Harian Masyarakat | Polyworking berubah dari istilah asing menjadi kenyataan sehari-hari bagi jutaan anak muda. Kamu melihatnya lewat teman yang bekerja kantoran sambil mengajar les. Atau saudara yang mengelola dua pekerjaan penuh waktu sekaligus. Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari perubahan besar di ekonomi global, pasar tenaga kerja, dan cara hidup generasi muda setelah pandemi.
Konstelasi Ekonomi Dunia yang Mendorong Banyak Orang “Menggandakan” Pekerjaan
Ekonomi global berada dalam fase perlambatan. Lembaga internasional memangkas proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2025. Bank Dunia menurunkan proyeksinya menjadi 2,3 persen. IMF bertahan di angka 3,3 persen. Kondisi ini memicu penundaan ekspansi, perekrutan baru, hingga meningkatnya tekanan di pasar tenaga kerja.
Di Amerika Serikat, pembukaan pekerjaan turun ke 7,18 juta pada Juli 2025. Angka ini jadi posisi terendah dalam sepuluh bulan. Penambahan pekerjaan non-farm hanya 22.000. Tingkat pengangguran mencapai 4,3 persen. Untuk usia 16 sampai 24 tahun, angkanya jauh lebih tinggi, 10,8 persen.
Di Indonesia, situasinya juga berat. BPS mencatat ada 7,2 juta penganggur pada Februari 2025 atau 4,76 persen. Yang paling mencolok, 48,77 persen dari total pengangguran adalah mereka yang berusia 15 sampai 24 tahun. Artinya, hampir separuh penganggur Indonesia berasal dari kelompok Gen Z.
Tekanan ekonomi ini membuat banyak anak muda harus mencari strategi bertahan. Polyworking dan side hustle muncul sebagai jawaban.
Ledakan Polyworking di Berbagai Negara
Di AS, studi Academized menemukan 52 persen milenial menjalankan lebih dari satu pekerjaan. Rinciannya 43 persen mengelola dua pekerjaan. Lalu 24 persen memegang tiga pekerjaan. Sisanya, 33 persen menjalankan empat pekerjaan atau lebih. Data BLS mencatat 8,4 juta warga AS memiliki lebih dari satu pekerjaan pada 2024. Peningkatan terbesar ada pada kelompok usia 16 sampai 24 tahun.
Kanada mencatat 5,6 persen penduduknya menjalankan multipekerjaan. Sebagian besar dari kelompok usia 15 sampai 24 tahun. Jajak pendapat Capital One menunjukkan 36 persen Gen Z Kanada punya pekerjaan sampingan. Sebanyak 45 persen mempertimbangkan mengambil side job. Lebih dari 70 persen melakukannya karena pendapatan utama tidak mencukupi kebutuhan hidup.
Di Singapura, cerita serupa muncul lewat Germaine, 25 tahun. Ia bekerja penuh waktu di dua perusahaan secara daring sambil menyiapkan biaya kuliah. “Bekerja di dua tempat membantu saya melakukannya,” ujarnya dalam wawancara dengan The Strait Times.
Fenomena serupa muncul global. ADP Research menemukan 18 persen masyarakat dunia memiliki dua pekerjaan. Lima persen memiliki tiga pekerjaan atau lebih. Banyak dari mereka hidup dalam kondisi paycheck to paycheck. Negara seperti Mesir, Arab Saudi, dan Filipina mencatat persentase tertinggi. Indonesia berada di angka 54 persen.
Data WageIndicator.org menunjukkan banyak negara menghadapi gap besar antara gaji dan biaya hidup. Indonesia termasuk di antaranya. Kondisi ini memicu banyak orang mengambil pekerjaan tambahan demi menutup kekurangan pendapatan.
Bagaimana kondisi Indonesia
Belum ada statistik resmi mengenai polyworking di kalangan muda. Namun BPS mencatat 15,45 persen pekerja Indonesia memiliki pekerjaan tambahan pada 2024. Angka ini terus naik sejak 2021. Survei Kemenhub 2022 menemukan 18,69 persen pekerja menjadikan ojek online sebagai sampingan. Sebagian besar berasal dari BUMN atau swasta, wiraswasta, dan PNS.
Survei IDEAS dan Dompet Dhuafa pada 2024 menunjukkan 55,8 persen guru punya pekerjaan sampingan. Pekerjaan yang dominan adalah les privat, berdagang, dan bertani.
Mengapa Gen Z Melakukannya
Ada lima alasan utama yang muncul dari berbagai studi dan kesaksian.
