Seorang bocah usia 9 tahun di Sukabumi membuat heboh jagat maya setelah video kebakaran diunggah di akun X viral, Unggahan tersebut disertai tulisan “Terinspirasi Game online, bocah 9 tahun sebar teror bakar 13 rumh warga”
Kini bocah usia 9 tahun tersebut sudah diamankan oleh pihak berwajib pada Sabtu (3/5/2025).
Petugas kepolisian mengatakan bahwa pelaku diduga meniru adegan dalam film atau game yang ditontonnya. Bocah usia 9 tahun ini membakar rumah warga secara acak menggunakan korek api gas selepas waktu shalat.
Bocah tersebut ditangkap oleh petugas ronda pada Sabtu (3/5/2025) malam dan dibawa ke Polsek Citamiang untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Untuk motif ABH (anak berhadapan dengan hukum) melakukan pembakaran menggunakan korek api gas karena iseng dan terobsesi dari tontonan film di televisi. Sekarang bocah bakar rumah itu sudah kembali ke orang tuanya setelah dilakukan musyawarah secara kekeluargaan dilakukan untuk menyelesaikan perkara ini di Polsek Citamiang,” jelas Kasatreskrim Polres Sukabumi Kota, AKP Tatang Mulyana.
Banyak korban merasakan kerugian material hingga mengalami trauma psikologis mendalam atas kejadian ini.
KPAI Menanggapi Kebakaran Yang Disebabkan oleh Bocah Usia 9 Tahun
Pihak KPAI menduga bahwa kasus bocah usia 9 tahun membakar rumah di Sukabumi tersebut bukan disebabkan oleh tontonan film semata.
Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra mengimbau masyarakat untuk tidak percaya begitu saja dengan kabar soal pembakaran rumah yang terinspirasi dari film tersebut.
“KPAI meminta masyarakat jangan percaya begitu saja, soal terinspirasi dari film. Apa yang terjadi dengan bocah 9 tahun tersebut penting didalami agar kita dapat melihat secara utuh yang dialami anak,” jelas Jasra Putra, Jumat (23/5/2025).
Sebab, pihak KPAI menganggap bahwa penyebab perilaku anak tersebut didasari oleh beragam faktor, tidak hanya karena satu alasan tunggal.
“KPAI meyakini penyebab perilaku tersebut tidak tunggal. Ada penyerta, dorongan, yang perlu diungkap,” ujarnya.
Menurut dia, pembakaran rumah tersebut merupakan tanda bahwa kondisi anak perlu didalami agar menemukan akar masalah dan peristiwa tidak kembali terulang.
“Kebakaran di 13 titik itu adalah tanda ada yang perlu didalami dari kondisi anak,” kata Jasra Putra.
“Sebab, jika tidak ditemukan peristiwa yang sesungguhnya, apa yang mendorongnya, bisa saja perbuatan ini terulang kembali, sebab akar masalahnya tidak terungkap,” imbuhnya.
Ia menambahkan, anak seringkali memiliki rasa tidak percaya saat menceritakan apa yang dialaminya, terutama kepada orang-orang terdekat.
Pihak KPAI pun meminta polisi setempat mendalami kasus ini bersama pendamping anak yang berhadapan dengan hukum.















