Harian Masyarakat | Kamboja menyatakan kesediaan berunding kapan saja dengan Thailand untuk menghentikan konflik di sepanjang perbatasan darat mereka yang mencapai 817 kilometer. Penasihat Senior Perdana Menteri Kamboja, Sous Yara, mengatakan kesepakatan untuk berbicara bisa dilakukan segera.
“Katakanlah satu jam dari sekarang, kedua belah pihak sepakat untuk berunding dan kemudian memulai komunikasi,” ujar Sous Yara yang dikutip Reuters. “Itu akan menjadi ide yang sangat bagus.”
Ia menegaskan Kamboja tidak akan memulai proses perundingan secara sepihak. Ia menyebut perlunya niat baik yang disetujui bersama. Ia menggambarkan konflik ini sebagai permainan yang merugikan semua pihak. “Kedua negara akan selalu bertetangga, jadi sebaiknya kita mencapai konsensus,” kata dia.
Dalam wawancara berbahasa Inggris dengan Reuters, Sous Yara kembali menyampaikan bahwa dialog bisa dimulai kapan saja selama ada kesediaan bersama. Ia menyebut konflik ini sebagai “a lose-lose game”.
Ketegangan Memanas dan Korban Bertambah
Konflik kembali pecah sejak Senin 8 Desember 2025. Bentrokan bersenjata terjadi di banyak titik perbatasan. Kedua negara menembakkan artileri. Setidaknya 13 orang tewas dalam dua hari bentrokan. Ratusan ribu warga di kedua sisi perbatasan meninggalkan rumah mereka.
Perang kembali meletus setelah gencatan senjata yang disepakati pada Oktober gagal dipertahankan. Gencatan senjata itu merupakan lanjutan dari proses mediasi pada Juli yang melibatkan Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Thailand menuduh Kamboja melanggar kesepakatan damai, termasuk dengan memasang ranjau darat baru. Pada November, seorang prajurit Thailand terluka akibat ranjau. Thailand kemudian menarik diri dari pakta damai.
Analisis ahli yang dikutip Reuters menunjukkan beberapa ranjau yang ditemukan Thailand kemungkinan baru dipasang. Kamboja membantah tuduhan itu. Sous Yara menegaskan ranjau tidak dapat dijadikan alasan untuk berperang.
Thailand Ingin Kamboja Ambil Langkah Pertama
Menteri Luar Negeri Thailand mengatakan Kamboja harus menunjukkan ketulusan dan mengambil langkah pertama untuk meredakan ketegangan. Ia menolak tawaran mediasi pihak ketiga.
Militer Thailand kini menargetkan melumpuhkan kemampuan militer Kamboja. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyatakan dukungan penuh terhadap operasi militer. Ia menolak dialog selama pertempuran berlangsung.
Seruan Internasional untuk Menghentikan Pertempuran
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyampaikan keprihatinan Washington terhadap meningkatnya kekerasan. “Kami sangat mendesak penghentian segera permusuhan, perlindungan warga sipil, dan agar kedua belah pihak kembali pada langkah-langkah deeskalasi,” kata Rubio.
AS sebelumnya terlibat dalam proses gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober bersama Malaysia.
Kamboja Tunggu Kesediaan Thailand
Kamboja menegaskan kembali sikapnya: siap berunding kapan pun, tetapi hanya jika ada niat baik bersama.
Posisi ini menjadi sorotan utama di tengah eskalasi konflik dan tekanan internasional. Kedua negara menghadapi dilema yang sama. Jika pertempuran berlanjut, biaya kemanusiaan dan kerusakan akan terus bertambah. Jika dialog dimulai, jalan menuju penyelesaian bisa terbuka.
Kamboja menyatakan pintu perundingan tidak pernah tertutup. Thailand kini berada di posisi untuk menentukan apakah konflik akan terus berlanjut atau bergeser menuju meja damai.















