spot_img

Hidup di Depan Layar Semakin Tak Terkendali, Psikolog Ungkap Batas Aman dan Cara Mengurangi Kecanduan Internet

Harian Masyarakat – Internet sudah melebur ke hampir semua aktivitas. Belajar, bekerja, berbelanja, bersosialisasi, hingga mencari hiburan, semuanya bergantung pada layar. Kebiasaan ini membuat banyak orang bertanya. Berapa lama sebenarnya batas aman seseorang menatap layar setiap hari.

Psikolog sekaligus Ketua Bidang E Himpunan Psikologi Indonesia, Samanta Elsener, menyebut angka ideal. “Kalau kita bicara ideal, mungkin maksimal dua jam,” ujarnya saat ditemui di Kantor Google Indonesia.

Namun, batas itu hampir mustahil diterapkan. Banyak orang membawa gawai ke mana pun mereka pergi. Di sela rapat, saat menunggu makan, bahkan ketika berada di kamar mandi. Kebiasaan ini membentuk pola perilaku yang sulit dikendalikan.

“Mereka sudah sangat kreatif mencuri waktu untuk online ketika tidak dalam pengawasan,” kata Samanta. Masalahnya bukan lagi akses, tetapi kemampuan mengontrol diri.

Waktu Menatap Layar Meningkat di Seluruh Dunia

Screen time mengacu pada total durasi seseorang menggunakan perangkat dengan layar. Data global menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

  • rata-rata penggunaan layar dunia mendekati 7 jam per hari
  • beberapa kawasan Afrika dan Amerika Selatan mencatat lebih dari 10 jam sehari
  • pengguna dewasa menghabiskan sekitar 28,5 jam per minggu hanya melalui ponsel

Lonjakan ini tidak terjadi tanpa sebab. Teknologi dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Begitu seseorang menonton satu video, algoritma menampilkan konten serupa tanpa henti. Alhasil, waktu berlalu tanpa disadari.

Penggunaan layar tidak selalu negatif. Banyak orang membutuhkan internet untuk bekerja atau mencari informasi. Namun, durasi tanpa kendali memengaruhi pola tidur, kesehatan mental, dan kualitas hubungan sosial.

Samanta menekankan pentingnya batas pribadi. Tanpa kontrol diri, seseorang akan mudah terjebak pada konten yang tidak bermanfaat.

Kunci Pengendalian Ada Pada Kesadaran Pengguna

Banyak perangkat kini memiliki fitur pembatasan waktu. Aplikasi seperti Google Family Link memungkinkan pengaturan durasi dan akses konten. Namun, Samanta tidak merekomendasikan ketergantungan pada fitur otomatis.

“Kalau seperti itu, berarti dia tidak berkembang self-control-nya,” jelasnya. Perangkat hanya memutus akses, tetapi tidak membentuk kebiasaan.

Tujuan utamanya adalah membuat pengguna tahu kapan harus berhenti tanpa menunggu sistem mengambil keputusan.

Mengurangi Screen Time

Berikut strategi yang bisa diterapkan siapa saja.

  1. Tetapkan Durasi Jelas
    Tentukan batas sesuai kebutuhan. Jika sudah disepakati dua jam per hari, patuhi aturan itu.
  2. Latih Kontrol Diri
    Berhenti sebelum perangkat memaksa. Berikan jeda tanpa membuka layar di sela aktivitas.
  3. Pahami Cara Kerja Algoritma
    Pilih konten dengan sadar. Ketika suatu platform mulai menampilkan konten negatif, gunakan fitur tidak tertarik untuk mengubah pola rekomendasi.
  4. Jangan Bergantung pada Notifikasi
    Mematikan notifikasi mencegah kebiasaan mengecek ponsel setiap beberapa menit.

Dunia Digital Tak Bisa Dihindari, Tapi Bisa Dikendalikan

Gawai bukan musuh. Masalah muncul ketika layar menjadi pusat perhatian dan menggantikan aktivitas fisik, interaksi sosial, serta waktu istirahat.

Batas dua jam bukan sekadar angka. Itu penanda agar seseorang tetap produktif tanpa kehilangan kendali. Selama kesadaran tidak dibangun, waktu akan habis tanpa terasa.

Layar mungkin membantu, tetapi keputusan ada pada pengguna. Semakin cepat seseorang belajar mengatur batasnya, semakin kecil risiko kehilangan hidup di balik cahaya layar.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related news