Harian Masyarakat | Siklon tropis Senyar memicu banjir dan longsor besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Badai ini memperlihatkan rapuhnya lanskap alam Sumatera yang sudah kehilangan daya dukung akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan konflik agraria yang berlangsung lama. Curah hujan ekstrem hanya menjadi pemantik. Kerusakan hutan dan degradasi lingkungan menjadi penyebab utama tingginya korban dan kerusakan.
Siklon Senyar dan Lanskap Sumatera yang Rapuh
Indonesia jarang menerima dampak langsung siklon tropis. Namun perubahan iklim telah mengubah pola itu. Siklon Senyar membawa curah hujan tinggi yang memicu banjir dan longsor. Potongan kayu besar ikut hanyut di arus banjir, menandakan pembalakan hutan berlangsung masif di wilayah hulu.
Sumatera bagian utara tercatat sebagai kawasan dengan risiko bencana hidrometeorologis tertinggi menurut Indeks Risiko Bencana 2024. Kondisi ekologi Aceh, Sumut, dan Sumbar berada pada titik kritis. Degradasi hutan memperburuk dampak bencana yang dipicu siklon.
Pada Maret 2024, banjir dan longsor terjadi di 12 daerah di Sumbar akibat hujan ekstrem dan kerusakan lingkungan. Kejadian serupa terulang dalam skala jauh lebih besar saat Senyar menghantam akhir November 2025.
Deforestasi di Sumatera: Angka yang Terus Meroket
Statistik Kementerian Kehutanan 2025 menunjukkan deforestasi netto Sumatera pada 2024 mencapai 78.030,6 hektar. Angka ini merupakan 44 persen dari total deforestasi nasional yang mencapai 175.437,7 hektar.
Rincian deforestasi Sumatera pada 2024:
- Riau 29.702,1 hektar
- Aceh 11.208,5 hektar
- Jambi 8.290,6 hektar
- Sumut 7.034,9 hektar
- Sumbar 6.634,2 hektar
Riau menjadi provinsi dengan deforestasi terbesar di Indonesia, melampaui Kalimantan Timur maupun Kalimantan Tengah.
Tren deforestasi Sumatera juga meningkat sejak 2020. Data BPS menunjukkan penambahan deforestasi mencapai 36.361 hektar dibanding empat tahun sebelumnya. Walhi mencatat deforestasi Aceh, Sumut, dan Sumbar telah mencapai 1,4 juta hektar sejak 2016 akibat aktivitas 631 perusahaan tambang, sawit, PBPH, geotermal, dan pembangkit listrik.
Deforestasi juga terjadi di kawasan hutan lindung dan konservasi. Di Aceh, pembukaan lahan di hutan lindung meningkat. Hal serupa terjadi di Sumut dan Sumbar. Deforestasi yang bergeser ke kawasan konservasi menjadikan daerah hulu kehilangan fungsi penahan air.
Contoh Krisis Ekologi: Batang Toru hingga DAS Krueng Trumon
Ekosistem Batang Toru di Sumut kehilangan 72.938 hektar hutan sepanjang 2016-2024. Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Trumon di Aceh menyusut dari 53.824 hektar (2026) menjadi 30.568 hektar (2022). Penurunan tutupan hutan menurunkan kemampuan kawasan hulu menyerap air, meningkatkan risiko banjir dan longsor saat hujan ekstrem.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pengurangan tutupan hutan di Batang Toru pada 1990-2024 mencapai 19.000 hektar. Di Aceh penyusutannya 14.000 hektar, dan di Sumbar 10.521 hektar. Menurutnya, bencana ini “tidak semata-mata karena alam”.
Konflik Agraria dan Bencana: Dua Masalah yang Tak Terpisah
Konflik agraria turut memperparah kerusakan ekosistem. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat 32 konflik agraria terjadi di Sumut sepanjang 2024. Sebanyak 11 kasus dipicu operasi perkebunan sawit. Di Sumbar terdapat 12 letusan konflik, 10 di antaranya terkait perkebunan.
Dalam laporan KPA selama 10 tahun terakhir tercatat 3.234 konflik agraria seluas 7,4 juta hektar. Sebanyak 1,733 kasus dipicu perusahaan perkebunan, tambang, dan HTI. Dampaknya dirasakan 1,8 juta keluarga.
