Harian Masyarakat | Femisida mencatatkan lonjakan global pada 2024. Laporan UNODC dan UN Women menyebut setiap 10 menit ada satu perempuan dewasa atau anak perempuan dibunuh oleh pasangan, mantan pasangan, atau anggota keluarga. Angkanya setara dengan 137 korban per hari.
Sepanjang 2024, sekitar 50.000 perempuan dan anak perempuan tewas karena tindakan sengaja yang bermotif gender. Angka itu mewakili 60 persen dari seluruh pembunuhan terhadap perempuan di dunia. Data ini menegaskan bahwa rumah bukan tempat aman bagi banyak perempuan.
Sara Hendriks dari UN Women menegaskan bahwa femisida biasanya bukan kejadian tunggal. Kekerasan sering berkembang dari kontrol, ancaman, pelecehan, dan penguntitan, termasuk yang dilakukan melalui internet.
Apa Itu Femisida dan Mengapa Terjadi?

Femisida adalah pembunuhan yang dilakukan dengan motivasi gender. Berbeda dengan homicide biasa, kasus ini dipicu bias, stereotip gender, norma sosial yang menyudutkan perempuan, serta relasi kuasa yang timpang.
Pemicunya mencakup:
- Kekerasan pasangan intim
- Pelecehan seksual
- Praktik berbahaya seperti mutilasi genital dan pembunuhan atas nama “kehormatan”
- Kejahatan kebencian terkait orientasi seksual dan identitas gender
- Perdagangan manusia dan kejahatan terorganisasi
- Konflik bersenjata
- Kontrol berbasis teknologi seperti penguntitan online dan doxing
Tiga dari empat korban femisida sebelumnya telah menjadi target penguntitan.
Korban Terbanyak Berada di Lingkaran Terdekat
Pada 2024, sebagian besar korban dibunuh oleh pasangan atau mantan pasangan. Dari Eropa hingga Amerika, pembunuhan pasangan intim menjadi pola menonjol. Di Eropa, 64 persen femisida dilakukan pasangan. Di Amerika, angkanya mencapai 69 persen.
Kasus yang paling ekstrem terjadi di Albania. Data menunjukkan 90 persen korban femisida sebelumnya pernah melaporkan kekerasan. Beberapa dibunuh beberapa hari setelah pelaku dibebaskan dari penjara meski ada perintah perlindungan.
Banyak pelaku menggunakan senjata api, benda tajam, benda tumpul, hingga membunuh dengan kekuatan fisik. Motif umumnya muncul dari kecemburuan, penolakan berpisah, balas dendam atas laporan polisi, atau ketidakmampuan menerima hubungan baru korban.
Laporan juga mencatat setidaknya 35 anak kehilangan ibu akibat femisida pada 2024.
Distribusi Global dan Ketimpangan Risiko
Femisida terjadi di seluruh dunia. Namun risikonya tidak merata.
Tingkat femisida oleh pasangan/keluarga 2024:
- Afrika: 3 per 100.000 (22.600 korban)
- Amerika: 1,5 per 100.000
- Oseania: 1,4 per 100.000
- Asia: 0,7 per 100.000
- Eropa: 0,5 per 100.000
UN Women menyebut angka ini “sangat tinggi”. Namun kenyataan kemungkinan jauh lebih buruk karena sekitar 40 persen kasus tidak tercatat sebagai pembunuhan bermotif gender akibat lemahnya sistem pencatatan kriminal.
Beberapa kelompok menghadapi risiko lebih besar:
- Jurnalis, politisi, aktivis, dan pembela HAM perempuan sering menerima ancaman online
- Pembela lingkungan menghadapi risiko pembunuhan di sedikitnya 81 konflik sosial-lingkungan pada 2022
- Perempuan adat seperti di Kanada mengalami tingkat pembunuhan lima kali lebih tinggi
- Perempuan transgender menjadi target utama, 94 persen dari 321 korban trans dan gender-diverse yang dibunuh pada 2023 adalah perempuan trans
Teknologi dan Senjata Api sebagai Pemicu Baru
Kepemilikan senjata api oleh pelaku kekerasan rumah tangga meningkatkan risiko femisida dan korban ganda hingga 70 persen.
Teknologi memperluas kontrol pelaku. Penguntitan online, pemantauan ponsel, penyebaran identitas tanpa izin, hingga ancaman digital sering terjadi sebelum pembunuhan.
Di Inggris, analisis 41 tinjauan pembunuhan domestik menunjukkan 58,5 persen pelaku memakai teknologi untuk mengendalikan korban sebelum aksi pembunuhan.
Perempuan dengan visibilitas publik, seperti jurnalis dan politisi, mengalami pola kekerasan serupa, baik online maupun offline.

