Harian Masyarakat | Gempa bumi bermagnitudo 6,3 mengguncang Afghanistan utara pada Senin dini hari waktu setempat. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat pusat getaran berada di dekat Kota Khulm, sekitar 22 kilometer barat daya Mazar-i-Sharif, dengan kedalaman 28 kilometer. Getaran kuat terasa hingga Kabul dan sejumlah provinsi lain di utara.
Guncangan Keras di Tengah Malam
Gempa terjadi sekitar pukul 00.59 waktu setempat. Warga Mazar-i-Sharif, kota berpenduduk lebih dari 500.000 jiwa, terbangun panik dan berlarian ke jalan karena takut rumah mereka roboh. Beberapa rumah retak dan jendela pecah. “Saya belum pernah mengalami guncangan sekuat ini seumur hidup saya,” kata Rahima, mantan guru sekolah di Mazar-i-Sharif, kepada CNN. Ia segera membawa anak-anaknya keluar rumah saat getaran terasa. “Untung rumah saya dari beton. Tapi saya khawatir dengan rumah-rumah lumpur di pinggiran kota,” ujarnya.
Menurut laporan awal dari Dinas Kesehatan Provinsi Samangan, sedikitnya tujuh orang tewas dan sekitar 150 lainnya terluka. “Sebagian besar korban luka sudah dirawat di pusat kesehatan sejak pagi,” kata juru bicara dinas tersebut, Samim Joyanda. Ia memperkirakan jumlah korban bisa bertambah karena proses pencarian masih berlangsung.

Kerusakan di Mazar-i-Sharif dan Sekitarnya
Haji Zaid, juru bicara pemerintah Taliban di Provinsi Balkh, melaporkan empat korban tewas di Distrik Sholgara. “Banyak yang terluka dan sejumlah bangunan mengalami kerusakan,” tulisnya di platform X. Ia juga membagikan video reruntuhan dan puing di sekitar Masjid Biru (Blue Mosque), landmark terkenal di Mazar-i-Sharif. Sebagian kompleks suci itu dilaporkan rusak akibat guncangan.
Getaran berlangsung hampir 20 detik dan menyebabkan longsor di jalan raya Samangan–Balkh, salah satu jalur transportasi utama di utara Afghanistan. Video yang beredar memperlihatkan batu besar menutupi jalan dan sebuah truk terbakar akibat tertimpa material longsoran.
Potensi Korban dan Kerugian Besar
USGS menetapkan status “kode oranye”, artinya gempa ini berpotensi menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi besar yang memerlukan respons nasional. “Korban signifikan kemungkinan besar akan terjadi dan bencana berpotensi meluas,” sebut sistem peringatan USGS PAGER.
Badan Penanggulangan Bencana Afghanistan menyatakan masih mengumpulkan laporan terkait kerusakan dan korban. Tim penyelamat dari berbagai provinsi dikerahkan ke lokasi terdampak. Pemerintah setempat juga membuka nomor darurat untuk laporan bantuan dan korban hilang.

Afghanistan Rawan Gempa
Afghanistan terletak di atas pertemuan lempeng tektonik India dan Eurasia, menjadikannya salah satu wilayah paling rawan di Asia Tengah. Menurut seismolog dari British Geological Survey, Brian Baptie, sejak tahun 1900, bagian timur laut negara itu sudah diguncang 12 gempa bermagnitudo di atas 7,0. Daerah pegunungan Hindu Kush menjadi episentrum utama aktivitas seismik di negara tersebut.
Gempa besar seperti ini bukan yang pertama dalam beberapa bulan terakhir. Pada Agustus 2025, getaran bermagnitudo 6,0 menewaskan lebih dari 2.200 orang. Sementara pada 2023, guncangan di Herat menewaskan 1.500 orang dan menghancurkan lebih dari 63.000 rumah. Sebagian besar korban meninggal karena rumah-rumah di Afghanistan dibangun dengan bahan sederhana seperti lumpur dan kayu, yang mudah roboh.
Krisis Bertumpuk di Negara yang Rapuh

Bencana ini menambah penderitaan panjang rakyat Afghanistan yang tengah berjuang keluar dari berbagai krisis. Negara itu menghadapi kemiskinan ekstrem, kekeringan parah, dan ketegangan sosial akibat pemulangan jutaan warga dari Pakistan dan Iran. Setelah puluhan tahun perang, infrastruktur publik nyaris lumpuh dan kapasitas tanggap darurat sangat terbatas.
Para ahli menilai, minimnya kesiapan pemerintah dalam menghadapi bencana alam akan membuat dampak sosial ekonomi semakin berat. Banyak daerah terpencil tidak memiliki peralatan penyelamatan, akses jalan yang layak, atau tenaga medis yang cukup.
Catatan Sejarah dan Tantangan Ke Depan
Afghanistan telah berkali-kali diguncang getaran mematikan dalam dua dekade terakhir. Data USGS menunjukkan, guncangan bermagnitudo 6,3 yang terjadi kali ini termasuk yang paling kuat di wilayah utara dalam beberapa tahun terakhir. Jika kerusakan di Mazar-i-Sharif dan Samangan meluas, jumlah korban bisa bertambah signifikan.
Pemerintah Taliban kini dihadapkan pada ujian besar. Selain harus mengoordinasikan bantuan dan pencarian korban, mereka juga dituntut memperbaiki sistem peringatan dini dan memperkuat infrastruktur di wilayah rawan. Tanpa langkah cepat dan koordinasi yang efektif, gempa akan terus menelan korban di setiap perulangannya.















