Harian Masyarakat | Penelitian terbaru menunjukkan hubungan kuat antara konsumsi makanan olahan tinggi (ultra-processed foods/UPF) dan peningkatan risiko munculnya polip pendahulu kanker usus pada perempuan di bawah 50 tahun.
Temuan ini tidak membuktikan sebab-akibat, tetapi memberikan petunjuk penting tentang bagaimana pola makan modern mungkin berperan dalam lonjakan kasus kanker kolorektal pada usia muda.
Ringkasan temuan utama
Studi pada 29.105 perempuan yang mengikuti pemeriksaan endoskopi sebelum usia 50 menemukan bahwa mereka yang makan sekitar 10 porsi makanan olahan per hari memiliki risiko 45% lebih tinggi untuk mengembangkan adenoma (polip yang paling sering berpotensi menjadi kanker) dibanding yang mengonsumsi sekitar 3 porsi per hari.
Dalam sampel tersebut teridentifikasi 1.189 kasus adenoma awal; analisis endoskopi secara keseluruhan melaporkan 2.787 peserta dengan polip prekanker (termasuk berbagai jenis).
Rata-rata konsumsi makanan olahan peserta berkisar: rendah ≈ 3,3 porsi/hari, rata-rata ≈ 5,7 porsi/hari (sekitar 35% kalori harian), dan tinggi ≈ 9,9–10 porsi/hari.
Hubungan ini tampak berlaku khusus untuk adenoma konvensional, tidak ditemukan asosiasi yang jelas antara konsumsi makanan olahan dan lesi serrata (jenis polip lain yang berkembang lebih lambat).
(Data diambil dari analisis yang dipublikasikan di JAMA Oncology dan basis data Nurses’ Health Study II; penelitian didanai oleh inisiatif Cancer Grand Challenges dengan dukungan National Cancer Institute.)
Apa itu “makanan olahan tinggi” (UPF)?
Makanan olahan tinggi didefinisikan sebagai produk yang dibuat dengan teknik industri dan bahan yang jarang atau tidak dipakai di dapur rumah, misalnya:
Roti olahan dan sereal sarapan siap saji,
Saus, spreads, kondimen kemasan,
Minuman manis atau minuman dengan pemanis buatan,
Makanan beku siap saji, produk camilan kemasan (chips, biskuit), dan daging olahan.
Ciri umum: rendah serat, tinggi kalori dari gula halus, lemak olahan, garam, dan mengandung berbagai aditif (pengawet, emulsifier, perisa buatan).
Bagaimana studi dilakukan (metode singkat)
Peneliti mengolah data dari kelompok perempuan (Nurses’ Health Study II) yang menjawab kuesioner diet setiap empat tahun sejak awal 1990-an dan menjalani setidaknya satu kolonoskopi sebelum usia 50. Dari jawaban diet mereka, peneliti menghitung konsumsi harian makanan olahan dan mengaitkannya dengan temuan endoskopi untuk mendeteksi polip prekanker. Analisis juga memperhitungkan faktor risiko lain seperti indeks massa tubuh, diabetes tipe 2, tingkat aktivitas, merokok, dan asupan serat.
Mengapa makanan olahan diduga meningkatkan risiko polip?
Para peneliti dan ahli yang dikutip mengajukan beberapa mekanisme biologis yang mungkin:
Perubahan mikrobioma usus — bahan dan aditif UPF dapat merusak keseimbangan bakteri usus sehingga melemahkan perlindungan lapisan usus.
Peradangan kronis dan peningkatan permeabilitas usus — kondisi ini dapat mempermudah sel mengalami perubahan abnormal.
Efek metabolik tidak langsung — konsumsi UPF terkait obesitas dan diabetes tipe 2, yang keduanya merupakan faktor risiko untuk kanker kolorektal.
Komponen produk — banyak UPF mengandung minyak biji (omega-6 tinggi), gula tambahan, dan aditif (emulsifier, pengawet) yang berpotensi menimbulkan efek toksik atau pro-inflamasi saat dimetabolisme.
