Harian Masyarakat | Pemandangan kakek atau nenek asyik menatap layar ponsel kini bukan hal aneh. Mereka bisa menghabiskan berjam-jam di depan gawai, menonton video pendek, bermain gim, atau sekadar membaca pesan di WhatsApp. Fenomena ini menandai perubahan besar dalam perilaku warga lansia di era digital.
Klinik Nasional untuk Gangguan Gim di Inggris mencatat peningkatan pasien berusia di atas 40 tahun sejak dibuka pada 2019. Dari 67 pasien yang dirawat karena kecanduan gim, pasien tertua berusia 72 tahun. Klinik ini sebelumnya dikenal menangani remaja, namun kini justru banyak didatangi kalangan lansia.
Ipsit Vahia, Kepala Laboratorium Teknologi dan Penuaan di Rumah Sakit McLean, Universitas Harvard, menyebut, “Banyak orang tua yang kini hidupnya nyaris sepenuhnya melalui ponsel, sama seperti remaja.” Kebiasaan digital yang dulu melekat pada generasi muda kini merambah usia lanjut.
Dari TV ke Smartphone: Pergeseran Perilaku Layar

Sebelum era ponsel pintar, warga lansia dikenal sebagai penonton televisi paling setia. Mereka bisa duduk berjam-jam di depan TV, terutama karena faktor waktu luang dan keterbatasan mobilitas. Di Inggris, warga berusia di atas 75 tahun menonton TV rata-rata 5,5 jam per hari, sementara di Amerika Serikat bisa mencapai 7 jam.
Namun setelah mengenal ponsel pintar, waktu layar mereka meningkat lebih jauh. Data Pew Research Center menunjukkan warga AS berusia di atas 65 tahun menghabiskan hampir 10 jam sehari untuk mengonsumsi media di TV, komputer, dan ponsel. Kini, 17 persen dari mereka bahkan memiliki jam tangan pintar, dan hampir seperlima pengguna berusia 55–64 tahun memiliki konsol gim.
Di Korea Selatan, studi pada 2022 menemukan 15 persen warga berusia 60–69 tahun berisiko kecanduan ponsel. Di Jepang, waktu layar dikaitkan dengan penurunan aktivitas fisik, sementara di China, lansia dengan waktu layar tinggi mengalami kualitas tidur yang lebih buruk.
Risiko Nyata di Balik Layar
Berbeda dari remaja, ponsel para lansia sering terhubung dengan rekening bank, membuat mereka rentan terhadap penipuan digital dan transaksi mikro dalam gim. “Transaksi loot box bisa menguras dompet,” kata Henrietta Bowden-Jones, pengelola klinik kecanduan gim Inggris. Di banyak negara berkembang, WhatsApp menjadi aplikasi utama bagi lansia untuk komunikasi dan belanja, namun juga menjadi sasaran empuk bagi penipu.
Masalah lain yang muncul adalah kurangnya kontrol sosial. Tidak ada guru atau orang tua yang membatasi waktu layar mereka. Lansia menjadi bos bagi dirinya sendiri. Akibatnya, sebagian mengalami insomnia, kecemasan, dan stres karena terlalu lama berselancar atau membaca berita menyesatkan di media sosial.
Penelitian Hunt Allcott dari Universitas Stanford menunjukkan, berhenti dari Facebook dapat memperbaiki kesehatan mental pengguna di semua usia, dengan dampak positif dua kali lebih besar pada kelompok usia tua.

