Harian Masyarakat – Insiden gangguan global kembali membuka perdebatan soal kerentanan internet dunia. Layanan ini sempat berhenti bekerja sekitar pukul 13.40 WIB dan mulai pulih menjelang 14.15 WIB. Gangguan Cloudflare pada 18 November 2025 menjelaskan bahwa masalah muncul akibat perubahan izin internal pada sistem basis data yang memicu kesalahan pada sistem Manajemen Bot. Perusahaan menegaskan tidak ada serangan siber.
Gangguan tersebut menunjukkan betapa besar peran Cloudflare dalam ekosistem internet. Profesor ilmu komputer dari Brown University, Timothy Edgar, mengatakan Cloudflare menangani sekitar 20 persen traffic internet dunia. Ia menyebut kejadian ini sebagai peringatan bahwa satu gangguan saja mampu berdampak global.
Pada tahun yang sama, beberapa penyedia besar sudah lebih dulu mengalami gangguan. Amazon Web Services dan Microsoft pernah tumbang. Pada 2024, jatuhnya sistem CrowdStrike melumpuhkan layanan publik di sejumlah negara. Akumulasi kejadian ini membuat masyarakat kembali membahas kemungkinan “kiamat internet”.
Asal Mula Kekhawatiran Kiamat Internet
Istilah kiamat internet merujuk pada skenario ketika badai matahari atau peristiwa antariksa lain merusak infrastruktur internet dalam skala luas. Mengutip India Times, konsep ini muncul karena risiko gangguan elektromagnetik yang dapat menghantam kabel lalu lintas data global.
Studi Universitas California Berkeley pada 2021 menemukan bahwa badai matahari besar dapat merusak kabel bawah laut yang membawa data antar benua. Kabel jenis ini dianggap paling rentan karena aliran elektromagnetik dapat mengganggu perangkat elektronik yang menopangnya. Jika rusak di banyak titik, internet bisa terputus berbulan-bulan. Masyarakat tidak dapat mengakses media sosial, layanan keuangan, maupun platform digital yang menjadi bagian aktivitas sehari-hari. Ekonomi global ikut berhenti.
NASA menyebut badai matahari tidak membahayakan manusia, tetapi dapat mengganggu perangkat elektronik. Pada 2011, badai matahari mengacaukan komunikasi radio di wilayah selatan Tiongkok. Fenomena serupa pernah terjadi pada 1859 melalui Carrington Event yang menimbulkan aurora di berbagai wilayah dunia.
Kesadaran Publik yang Meningkat Setelah Cloudflare Terganggu
Isu kiamat internet kembali ramai setelah insiden Cloudflare membuat sejumlah situs dan aplikasi tidak bisa diakses. Pada 2024, unggahan yang mengklaim NASA meramalkan kiamat internet pada 2025 tersebar di media sosial. Pemerintah melalui Komdigi menegaskan informasi itu tidak benar.
Walaupun gangguan Cloudflare tidak berkaitan dengan badai matahari, kejadian ini memperlihatkan betapa dunia sangat bergantung pada satu penyedia layanan. Ketika satu titik gagal, efeknya menyebar luas.
Ancaman Pemblokiran Cloudflare dan Kekhawatiran Baru
Di Indonesia, isu kerentanan internet semakin besar setelah muncul kabar bahwa Cloudflare terancam sanksi dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Alasannya, perusahaan belum memenuhi kewajiban administratif sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik untuk Lingkup Privat. Cloudflare juga dianggap sering digunakan situs judi online untuk menyembunyikan server asli.
Afif Hidayatullah, Threat Consultant di ITSEC Asia, menyebut pemblokiran Cloudflare dapat berujung “bencana nasional” karena skala layanan yang akan terdampak. Ia menilai akar masalah ada pada situs judi, bukan pada infrastruktur yang dipakai pelaku. Menurutnya, pemblokiran Cloudflare sama seperti menutup seluruh jalan tol karena satu mobil digunakan untuk kejahatan.
Peran Cloudflare dalam Infrastruktur Internet Indonesia
Cloudflare mengoperasikan ribuan server di seluruh dunia. Ketika seseorang membuka website yang memakai layanan mereka, datanya akan diambil dari server terdekat untuk mempercepat akses. Teknologi ini disebut Content Delivery Network atau CDN. Namun peran Cloudflare jauh melampaui CDN.
Afif menjelaskan layanan Cloudflare meliputi perlindungan DDoS skala besar, firewall aplikasi web, DNS berkecepatan tinggi, reverse proxy, mitigasi bot, hingga optimasi trafik global. Banyak pemerintah, bank, kampus, dan perusahaan besar menggunakannya. Afif menilai sangat mungkin ada layanan pemerintah Indonesia yang juga bergantung pada Cloudflare.
Karena itu, pemblokiran terhadap penyedia sebesar Cloudflare tidak bisa disamakan dengan pemblokiran satu domain. Dampaknya dapat meluas ke ribuan situs legal dan memperburuk stabilitas internet nasional.
Gangguan yang menimpa Cloudflare memperlihatkan betapa rapuhnya infrastruktur internet dunia. Di saat yang sama, wacana pemblokiran Cloudflare menambah kekhawatiran bagi masyarakat Indonesia. Ketergantungan global pada internet, risiko gangguan global dari luar angkasa, serta ancaman gangguan teknis internal menjadikan stabilitas internet sebagai isu strategis yang terus membutuhkan perhatian serius.















