Harian Masyarakat | Banjir besar akibat siklon dan musim hujan deras melanda Sumatra dan beberapa negara Asia Tenggara. Rumah-rumah hilang, jalan runtuh, dan ribuan keluarga kehilangan orang yang mereka cintai. Di tengah kekacauan itu, ada satu sosok yang berjalan tanpa henti di Palembayan, Sumatra Barat. Namanya Abdul Ghani. Usianya 57 tahun. Pekerjaannya menjual minuman ringan. Dalam beberapa hari terakhir, ia hanya memiliki satu tujuan: menemukan istrinya, Marsoni.
Abdul Ghani dan Marsoni telah hidup bersama selama 25 tahun. Mereka pernah kehilangan anak satu-satunya tujuh tahun lalu. Sejak itu, mereka saling menguatkan. Kini, bencana yang datang tiba-tiba kembali merenggut segalanya dari Ghani.

Hari Ketika Rumahnya Hilang Diseret Arus
Bencana itu datang pada Jumat sore. Hujan turun makin deras saat Abdul Ghani sedang bekerja. Ia bergegas pulang. Sebelum tiba di rumahnya yang berada di dekat sungai, warga memberi kabar mengerikan. Enam rumah terseret banjir, termasuk rumah Abdul Ghani.
Kabar itu membuatnya terpukul. Ia hanya memikirkan satu hal: istrinya.
Ketika tiba di lokasi, ia hanya melihat lumpur, puing, dan suara mesin ekskavator yang mengaduk reruntuhan.
Ia berkata, “Saya pulang dari kerja… semua seperti sungai. Semuanya rata. Saya hancur.”
Sejak itu, ia membawa foto besar istrinya. Ia menunjukkan foto itu kepada siapa pun: tetangga, relawan, tim penyelamat, siapa saja yang ia temui di sepanjang jalan yang dipenuhi lumpur dan puing.

Harapan yang Kian Menipis
Abdul Ghani menyadari kemungkinan pahit. Ia terus berkata dengan suara bergetar, “Dia masih hidup? Saya pikir tidak. Tapi saya berharap mereka menemukan jasadnya, meskipun hanya sepotong tangan.”
Itu bukan kalimat putus asa. Itu adalah permintaan terakhir seorang suami yang ingin memberikan pemakaman layak bagi perempuan yang menemaninya puluhan tahun.
Ia menambahkan, “Saya punya istri, kami saling mencintai. Tidak ada rumah, tidak ada istri. Ke mana saya harus pergi setelah ini?”
Setiap hari ia berjalan menyusuri jalan-jalan rusak, menahan lelah, menahan sedih, berharap ada kabar dari tim penyelamat. Foto istrinya selalu ia pegang erat.
Skala Bencana yang Mengguncang Sumatra
Korban akibat banjir dan longsor terus bertambah.
Data BNPB per 4 Desember 2025 pukul 16.00 WIB memperlihatkan:
- Korban meninggal: 836 jiwa
- Korban hilang: 518 orang
- Korban luka: 2.700 orang
- Rumah rusak: 10.500 unit
- Fasilitas umum rusak: 536
- Fasilitas kesehatan: 25
- Fasilitas pendidikan: 326
- Rumah ibadah: 185
- Jembatan rusak: 295
Operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung.

Musim hujan kali ini disertai siklon dan monsun yang lebih intens. Beberapa aktivis lingkungan menilai ini bukan sekadar bencana alam. Rianda Purba dari Indonesian Environmental Forum mengatakan ini adalah “krisis buatan manusia”, merujuk pada kondisi lingkungan yang semakin rusak.
Penantian Seorang Suami di Tengah Keputusasaan
Relawan terus menggali puing. Ekskavator memindahkan material rumah yang runtuh. Namun, di antara semua itu, bayangan seorang pria yang berjalan memegang foto istrinya menjadi gambaran paling menyayat dari tragedi ini.
Abdul Ghani tahu peluangnya kecil, tetapi ia menolak menyerah. Ia tidak menuntut banyak. Ia hanya ingin satu hal: menemukan istrinya, meskipun hanya bagian tubuhnya, agar ia bisa memakamkannya.
Di tengah bencana besar yang menelan ratusan nyawa dan membuat ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, kisah Abdul Ghani menjelaskan betapa hilangnya satu orang saja sudah cukup untuk menghancurkan seluruh dunia seseorang.
Dan hingga hari ini, ia masih mencari.