Kisah-Kisah Korban
Rebecca Cheptegei – Kenya
Pelari olimpiade Uganda, 33 tahun, diserang mantan pasangannya, Dickson Ndiema, yang menyiramkan bensin dan membakarnya. Keduanya tewas beberapa hari kemudian akibat luka bakar. Perselisihan tanah menjadi pemicu.
Louise dan Hannah Hunt – Inggris
Louise (25) dan Hannah (28) dibunuh dengan busur panah oleh mantan pasangan Louise, Kyle Clifford. Clifford juga memperkosa Louise dan membunuh ibu mereka, Carol Hunt (61). Clifford divonis tiga hukuman seumur hidup.
Kristina Joksimovic – Swiss
Finalis Miss Switzerland berusia 38 tahun ditemukan tewas di rumahnya. Suaminya mengaku melakukan pembunuhan. Polisi pernah menangani laporan kekerasan sebelumnya.
Lilia Alejandra – Meksiko
Putri Norma Andrade diculik, disiksa, dan dibunuh. Pengalaman itu mendorong Andrade mendirikan organisasi Nuestras Hijas de Regreso a Casa.
“Suatu hari, putri saya, Lilia Alejandra García Andrade, tidak pulang ke rumah. Dia tidak kembali pada hari itu, dan seperti yang saya ketahui kemudian, saya tidak akan pernah melihatnya lagi,” kata Andrade.
Upaya Internasional dan Kegagalan Banyak Negara
Laporan PBB menegaskan bahwa femisida dapat dicegah melalui:
- Intervensi dini
- Penegakan hukum yang responsif gender
- Perlindungan korban
- Dukungan bagi organisasi perempuan
- Pengumpulan data yang komprehensif
Namun banyak negara belum siap menghadapi realitas ini. Kapasitas polisi sering bias, perintah perlindungan tidak ditegakkan, dan layanan pendukung korban terbatas.
Contoh nyata datang dari Aotearoa Selandia Baru. Komite Family Violence Death Review menganalisis 320 kematian akibat kekerasan keluarga (2009–2020). Hasilnya menunjukkan kegagalan sistemik, termasuk bias terhadap perempuan, anak, penyandang disabilitas, dan komunitas Māori. Rekomendasi mereka menekankan intervensi berbasis keluarga dan pendekatan yang lebih menghormati budaya.
Italia Masukkan Femisida ke KUHP
Italia menjadi negara Uni Eropa keempat yang mengakui femisida sebagai kejahatan khusus. Parlemen meloloskan aturan yang mempidanakan pembunuhan bermotif misogini dengan hukuman penjara seumur hidup.
Aturan ini diberlakukan setelah kematian Giulia Cecchettin, mahasiswa 22 tahun yang dibunuh mantan pacarnya pada 2023. Kasus itu memicu protes nasional.
Definisi femisida di Italia mencakup pembunuhan sebagai ekspresi kebencian, dominasi, kontrol, atau tindakan membatasi kebebasan perempuan, termasuk saat perempuan ingin mengakhiri hubungan.
Namun kelompok perempuan seperti D.i.Re menilai aturan baru tidak cukup tanpa:
- Pendidikan soal kesetaraan gender
- Pelatihan aparat penegak hukum
- Pendanaan layanan pendukung korban
Menurut akademisi Valeria Torre, mengandalkan hukuman penjara tidak cukup. Akar persoalan ada pada ketimpangan akses ekonomi dan ketidaksetaraan pasar kerja.

Mengapa Femisida Terus Terjadi?
Beberapa faktor yang mendorong peningkatan femisida:
- Ketimpangan gender yang mengakar
- Norma sosial yang menormalisasi kekerasan
- Lemahnya akuntabilitas hukum
- Minimnya layanan yang melindungi korban
- Kekerasan dalam konflik bersenjata
- Tekanan ekonomi dan krisis sosial
- Ekspansi kekerasan digital
Femisida sering menjadi puncak kekerasan yang berlangsung lama.
Apa yang Harus Dilakukan?
Menurut PBB, langkah prioritas yang harus diambil negara meliputi:
- Menindak pelaku tanpa impunitas
- Mengadopsi rencana aksi nasional untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan
- Mendanai organisasi perempuan
- Memperkuat pendampingan korban
- Meningkatkan pengumpulan data yang detail
Femisida adalah krisis global yang menelan puluhan ribu nyawa perempuan setiap tahun. Polanya konsisten: pelaku umumnya orang terdekat. Motifnya terikat pada misogini, penguasaan, dan kontrol. Senjata api, teknologi, dan kegagalan sistem hukum memperburuk situasi.
Di balik angka-angka itu ada kehidupan yang diputus secara brutal. Dunia memiliki data, bukti, dan seruan untuk bertindak. Namun tanpa perubahan sistemik, femisida akan terus menghancurkan keluarga, komunitas, dan masa depan perempuan di seluruh dunia.















