Harian Masyarakat | Penelitian terbaru memunculkan kekhawatiran soal keamanan penggunaan melatonin jangka panjang. Hormon yang selama ini dikenal sebagai bantuan tidur alami ternyata bisa meningkatkan risiko gagal jantung dan kematian dini pada orang dewasa dengan insomnia kronis.
Melatonin dan Risiko Gagal Jantung
Analisis data kesehatan terhadap lebih dari 130 ribu orang dewasa dengan insomnia menunjukkan, mereka yang mengonsumsi melatonin lebih dari satu tahun memiliki kemungkinan 90 persen lebih tinggi mengalami gagal jantung dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya. Penelitian ini juga menemukan bahwa pengguna jangka panjang tiga kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena gagal jantung, dan hampir dua kali lebih berisiko meninggal dunia dalam lima tahun pengamatan.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari SUNY Downstate/Kings County Primary Care di Brooklyn, Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Dr. Ekenedilichukwu Nnadi. Hasilnya akan dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah American Heart Association (AHA) di New Orleans.
Menurut Nnadi, temuan ini mengejutkan karena melatonin selama ini dianggap sebagai suplemen aman dan alami. “Kami tidak menyangka akan menemukan hubungan yang jelas antara penggunaan melatonin jangka panjang dengan peningkatan risiko gagal jantung, rawat inap, dan kematian,” katanya. Namun ia menegaskan, penelitian ini bersifat observasional dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
Data dan Fakta Penelitian
Peneliti menelusuri data selama lima tahun terhadap 130.828 orang dengan insomnia. Sekitar 65 ribu di antaranya tercatat menggunakan melatonin setidaknya satu tahun. Dalam periode tersebut, 4,6 persen pengguna mengalami gagal jantung, dibandingkan 2,7 persen pada kelompok non-pengguna. Risiko rawat inap akibat gagal jantung mencapai 19 persen di kelompok pengguna, dibanding 6,6 persen di kelompok non-pengguna. Tingkat kematian juga lebih tinggi pada pengguna, yaitu 7,8 persen dibanding 4,3 persen.
Peneliti mengontrol berbagai faktor risiko lain, seperti tekanan darah tinggi dan penyakit jantung sebelumnya. Namun mereka mengakui bahwa kelompok non-pengguna bisa saja mencakup orang yang membeli melatonin tanpa resep, karena di Amerika Serikat suplemen ini dijual bebas.
Para Ahli Minta Publik Tidak Panik
Beberapa ahli menilai hasil penelitian ini perlu ditafsirkan hati-hati. Dr. Joyce Oen-Hsiao dari Yale School of Medicine mengatakan, belum ada bukti kuat bahwa melatonin menyebabkan gagal jantung secara langsung. Ia menjelaskan bahwa insomnia berat sendiri bisa memperburuk kesehatan jantung, karena meningkatkan tekanan darah, denyut jantung, dan hormon stres.
“Jika insomnia tidak tertangani, itu bisa berkontribusi pada penurunan fungsi jantung,” katanya. Ia juga menekankan bahwa penelitian ini tidak menjelaskan jenis gagal jantung yang dialami para pasien.
Dr. Muhammad Rishi dari American Academy of Sleep Medicine menyebut hasil ini “provokatif”, tapi mengingatkan bahwa penelitian berbasis rekam medis tidak bisa memastikan sebab-akibat. Ia menilai penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan uji klinis terkontrol.
Pendapat serupa disampaikan Marie-Pierre St-Onge dari Columbia University. Menurutnya, hubungan antara melatonin dan kesehatan jantung perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan apakah penggunaan jangka panjang benar-benar berisiko atau tidak.
Sinyal Masalah Kesehatan yang Lebih Dalam
Beberapa ahli berpendapat, penggunaan melatonin jangka panjang bisa menjadi tanda adanya masalah jantung yang belum terdeteksi. Dr. Nnadi mengatakan, insomnia kronis dapat meningkatkan tekanan darah dan peradangan, dua faktor utama pemicu gagal jantung. “Mungkin bukan melatonin yang menyebabkan masalah, tapi kebutuhan terus-menerus untuk menggunakannya bisa jadi sinyal ada gangguan jantung,” ujarnya.
Dr. Martha Gulati, ahli jantung dari Houston Methodist DeBakey Heart and Vascular Institute, menambahkan bahwa banyak orang menggunakan suplemen tanpa tahu risikonya. “Jika ternyata ada efek samping serius, biayanya bisa lebih besar daripada manfaatnya,” katanya.
Gunakan Melatonin dengan Bijak
Melatonin adalah hormon alami yang diproduksi otak untuk mengatur siklus tidur dan bangun. Dalam bentuk suplemen sintetis, zat ini sering digunakan untuk mengatasi jet lag atau gangguan ritme tidur akibat kerja shift. Namun dosis dan kemurniannya bisa bervariasi karena tidak diawasi ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA).
Para ahli menyarankan penggunaan melatonin dalam dosis rendah (di bawah 5 miligram) dan dalam jangka pendek. Waktu konsumsi juga penting, sebaiknya satu hingga dua jam sebelum tidur. “Melatonin bukan obat penenang. Mengonsumsi dosis lebih tinggi tidak membuat tidur lebih cepat,” kata Dr. David Neubauer dari Johns Hopkins University.
Bagi mereka yang sudah lama mengonsumsi melatonin, terutama dengan faktor risiko jantung, Nnadi menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Pengobatan insomnia sebaiknya difokuskan pada terapi perilaku kognitif, bukan hanya suplemen tidur.
Temuan ini membuka diskusi baru tentang keamanan suplemen yang dianggap “alami”. Meski belum terbukti menyebabkan gagal jantung, penggunaan melatonin jangka panjang jelas perlu diwaspadai. Ahli sepakat bahwa penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan untuk memastikan dampaknya terhadap kesehatan jantung. Untuk sementara, gunakan melatonin secara bijak, sesuai anjuran medis, dan jangan anggap sesuatu aman hanya karena dijual bebas.















