spot_img

IHSG Naik di Tengah Rupiah Ambruk, Investor Wajib Waspada atau Optimis?

Harian Masyarakat | Nilai tukar rupiah terus berada di bawah tekanan meski Bank Indonesia (BI) sudah enam kali memangkas suku bunga acuan sepanjang 2025 dengan total 125 basis poin menjadi 4,75 persen. Pada perdagangan Rabu (24/9/2025), kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat rupiah berada di level Rp 16.680 per dolar AS, melemah 1,52 persen dibanding sepekan sebelumnya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menjelaskan pelemahan mata uang dipengaruhi oleh kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat sejak April 2025. Kebijakan itu membuat ekspor Indonesia sempat melonjak hingga Agustus akibat front loading, namun setelahnya kembali melemah.

Selain itu, kebutuhan pembayaran utang luar negeri pada September–Oktober meningkatkan permintaan dolar. Secara historis, periode tersebut memang menjadi puncak jatuh tempo pembayaran utang Indonesia. Di sisi eksternal, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,83 persen ke level 97,68 dalam sepekan terakhir, memperberat tekanan pada rupiah.

ihsg rupiah indeks harga saham gabungan mata uang

Data BI pekan ketiga September 2025 mencatat modal asing keluar (neto) sebesar Rp 8,12 triliun, terdiri dari Rp 5,49 triliun di pasar SBN, Rp 2,79 triliun di SRBI, dan hanya Rp 0,16 triliun masuk ke pasar saham. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani, menilai keluarnya modal asing dipicu penyempitan selisih suku bunga BI dan The Fed, pelebaran defisit APBN, serta meningkatnya risiko fiskal domestik.

Pengamat pasar keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menambahkan pelemahan mata uang juga dipengaruhi derasnya likuiditas yang digelontorkan pemerintah. Dana stimulus berpotensi tidak terserap ke sektor riil, melainkan membanjiri pasar uang sehingga menekan kurs. “Tekanan terhadap rupiah menjadi ironis karena terjadi di saat imbal hasil US Treasury dan indeks dolar AS justru melemah,” ujarnya.

IHSG Menguat di Tengah Tekanan

Berbeda dengan rupiah, pasar saham justru mencatat tren positif. Pada perdagangan Rabu (24/9/2025), IHSG ditutup naik tipis 1,35 poin atau 0,02 persen ke level 8.126,56. Sepanjang sepekan terakhir, indeks saham utama Indonesia menguat 1,26 persen.

ihsg rupiah indeks harga saham gabungan mata uang

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan 243 saham menguat, 461 saham melemah, dan 100 stagnan, dengan total transaksi Rp 38,33 triliun dan volume 55,13 miliar saham. Sektor industri menjadi penopang dengan kenaikan 4,66 persen, sementara sektor infrastruktur melemah 1,34 persen. Saham-saham yang menopang indeks antara lain Barito Pacific (BRPT) naik 11,87 persen, Adaro Andalan Indonesia (AADI) naik 2,76 persen, dan Surya Citra Media (SCMA) naik 1,78 persen.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai penguatan IHSG didorong kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di tengah stimulus pemerintah, pemangkasan suku bunga, dan program Menteri Keuangan baru. “Menteri baru, harapan baru, program baru, membutuhkan waktu untuk kembali berjalan dan beradaptasi,” katanya.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menambahkan tren teknikal IHSG masih cenderung naik dengan dukungan harga komoditas emas dan energi yang menguat. Ia memprediksi IHSG berpotensi mencapai skenario bullish di level 8.200 pada akhir 2025.

Dinamika Pasar Global

Pergerakan IHSG tidak terlepas dari dinamika global. Mayoritas bursa saham Asia pada Rabu (24/9/2025) ditutup di zona hijau, dengan Shanghai Composite naik 0,83 persen, Nikkei 225 menguat 0,30 persen, dan Hang Seng naik 1,37 persen. Sementara Straits Times Singapura melemah 0,30 persen.

Namun, bursa Eropa dan Amerika justru melemah. Indeks DAX Jerman turun 0,08 persen, FTSE 100 Inggris minus 0,19 persen, S&P 500 melemah 0,55 persen, NASDAQ Composite minus 0,95 persen, dan Dow Jones terkoreksi 0,19 persen.

Di sisi lain, harga emas dunia terkoreksi tipis ke USD 3.753 per ons troy atau Rp 2,02 juta per gram setelah sempat mencetak rekor baru. Koreksi ini lebih bersifat teknikal setelah reli panjang, namun tren bullish emas masih kuat.

Faktor Penopang IHSG di Tengah Lemahnya Rupiah

ihsg rupiah indeks harga saham gabungan mata uang

Fenomena pelemahan rupiah bersamaan dengan penguatan IHSG dianggap wajar oleh sejumlah analis. Beberapa faktor yang menjadi penopang IHSG antara lain:

  1. Likuiditas domestik – Pemangkasan suku bunga BI menurunkan biaya modal dan meningkatkan minat investor lokal terhadap saham.
  2. Sentimen politik dan restrukturisasi kabinet – Reshuffle menteri memberi optimisme pasar terhadap kebijakan pro-pertumbuhan.
  3. Valuasi saham menarik bagi investor asing – Pelemahan rupiah membuat saham Indonesia relatif murah bagi investor global.
  4. Fundamental korporasi berbasis ekspor – Perusahaan yang berorientasi ekspor mendapat keuntungan dari rupiah yang lebih lemah.

Prospek ke Depan

Menurut Telisa Aulia Falianty, stabilisasi mata uang dalam jangka menengah masih terbuka jika inflasi domestik terjaga, cadangan devisa diperkuat, dan koordinasi kebijakan fiskal-moneter konsisten. Namun, tekanan jangka pendek masih besar jika The Fed menahan pemangkasan suku bunganya.

Bank Indonesia dihadapkan pada dilema menjaga stabilitas kurs sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Sejumlah analis menilai BI kemungkinan akan melanjutkan pelonggaran moneter, tetapi dengan langkah yang hati-hati agar keseimbangan antara nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan tetap terjaga.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related news