Antara Kecanduan dan Manfaat
Meski ada risiko, tidak semua efek penggunaan gawai pada lansia bersifat negatif. Bagi banyak orang tua, ponsel justru menjadi jembatan sosial yang menghapus kesepian. Aplikasi seperti WhatsApp dan Zoom membantu mereka tetap terhubung dengan keluarga dan teman, bahkan untuk berkonsultasi dengan dokter tanpa harus keluar rumah.
Platform seperti Spotify dan YouTube juga menjadi “mesin nostalgia”, menghidupkan kembali lagu dan video masa muda mereka. Ada pula bukti ilmiah yang menunjukkan manfaat kognitif. Meta-analisis terhadap 400.000 lansia pada 2025 menemukan bahwa pengguna perangkat digital di atas usia 50 tahun memiliki tingkat penurunan fungsi otak yang lebih lambat dibanding mereka yang jarang menggunakan gawai.
Lansia juga umumnya sudah memiliki kehidupan sosial dan kebiasaan yang stabil. Ini membuat mereka lebih kebal terhadap pengaruh buruk media sosial dibanding remaja. Namun, tanpa kontrol, kecanduan tetap bisa menggerus waktu produktif dan memperburuk kesehatan mental.
Fenomena “Demensia Digital”
Istilah “digital dementia” diperkenalkan oleh ahli saraf Jerman, Manfred Spitzer, pada 2012. Istilah ini menggambarkan penurunan fungsi otak akibat penggunaan teknologi berlebihan. Meski bukan diagnosis medis resmi, sejumlah penelitian menemukan hubungan antara waktu layar berlebih dengan gangguan memori, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan.
Penelitian pada 2023 menunjukkan, lebih dari empat jam waktu layar per hari berkorelasi dengan peningkatan risiko demensia vaskular dan Alzheimer. Aktivitas pasif seperti menonton TV juga meningkatkan risiko, sementara aktivitas digital yang menstimulasi otak seperti menulis atau membaca di komputer justru menurunkan risiko.
Gejala yang sering muncul antara lain gangguan memori jangka pendek, sulit fokus, mudah lupa, dan kesulitan multitasking. Pada lansia, hal ini bisa memperburuk kondisi mental yang sudah rapuh akibat penuaan alami.

Pandemi dan Lonjakan Penggunaan Gawai
Lonjakan kecanduan gawai pada lansia juga dipicu oleh pandemi COVID-19. Saat pembatasan sosial diberlakukan, gawai menjadi satu-satunya sarana untuk tetap terhubung dengan dunia luar. Bagi sebagian orang, ini membantu mengatasi kesepian, namun bagi yang lain justru memicu kecanduan baru.
Data dari Kanada menunjukkan, antara 2020–2022, penggunaan ponsel di kalangan warga berusia 65–74 tahun meningkat dari 59 persen menjadi 68 persen. Lebih dari 22 persen lansia mengaku ponsel adalah hal pertama yang mereka periksa setelah bangun tidur.
Cara Mengendalikan Kecanduan Gawai
Ahli perilaku Jay Olson dari Universitas Toronto menyebut, “Semakin sering seseorang menggunakan ponsel, semakin besar kecenderungan mereka meremehkan lamanya waktu yang dihabiskan di depan layar.” Ia menyarankan beberapa langkah praktis untuk menguranginya:
- Simpan ponsel di ruangan berbeda saat tidur.
- Matikan notifikasi yang tidak penting.
- Ubah tampilan layar menjadi hitam putih agar kurang menarik.
- Buat jadwal waktu layar yang jelas setiap hari.
- Isi waktu luang dengan aktivitas non-digital seperti membaca, berkebun, menulis, atau olahraga ringan.

Untuk warga lansia, aktivitas sederhana seperti teka-teki silang, mendengarkan musik, atau berjalan di taman bisa menjadi pengganti waktu layar. Kegiatan ini menjaga fungsi otak sekaligus menyehatkan tubuh.
Antara Kenyamanan dan Ketergantungan
Fenomena lansia yang kecanduan gawai menandai era baru penuaan digital. Di satu sisi, teknologi memberi kenyamanan, akses informasi, dan kedekatan sosial. Namun di sisi lain, ia menciptakan ketergantungan baru yang perlahan memengaruhi kesehatan mental dan kognitif.
Seperti remaja, warga lanjut usia kini juga perlu diajarkan cara sehat menggunakan teknologi. Bukan untuk melarang, tapi untuk mengembalikan kendali atas waktu, perhatian, dan keseimbangan hidup.
Bagi generasi yang tumbuh tanpa internet, kini hidup di dunia digital memang menantang. Namun dengan kesadaran dan pengendalian, gawai bisa menjadi alat bantu, bukan jebakan yang menguras waktu dan ketenangan di masa tua.















