Harian Masyarakat – Pemerintah memastikan Indonesia berhenti mengimpor solar mulai 2026. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto ini disampaikan saat rapat percepatan pembangunan Papua di Istana Negara pada 16 Desember 2025, setelah menerima laporan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Dengan demikian, Prabowo berharap Indonesia dapat menghemat uang ratusan triliun untuk subsidi dan impor BBM.
“Kita akan menghemat ratusan triliun untuk subsidi, ratusan triliun untuk impor BBM dari luar negeri. Tahun ini tiap tahun kita mengeluarkan peraturan triliun untuk impor BBM. Kalau kita bisa tanam kelapa sawit, tanam singkong, tanam serbuk pakai tenaga surya dan tenaga air, bayangkan berapa ratus triliun kita bisa hemat tiap tahun,” tuturnya.
Prabowo menargetkan penghentian impor solar sebagai langkah awal kemandirian energi. Pemerintah juga membidik penghentian impor bensin secara bertahap dalam empat tahun ke depan untuk menekan ketergantungan energi fosil luar negeri.
Papua diposisikan sebagai wilayah kunci. Pemerintah menilai Papua memiliki potensi besar energi surya dan tenaga air. Prabowo ingin daerah ini mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri tanpa pasokan BBM mahal dari wilayah lain.
Selain energi terbarukan, pemerintah mendorong biodiesel berbasis sawit serta pengembangan tebu dan singkong untuk bahan bakar etanol. Biodiesel B35 yang sudah berjalan nasional menjadi tulang punggung pengganti solar impor.
Prabowo menegaskan impor solar saat ini membebani negara hingga sekitar Rp520 triliun per tahun. Penghentian impor dinilai dapat menghemat ratusan triliun rupiah yang bisa dialihkan ke pembangunan daerah.
Kebijakan ini menandai perubahan arah energi nasional. Produksi domestik diperkuat. Daerah didorong mandiri. Papua dijadikan titik awal perombakan peta energi Indonesia.