Direktur KSPPM Rocky Pasaribu menunjukkan Tapanuli Selatan kehilangan 46.640 hektar hutan alam dalam tiga dekade. Kehilangan terbesar terjadi pada 1990-2000 dengan 26.223 hektar.
Penguasaan lahan skala besar mengurangi tutupan hutan di daerah hulu. Ketika curah hujan ekstrem datang, air tidak lagi terserap sehingga banjir bandang dan longsor menjadi tak terhindarkan.
Jejak Panjang Banjir dan Longsor di Sumatera
Sejarah bencana di Sumatera memperlihatkan pola yang sama: hujan ekstrem, hutan rusak, lalu banjir besar.
Beberapa peristiwa besar:
- Banjir 2000 di Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Sigli.
- Banjir bandang 2003 di Bohorok, Langkat yang menewaskan 100 orang.
- Banjir-longsor 2006 di Mandailing Natal, Langkat, dan Aceh yang menewaskan 58 orang.
- Sepanjang 2021-2023 terjadi 337 banjir dan 104 longsor di Aceh.
Bencana terbaru sejak 25 November 2025 menjadi yang paling mematikan. Hingga 3 Desember 2025, Basarnas mencatat:
- 753 orang meninggal
- 650 orang hilang
- Pengungsi Aceh 449.600 orang
- Pengungsi Sumut 527.300 orang
- Pengungsi Sumbar 137.400 orang
- Ribuan rumah rusak
- 323 fasilitas pendidikan rusak
- 129 tempat ibadah terdampak
- 299 jembatan putus
Pemerintah Akan Panggil Perusahaan yang Diduga Berperan
Dalam rapat kerja dengan DPR, Menteri Hanif menyatakan akan memanggil seluruh pimpinan perusahaan yang terindikasi berkontribusi pada munculnya batang-batang kayu di arus banjir.
“Pada hari Senin (8/12/2025), seluruh pimpinan perusahaan yang terindikasi, berdasarkan kajian citra satelit, berkontribusi menghadirkan log-log pada banjir tersebut akan kami undang untuk proses klarifikasi,” ujarnya.
Setelah itu proses penyelidikan akan dimulai. Pemerintah juga akan mengevaluasi seluruh perizinan di Batang Toru.
Rencana pemerintah meliputi:
- Penguatan pengawasan dan penegakan hukum
- Penyelarasan tata ruang dengan daya dukung DAS
- Pengetatan izin di kawasan kritis
- Rehabilitasi ekosistem
- Integrasi mitigasi iklim dalam penataan ruang
Hanif menyebut mitigasi iklim dan pemulihan lanskap harus diprioritaskan untuk daerah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Upaya Reforestasi dan Pembelajaran dari Negara Lain
Hutan memiliki fungsi penting bagi ekosistem. FAO mencatat deforestasi global mencapai 10 juta hektar per tahun pada 2015-2020. Permintaan kayu mencapai 4 miliar meter kubik per tahun.
Sejumlah negara mulai melakukan inovasi pemulihan hutan.
- China menghijaukan 4,4 juta hektar lahan pada 2024.
- India memperluas tutupan hutan lewat sistem agroforestri.
Indonesia juga menjalankan rehabilitasi lahan seluas 217.974,42 hektar pada 2024. Rehabilitasi hutan di Aceh mencapai 250 hektar, di Sumut 723 hektar, dan di Sumbar 725 hektar. Namun laju pemulihan masih belum mampu mengejar kerusakan.
Siklon Senyar hanya memperlihatkan apa yang selama ini terjadi. Kerusakan hutan di Sumatera bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi akumulasi konflik agraria, lemahnya pengawasan, dan pembukaan lahan yang terus berlangsung.
Data dari Aceh, Sumut, dan Sumbar menunjukkan pola yang sama. Deforestasi meningkat. Tutupan hutan menyusut. Konflik lahan meluas. Banjir dan longsor pun menjadi konsekuensi yang terus berulang.
Tanpa pemulihan ekosistem hutan dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku perusakan, bencana serupa akan datang kembali dengan dampak yang lebih besar.















