spot_img

Bukan Manusia, Tapi Masuk Billboard: Fenomena Penyanyi AI Xania Monet dari AS

Harian Masyarakat – Teknologi kecerdasan buatan kembali mencetak sejarah. Amerika Serikat resmi melahirkan penyanyi digital pertama yang berhasil masuk tangga lagu Billboard. Namanya Xania Monet, artis virtual bergenre R&B yang seluruh lagu dan suaranya diciptakan menggunakan teknologi AI.

Xania bukan manusia, tapi hasil karya Telisha “Nikki” Jones, penulis lagu asal Mississippi. Ia menggunakan platform musik berbasis AI bernama Suno, yang kini populer di kalangan kreator musik independen. Dalam waktu singkat, proyek ini menjadi fenomena global yang mengguncang dunia hiburan.

Dari Eksperimen Jadi Sensasi Global

Telisha Jones awalnya hanya ingin memadukan kecintaannya pada musik dan teknologi. Ia menciptakan karakter Xania dengan suara hangat dan nuansa gospel yang kuat. Lagu-lagunya seperti “How Was I Supposed to Know” lahir dari pengalaman emosional manusia yang kemudian diterjemahkan oleh AI ke dalam bentuk musik digital.

Lagu tersebut pertama kali viral di TikTok sebelum akhirnya menembus Billboard R&B Digital Song Sales Chart dan Adult R&B Airplay Chart, bahkan masuk posisi ke-30. Lagu lainnya, “Let Go Let God,” juga masuk kategori Hot Gospel Songs, menandai era baru di mana musik AI mampu bersaing di ranah profesional.

“Xania Monet adalah artis AI pertama yang cukup sering diputar di radio hingga memenuhi syarat masuk ke Billboard radio chart,” tulis Billboard dalam laporannya.

Karier Kilat dan Kontrak Rp48 Miliar

Xania Monet

Sejak debut empat bulan lalu, Xania Monet telah merilis 44 lagu di Spotify, mengumpulkan lebih dari 1,2 juta pendengar dan 800 ribu pengikut di media sosial. Popularitasnya menarik perhatian label besar Hallwood Media, yang menandatangani kontrak kerja sama senilai USD 3 juta (sekitar Rp48 miliar).

“AI kami jadikan alat untuk meningkatkan seni kami,” ujar Romel Murphy, manajer Xania Monet, kepada CNN. Ia menegaskan, proyek ini bukan untuk menggantikan manusia, melainkan memperluas cara baru menciptakan musik.

Jones menambahkan, “Saya hanya mengambil apa yang saya sukai dan memadukannya dengan teknologi. Saya merasa AI adalah instrumen baru yang bisa digunakan seniman untuk berekspresi.”

Antara Kreativitas dan Kekhawatiran

Meski sukses besar, kehadiran Xania memunculkan perdebatan di kalangan musisi. Banyak seniman menilai AI bisa mengancam posisi manusia di industri musik. Salah satu musisi R&B, Kehlani, mengkritik keras fenomena ini.
“Ada artis R&B berbasis AI yang menandatangani kontrak jutaan dolar. Padahal orangnya tidak melakukan pekerjaan apa pun. Tak ada hal di dunia ini yang bisa membenarkan AI bagiku,” ujarnya lewat siaran langsung di TikTok.

Namun Romel Murphy menanggapi, “AI tidak menggantikan artis. Itu bukan tujuan kami. Ini hanyalah frontier baru dalam musik. Sebagian orang akan terbuka, sebagian lagi menolak.”

Xania Monet

Pengamat musik Ethan Kaplan menyebut keberhasilan Xania sebagai momen penting dalam sejarah musik dunia. “Kita baru memasuki babak awal dari hubungan antara kreativitas manusia dan algoritma. Jika Xania Monet bisa diterima di Billboard, itu artinya publik tak lagi memandang siapa yang menyanyi, tapi bagaimana musik itu membuat mereka merasa,” ujarnya kepada Rolling Stone.

Dalam empat bulan, Xania sudah menembus batas antara manusia dan mesin. Ia bukan hanya simbol kecanggihan teknologi, tapi juga gambaran perubahan besar dalam cara dunia mendefinisikan seni dan kreativitas.

Bagi Telisha Jones, Xania Monet hanyalah awal. “AI hanyalah alat bantu,” katanya. “Seniman manusialah yang tetap menjadi jiwa di balik setiap karya.”

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related news