Sayur dan Buah Ikut Melonjak di Daerah
Di banyak pasar tradisional, kenaikan harga pangan terasa jelas. Di Pasar Kendal, pedagang bumbu dan sayur merasakan lonjakan sejak dapur MBG beroperasi setiap hari.
Jumiatun, pedagang bumbu, melihat bawang merah naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 45.000. Telur naik dari Rp 28.000 menjadi Rp 30.000. Menurutnya, bahan cepat habis karena diborong untuk MBG.
Sumiatun, pedagang sayur, mencatat sawi caisim naik dari Rp 4.000 menjadi Rp 6.000. Buncis dari Rp 6.000 menjadi Rp 11.000. Wortel dari Rp 6.000 menjadi Rp 11.000. Ia mengaku tidak bisa menambah stok karena pasokan sering habis terlebih dulu dibeli dapur MBG.
Ia mengatakan, “Pembeli umum banyak yang ngeluh mahal.”
Kondisi ini menunjukkan perubahan pola permintaan. SPPG menyerap banyak kebutuhan. Pasar tradisional kekurangan pasokan. harga pangan naik. Masyarakat umum keberatan membeli.
Biaya Logistik Tinggi Memukul Daerah Tertentu
Balikpapan memberi contoh lain. Kota ini tidak memiliki pasokan pangan yang cukup dari wilayah sendiri. Telur, sayur, daging, dan ayam dikirim dari daerah lain. Biaya logistik mahal. Harga dasar bahan pangan ikut naik. Dengan kondisi ini, harga satuan MBG Rp 12.000 dinilai tidak realistis.
Sekretaris Daerah Muhaimin mengatakan hal itu dalam forum evaluasi program MBG. Ia menilai pasokan terbatas membuat dapur kesulitan memenuhi standar gizi dengan biaya yang ditetapkan. Ia mencontohkan kasus makanan yang sempat basi akibat pengantaran terlalu lama.
Satgas MBG Balikpapan mengusulkan penyesuaian harga satuan sesuai karakteristik daerah. Mereka ingin pemerintah pusat mempertimbangkan kondisi geografis dan logistik agar program tetap berjalan dan mutu pangan terjaga.
Kritik dari DPR. Sistem Belum Siap
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto menilai masalah ini berasal dari perencanaan pasokan yang lemah. Ia melihat pemerintah tidak menyiapkan peta kebutuhan per daerah sebelum SPPG berdiri. Setiap SPPG berarti tambahan kebutuhan ayam, telur, ikan, sayur, dan buah. Menurutnya, kebutuhan itu bisa dihitung sejak awal.
Ia memberi contoh Kabupaten Grobogan. Daerah ini memiliki 125 SPPG. Untuk memenuhi kebutuhan, dibutuhkan sekitar 500 ribu ekor ayam petelur. Peternak lokal hanya mampu menyediakan 200 ribu. Kekurangan 300 ribu harus didatangkan dari luar daerah. Biaya distribusi naik. Ketersediaan telur di daerah tetangga ikut tertekan.
Ia mengatakan, “Pemerintah mestinya bisa memprediksi dan menutup celah seperti ini.”
Edy juga mengkritisi pernyataan pemerintah tentang kenaikan harga sebagai tanda keberhasilan MBG. Menurutnya, indikator yang benar adalah pasokan stabil dan masyarakat tidak kesulitan membeli pangan. Ia mengingatkan kelas pekerja menjadi kelompok paling terdampak karena daya beli tertekan.
Ia mendorong penguatan ekonomi pangan lokal. KUR bisa dipakai petani dan peternak untuk menambah kapasitas produksi. Pemda menjembatani mereka dengan SPPG agar hasil panen terserap. Peternak dibantu penerbitan NKV untuk memastikan standar higienis.

Pemerintah Melihat Sisi Lain
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan pandangan berbeda. Ia melihat kenaikan harga telur sebagai momentum kebangkitan peternak. Ia mengingatkan bahwa tiga bulan sebelumnya harga telur hanya Rp 18.000 per kilogram. Peternak sempat merugi. Kenaikan saat ini mendorong mereka bangkit.
Ia mengatakan pemerintah sedang memastikan pasokan ayam dan telur meningkat. Produksi DOC dan Grand Parent Stock ditambah. Kementerian Pertanian menyiapkan proyek peternakan terintegrasi senilai Rp 20 triliun pada 2026 untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Proyek ini diarahkan ke daerah yang kekurangan pasokan ayam dan telur agar kebutuhan MBG terpenuhi.
Tekanan Pasar Masih Akan Berlanjut
Semua data menunjukkan lonjakan permintaan dari MBG bergerak lebih cepat dibanding penyesuaian pasokan. SPPG terus bertambah. Produksi pangan lokal belum tumbuh secepat itu. Sayur, buah, telur, dan ayam naik di banyak daerah. Pasar tradisional tertekan. Konsumen umum merasakan dampaknya.
Namun pemerintah dan BGN sudah mulai menata ulang strategi. Mereka mengurangi penggunaan telur dan ayam pada hari besar. Mereka mendorong produksi lokal melalui kelompok tani dan peternak. Mereka menyiapkan pembangunan peternakan besar.
Program ini bergerak dalam skala besar. Dampaknya pun besar. MBG hadir untuk memperbaiki gizi anak. Namun jejaknya kini merembet ke pasar pangan nasional. Persoalan pasokan harus dikejar. Jika tidak, gejolak harga akan terus membayangi masyarakat.















