Harian Masyarakat – Pemerintah kembali menguji sentimen pasar melalui lelang delapan seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 9 Desember 2025. Hasilnya menunjukkan minat investor yang kuat. Total penawaran mencapai Rp18,85 triliun. Pemerintah hanya menyerap Rp8 triliun sesuai kebutuhan pembiayaan.
Data ini tercantum dalam laporan Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan. Lelang mencakup seri jangka pendek hingga panjang. Setiap seri menawarkan imbal hasil yang berbeda sesuai tenor dan permintaan pasar.
Seri PBS038 mencatat serapan terbesar. Pemerintah memenangkan Rp2,75 triliun dari penawaran Rp3,02 triliun. Seri ini jatuh tempo 15 Desember 2049. Imbal hasil rata-rata tertimbang berada di level 6,75829 persen. Data ini menunjukkan permintaan kuat pada instrumen jangka panjang berbasis syariah.
Minat Terbesar Mengarah ke Seri Jangka Panjang
PBS039 dan PBS034 juga termasuk seri panjang dengan imbal hasil di atas 6 persen. PBS034 menyerap Rp250 miliar dari penawaran Rp2,22 triliun. Yield rata-rata tertimbang mencapai 6,37867 persen dengan tenor hingga 2039. PBS039 menyerap Rp200 miliar dari penawaran Rp400 miliar untuk tenor 2041. Yield yang dimenangkan 6,51605 persen.
Instrumen Pendek Tetap Diminati
Di sisi instrumen jangka pendek, pemerintah menyerap Rp1,55 triliun dari seri SPNS10082026. Penawaran masuk mencapai Rp5,8 triliun. Yield rata-rata tertimbang berada di 4,83323 persen.
Seri SPNS12012026 mencatat serapan Rp1,45 triliun dari penawaran Rp1,73 triliun. Yield berada di level 4,50000 persen dengan jatuh tempo 12 Januari 2026.
Seri SPNS01062026 mendapat penawaran Rp460 miliar. Pemerintah tidak menyerap dana pada seri ini.
Seri Menengah Masih Stabil
Di tenor menengah, PBS030 menyerap Rp1,2 triliun dari penawaran Rp3,44 triliun. Yield tercatat 5,24496 persen dengan jatuh tempo 15 Juli 2028. Seri PBS040 menyerap Rp600 miliar dari penawaran Rp1,79 triliun. Yield berada di level 5,60795 persen untuk tenor 2030.
Momentum Pembiayaan Pemerintah Tetap Terjaga
Hasil lelang memperlihatkan kapasitas pasar untuk menyerap SBSN dalam jumlah besar. Penawaran lebih dari dua kali lipat di atas serapan menunjukkan likuiditas investor masih kuat. Pemerintah memilih selektif untuk menjaga biaya utang tetap efisien.
Delapan seri SBSN yang dilelang memberi gambaran dinamika permintaan pada setiap tenor. Seri panjang mencatat yield lebih tinggi sesuai risiko waktu. Seri pendek memberi imbal hasil rendah karena permintaan besar.
Hasil lelang ini memperkuat strategi pembiayaan pemerintah pada akhir tahun. Instrumen syariah tetap menarik bagi investor institusi dan ritel. Pemerintah mempertahankan arah kebijakan yang menyeimbangkan kebutuhan pembiayaan dan stabilitas biaya utang.