- Kebutuhan ekonomi
Satu pekerjaan tidak lagi cukup. Biaya hidup naik cepat, upah stagnan. Banyak anak muda kesulitan menabung dan membangun dana darurat. - Stabilitas karier yang rapuh
Konsultan karier Lynn Berger mengatakan tidak ada lagi pekerjaan yang benar-benar aman. Pemutusan hubungan kerja bisa terjadi bahkan di sektor yang dianggap stabil. - Kemunculan tekanan pasca pandemi
Generasi Z memasuki dunia kerja dalam periode yang tidak stabil. Mereka tidak sempat merasakan masa kerja yang mapan. Mereka segera menghadapi gelombang PHK, pergeseran model kerja, dan perubahan ekonomi. - Teknologi memberi akses ke banyak pekerjaan
Internet, remote work, dan platform digital membuat pekerjaan lintas bidang lebih mudah diakses. - Keinginan eksplorasi
Banyak Gen Z menginginkan pengalaman yang beragam. Mereka ingin merasakan berbagai peran profesional. Mereka ingin mengembangkan skill. Gianluca Russo, pekerja Gen Z dari AS, mengatakan, “Kebebasan finansial yang diberikan oleh banyak pekerjaan kepada saya sungguh luar biasa.” Ia memegang profesi sebagai staf komunikasi LinkedIn, pelatih sepeda, koreografer, penulis lepas, dan pengarang.
Jenis Pekerjaan yang Banyak Dipilih
Di AS, banyak polyworker menjadi penulis kreatif, pedagang online, sopir pengiriman, asisten virtual, hingga penyewa mobil atau rumah. Data ini muncul dari analisis Google Trends terhadap 100.000 pengguna.
Di Indonesia, pekerjaan fleksibel seperti les privat, berdagang, mengemudi ojek online, dan bisnis daring paling banyak dipilih. Polanya serupa. Anak muda menggabungkan pekerjaan kantor dengan pekerjaan digital atau profesi fleksibel.
Polyworking juga berkembang cepat di dunia kreatif, teknologi, desain, dan pendidikan. Banyak profesi ini bisa dijalankan secara remote dan memiliki manajemen waktu yang lentur.
Dampak Positif
Polyworking menawarkan beberapa keuntungan.
- Pendapatan yang lebih aman
Diversifikasi sumber pendapatan membuat anak muda tidak terlalu bergantung pada satu perusahaan. - Jaringan kerja lebih luas
Mereka bertemu lebih banyak orang dari berbagai bidang. - Kesempatan berkembang
Mereka belajar banyak keterampilan secara paralel. - Kepuasan personal
Mereka bisa menjalankan passion dan kebutuhan ekonomi sekaligus.
Dampak Negatif
Polyworking juga punya risiko yang harus dipahami.
- Risiko burnout
Psikiater Dave Rabin mengingatkan bahwa kelelahan berat bisa membuat seseorang tidak dapat bekerja sama sekali untuk sementara waktu. - Hubungan pribadi terganggu
Studi Academized menunjukkan 26 persen polyworker mengalami masalah pada hubungan pribadi. - Kehilangan waktu untuk diri sendiri
Hobi, waktu istirahat, dan ruang personal menyempit. - Konflik kepentingan
Pekerjaan yang saling bersinggungan bisa menimbulkan risiko pelanggaran kontrak atau etika kerja.
Perubahan Makna Karier di Era Baru
Polyworking bukan sekadar tren singkat. Ia mencerminkan perubahan mendalam cara generasi muda memandang masa depan kerja. Karier tidak lagi linear. Banyak orang memilih membangun portofolio skill yang luas. Mereka merancang karier sebagai kumpulan peran, bukan satu jalur tunggal.
Ketika Biaya Hidup Lebih Tinggi dari Gaji
Di Indonesia, rata-rata gaji pekerja pada Februari 2025 adalah 3,09 juta rupiah. Banyak yang menilai angka ini belum layak untuk memenuhi biaya hidup di kota besar. Perbedaan antara gaji dan kebutuhan hidup inilah yang membuat polyworking semakin meluas.
Fenomena ini mengirim alarm bagi pemerintah. Ada tiga isu yang perlu ditangani.
- Kesenjangan upah dan biaya hidup yang makin besar
Subsidi sektor esensial bisa membantu menutup ketimpangan. - Ketidaksesuaian kompetensi dan kebutuhan industri
Perlu pemetaan kompetensi nasional yang terintegrasi dengan pasar kerja dan pendidikan tinggi. - Akses terhadap pelatihan
Skema reskilling dan upskilling harus diperluas untuk menutup kekosongan kompetensi.
Generasi Z Membentuk Ulang Dunia Kerja
Polyworking muncul dari dorongan bertahan hidup dan sekaligus mengejar mimpi. Ini gambaran anak muda yang menghadapi realitas ekonomi yang keras, tetapi tetap mencari cara untuk berkembang. Mereka membangun masa depan dengan mengambil banyak peran sekaligus.
Bagi sebagian orang, polyworking adalah jalan menuju stabilitas finansial. Bagi yang lain, ini adalah cara untuk meraih kebebasan. Bagi dunia kerja, ini pertanda perubahan besar yang tidak akan berhenti dalam waktu dekat.















