Harian Masyarakat | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan curah hujan di banyak wilayah Indonesia akan meningkat dalam tujuh hari ke depan. Peringatan ini disampaikan setelah analisis dinamika atmosfer menunjukkan penguatan pembentukan awan hujan di berbagai pulau besar.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa sejumlah wilayah masih berpeluang diguyur hujan lebat dalam beberapa hari mendatang. Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan dan meminta masyarakat mengandalkan informasi resmi.
“Kami mengajak masyarakat untuk tetap waspada namun tidak perlu panik. Pastikan saluran air berfungsi baik, jaga kebersihan lingkungan, dan pantau pembaruan cuaca melalui InfoBMKG sebelum beraktivitas,” kata Faisal.
Kapan dan Di Mana Hujan Lebat Akan Terjadi
Prediksi hujan BMKG terbagi dua periode utama.
Periode 5–7 Desember 2025
Hujan lebat diperkirakan mengguyur wilayah berikut:
Sumatera:
Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung.
Jawa:
Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur.
Kalimantan:
Kalimantan Barat.
Timur Indonesia:
Maluku Utara, Maluku, Papua Pegunungan, Papua Selatan.
Periode 8–11 Desember 2025
Hujan lebat berpotensi terjadi di:
Sumatera:
Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung.
Jawa:
Jawa Barat, Jawa Timur.
Nusa Tenggara:
Nusa Tenggara Barat.
Kalimantan:
Kalimantan Barat.
Papua:
Papua Pegunungan.
Peluang angin kencang terpantau di beberapa wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara.
Peta Cuaca Detail: 2–8 Desember 2025
BMKG juga merilis Prospek Cuaca Mingguan yang memperlihatkan gambaran lebih rinci.
Periode 2–4 Desember 2025
Hujan Sedang:
Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua.
Hujan Lebat (Status Siaga):
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Pegunungan, Maluku, Papua Selatan.
Angin Kencang:
Sulawesi Utara.
Periode 5–8 Desember 2025
Hujan Sedang:
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Selatan.
Hujan Lebat (Status Siaga):
Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Papua Pegunungan.
Angin Kencang:
Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku Utara.
Apa Penyebab Cuaca Ekstrem Ini
BMKG menjelaskan bahwa peningkatan hujan dipicu kombinasi fenomena atmosfer skala global, regional, dan lokal.
1. Fenomena Global
- DMI bernilai −0.6 yang mendukung pembentukan awan hujan di Indonesia bagian barat.
- La Niña lemah dengan indeks Nino 3.4 sebesar −0.42 dan SOI +13.7 yang meningkatkan potensi hujan di wilayah timur Indonesia.
- Monsun Asia menguat, terbukti dari tingginya nilai WNPMI. Kondisi ini meningkatkan pasokan uap air ke wilayah Indonesia.
- MJO fase 7, yang tidak memberi kontribusi berarti bagi pertumbuhan awan hujan di Indonesia.
2. Fenomena Regional dan Lokal
- Kombinasi Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator aktif di Sumatera bagian selatan, Kalimantan tengah dan selatan, Jawa bagian barat, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
- Bibit Siklon Tropis 93W di timur Filipina memicu peningkatan hujan di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
- Ex-Siklon Tropis KOTO di Laut Cina Selatan tidak memengaruhi cuaca Indonesia karena intensitasnya terus menurun.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menegaskan bahwa rangkaian fenomena ini memicu penguatan awan hujan di berbagai wilayah.
“Bibit Siklon Tropis 93W di timur Filipina turut memberi dampak tidak langsung pada peningkatan hujan di Sulawesi Utara dan Maluku Utara,” ujarnya.
Dampak Cuaca pada Wilayah Bencana di Sumatera
Cuaca menjadi faktor penting dalam penanganan bencana ekologis di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kepala BMKG menjelaskan bahwa hujan di wilayah bencana justru akan dibiarkan turun karena membantu melunakkan tanah keras sehingga proses evakuasi lebih mudah.
Operasi Modifikasi Cuaca di Kualanamu, Sultan Iskandar Muda, dan Bandara Minangkabau sudah berlangsung sejak 27 November 2025 dan disesuaikan dengan kebutuhan penyelamatan.
Data BNPB per 4 Desember 2025 pukul 16.00 WIB memperlihatkan:
- Korban meninggal: 836 jiwa
- Korban hilang: 518 orang
- Korban luka: 2.700 orang
- Rumah rusak: 10.500 unit
- Fasilitas umum rusak: 536
- Fasilitas kesehatan: 25
- Fasilitas pendidikan: 326
- Rumah ibadah: 185
- Jembatan rusak: 295
Operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung.

Imbauan BMKG untuk Masyarakat
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani meminta masyarakat mengambil langkah sederhana saat hujan turun.
“Saat hujan turun, cukup hindari area yang berisiko seperti bawah pohon atau bangunan yang rapuh, tetap waspada saat berkendara, dan pastikan aliran air di lingkungan tidak tersumbat. Sikap waspada tanpa panik sangat membantu,” katanya.
BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi cuaca resmi dapat diakses melalui:
- situs bmkg.go.id
- media sosial @infoBMKG
- aplikasi InfoBMKG















