Harian Masyarakat | Pemerintah Amerika Serikat memperketat proses masuk bagi wisatawan asing. Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat atau Customs and Border Protection (CBP) mengusulkan aturan baru yang mewajibkan pemohon Electronic System for Travel Authorization (ESTA) menyerahkan riwayat media sosial selama lima tahun terakhir.
Dokumen kebijakan itu tercatat di Federal Register. CBP menulis bahwa data media sosial akan menjadi elemen wajib dalam proses permohonan ESTA. Selama ini, kolom media sosial bersifat opsional.
CBP menyampaikan dalam pernyataan resmi, “Elemen data itu mewajibkan pemohon ESTA untuk memberikan informasi tentang media sosial mereka dari lima tahun terakhir.”
Kebijakan ini berlaku bagi pelancong dari negara peserta Program Bebas Visa atau Visa Waiver Program. Program ini mencakup sekitar 40 negara termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Australia, dan Korea Selatan. Dengan izin ESTA, wisatawan dapat tinggal di Amerika Serikat hingga 90 hari dan keluar-masuk selama izin berlaku.
Tak Hanya Medsos, Kontak Pribadi Juga Diminta
CBP mengusulkan pengumpulan lebih banyak data pribadi. Formulir ESTA akan mencakup:
- Nomor telepon yang digunakan selama lima tahun.
- Alamat email yang digunakan selama sepuluh tahun.
- Nama, alamat, dan nomor telepon anggota keluarga.
Kebijakan ini masih dalam tahap pengajuan. Publik diberi waktu 60 hari untuk mengajukan komentar sebelum aturan difinalisasi.
Screening Dini: Aktivitas Online Diinspeksi Sebelum Terbang
Selain riwayat akun, aktivitas media sosial juga dapat disaring sebelum petugas menentukan persetujuan ESTA. Selama ini, petugas di bandara memiliki wewenang memeriksa ponsel turis. Beberapa wisatawan pernah ditolak masuk karena unggahan yang dinilai menyudutkan Presiden Donald Trump atau Wakil Presiden JD Vance.
Jika aturan baru berjalan, proses penyaringan dilakukan sebelum wisatawan berangkat.
Alasan Pemerintah Amerika Serikat: Keamanan Nasional
Sejak kembali menjabat pada Januari, Presiden Trump menegaskan fokus pada keamanan perbatasan. Ia mengatakan, “Kami menginginkan keselamatan. Kami menginginkan keamanan. Kami ingin memastikan bahwa kami tidak membiarkan orang yang salah masuk ke negara kami.”
Trump merujuk pada insiden penembakan dua anggota Garda Nasional di Washington DC. Pelaku diduga warga Afghanistan yang tiba di Amerika Serikat pada 2021. Pemerintah mengutip kasus itu sebagai alasan perlunya pengawasan lebih ketat.
CBP menegaskan bahwa ini belum menjadi aturan final. “Ini bukan aturan final, ini hanyalah langkah pertama.,” ujar juru bicara CBP.
Pengetatan Berlapis: Dari VWP hingga Visa Pelajar
Langkah ini melanjutkan kebijakan administrasi Trump sebelumnya. Pemerintah telah mewajibkan pemeriksaan jejak digital pemohon visa pelajar dan pemohon H-1B. Pemohon juga diminta membuka pengaturan privasi akun media sosial untuk pemeriksaan.
Kedutaan Amerika Serikat di Meksiko sudah mewajibkan beberapa kategori pemohon visa mencantumkan nama pengguna seluruh platform media sosial yang pernah dipakai dalam lima tahun. Kegagalan mengisi dapat menyebabkan penolakan visa.
Pejabat Departemen Luar Negeri menyatakan pemeriksaan itu bertujuan menyaring individu yang mendukung organisasi teroris, melakukan ancaman keamanan, atau terlibat aksi kebencian.
Celah Sistem ESTA Jadi Sorotan
CBP mengungkap masalah teknis dalam sistem ESTA. Unggahan foto berkualitas buruk membuat pemohon lolos dari pemeriksaan wajah. CBP menilai beberapa pemohon sengaja mengunggah foto buruk.
Masalah lain datang dari situs pihak ketiga yang memproses permohonan ESTA dengan biaya tinggi. Banyak permohonan yang tidak pernah dikirim ke CBP sehingga pelamar gagal naik pesawat.
CBP juga mengusulkan sistem baru untuk memastikan turis benar-benar keluar dari Amerika Serikat. Rencana itu menggunakan layanan geolokasi dan teknologi liveness detection untuk memverifikasi selfie yang diambil di luar wilayah Amerika Serikat.
Dampak pada Turisme Dunia
Kebijakan ini muncul ketika AS menghadapi penurunan wisatawan internasional. Data industri menunjukkan proyeksi kunjungan pada 2025 turun menjadi 67.9 juta dari 72.4 juta pada 2024. Pendapatan turis diperkirakan berkurang 12.5 miliar dolar.
World Travel & Tourism Council mencatat AS sebagai satu-satunya dari 184 negara yang diprediksi kehilangan pendapatan pariwisata pada 2025. Alasan yang disebutkan mencakup persyaratan perjalanan era Covid, penguatan dolar, dan dampak retorika “America First”.
Beberapa negara seperti Kanada juga mencatat penurunan warganya yang berkunjung ke AS. Sebagian wisatawan Kanada memilih tidak berkunjung sebagai bentuk protes terhadap kebijakan tarif Trump sebelumnya.
Amerika Serikat Bersiap Menyambut Arus Turis Besar
Meski prediksi penurunan terjadi, AS berharap lonjakan turis pada 2026 ketika negara itu menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Meksiko dan Kanada. Los Angeles juga menjadi tuan rumah Olimpiade 2028.
Namun analis memperingatkan bahwa syarat riwayat media sosial dapat menjadi hambatan baru bagi turis.
Tahap Berikutnya
Usulan perubahan ESTA masih menunggu masukan publik selama 60 hari. Pemerintah belum menentukan tanggal penerapan.
CBP memastikan tidak ada perubahan aturan saat ini. Proses ESTA tetap berjalan seperti biasa sampai peraturan baru disahkan.