Para peneliti menegaskan bahwa mekanisme pasti belum dipastikan; hipotesis-hipotesis ini masih perlu diuji dalam penelitian yang meneliti respons tubuh langsung terhadap komponen UPF.
Detail temuan yang perlu diperhatikan
Jenis polip: Peningkatan risiko kuat terlihat pada adenoma konvensional (jenis yang paling sering memicu kanker). Tidak ada asosiasi yang konsisten untuk lesi serrata.
Kuantitas berpengaruh: Hubungan bersifat dose-response — semakin banyak porsi UPF per hari, semakin besar risiko.
Keterkaitan dengan pola hidup: Pengonsumsi UPF tinggi juga cenderung memiliki BMI lebih tinggi, riwayat merokok lebih sering, aktivitas fisik lebih rendah, serta asupan nutrisi seperti serat dan vitamin D yang lebih rendah, faktor yang dianalisis dan tetap menunjukkan hubungan UPF meski dikontrol secara statistik.
Keterbatasan penelitian: jangan langsung tarik kesimpulan pasti
Observasional, bukan eksperimen: Studi menunjukkan asosiasi, bukan pembuktian sebab-akibat langsung.
Data diet berdasarkan ingatan: Kuesioner recall selama 12 bulan rentan kesalahan pelaporan.
Klasifikasi UPF: Sulit menentukan dengan tegas apakah beberapa makanan termasuk makanan olahan atau makanan rumahan (mis. popcorn, waffle buatan pabrik vs. rumahan).
Sampel terbatas: Peserta penelitian adalah perempuan perawat, mayoritas berkulit putih, sehingga temuan perlu direplikasi pada populasi yang lebih beragam (laki-laki, etnis lain, negara lain).
Perubahan produk dari waktu ke waktu: UPF tahun 1990-an tidak identik dengan produk sekarang (formulasi, aditif, proporsi minyak biji mungkin berbeda), sehingga generalisasi ke produk modern perlu kehati-hatian.
Implikasi bagi kesehatan masyarakat dan rekomendasi praktis
Penulis studi dan sejumlah ahli memberi saran praktis berdasarkan bukti yang ada:
Kurangi konsumsi UPF: Pilih makanan utuh dan seminimal mungkin makanan olaha, sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, dan daging tanpa olahan.
Periksa label: Hindari produk dengan daftar bahan yang panjang dan nama bahan yang sulit diucapkan.
Perhatikan minuman: Batasi minuman manis dan minuman berpemanis buatan.
Lakukan skrining sesuai rekomendasi: Mulai skrining kolorektal pada usia 45 (atau lebih muda jika ada riwayat keluarga). Kolonoskopi memungkinkan pengangkatan polip sebelum berkembang jadi kanker.
Gaya hidup sehat: Aktivitas fisik, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, dan membatasi konsumsi alkohol tetap penting untuk menurunkan risiko.
Kenapa temuan ini penting sekarang
Kasus kanker kolorektal pada usia 25–49 dilaporkan meningkat, misalnya satu sumber menyebut kenaikan sekitar 62% sejak awal 1990-an untuk kelompok usia tersebut. Perubahan besar dalam pola makanan global, naiknya porsi UPF dalam pasokan makanan dan asupan kalori, berjalan seiring dengan tren ini. Mengetahui faktor yang dapat dimodifikasi, seperti diet, memberi peluang pencegahan awal.
Penelitian pada puluhan ribu perempuan menunjukkan hubungan konsisten: semakin banyak makanan olahan tinggi yang dikonsumsi, semakin besar kemungkinan munculnya adenoma pra-kanker di bawah usia 50. Ini bukan bukti akhir bahwa UPF menyebabkan kanker, tetapi sinyal kuat yang mendukung upaya mengurangi konsumsi produk ultra-processed dan mendorong penelitian lanjutan, termasuk studi yang melacak perubahan mikrobioma, efek aditif tertentu, dan uji intervensi diet. Sementara bukti berkembang, langkah paling bijak: makan lebih banyak makanan utuh, batasi makanan olahan, dan jalani skrining sesuai anjuran medis.















