Harian Masyarakat | Dari balkon Basilika Santo Petrus di Vatikan, Minggu (2/11/2025), Paus Leo XIV kembali menyerukan gencatan senjata segera di Sudan. Dalam doa Angelus yang dihadiri ribuan umat, Paus menyampaikan duka mendalam atas penderitaan warga sipil di kota El-Fasher, Darfur Utara, yang kini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan besar di dunia.
Seruan Paus untuk Gencatan Senjata dan Koridor Kemanusiaan
“Dengan kesedihan mendalam, saya mengikuti berita tragis dari Sudan, khususnya dari El-Fasher di wilayah Darfur Utara,” kata Paus Leo. “Kekerasan tanpa pandang bulu terhadap perempuan dan anak-anak, serangan terhadap warga sipil tak bersenjata, dan hambatan terhadap aksi kemanusiaan telah menimbulkan penderitaan yang tak dapat diterima.”
Paus menegaskan pentingnya gencatan senjata segera serta pembukaan koridor kemanusiaan bagi bantuan makanan dan obat-obatan. Ia meminta komunitas internasional bertindak tegas dan murah hati dalam membantu rakyat. “Semoga Tuhan menyambut para korban, menguatkan mereka yang menderita, dan menyentuh hati para pelaku,” ujarnya.
Seruan ini datang setelah laporan terbaru dari Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB (OHCHR) mengungkapkan pembantaian besar-besaran di El-Fasher. Ratusan warga sipil dan kombatan tak bersenjata tewas setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut kota tersebut pada akhir Oktober 2025. El-Fasher adalah benteng terakhir militer Darfur sebelum jatuh setelah pengepungan selama 18 bulan.

Pengepungan, Eksekusi Massal, dan Warga yang Hilang
El-Fasher kini berubah menjadi kota mati. Puluhan ribu orang melarikan diri, namun puluhan ribu lainnya diduga masih terperangkap. Menurut laporan Doctors Without Borders (MSF), lebih dari 65 ribu warga berhasil keluar dari kota, tetapi banyak yang masih hilang dan kemungkinan besar dibunuh atau ditahan oleh RSF.
“Ribuan orang masih dalam bahaya besar dan dihalangi keluar dari kota,” kata Michel Olivier Lacharite, Kepala Operasi Darurat MSF. “Pertanyaannya, di mana semua orang yang hilang itu? Jawaban paling menakutkan adalah mereka dibunuh atau diburu saat mencoba melarikan diri.”
Saksi mata yang berhasil melarikan diri ke Tawila, sekitar 70 kilometer dari El-Fasher, menceritakan eksekusi massal di jalan, penembakan anak-anak di depan orang tua, serta kekerasan seksual terhadap perempuan. Laporan lapangan dari Al Jazeera dan AFP menggambarkan kota itu sebagai zona pembantaian etnis dengan rumah-rumah hangus dan rumah sakit berubah menjadi kuburan.
Dunia Menyebut Situasi Sudan “Apokaliptik”
Kecaman internasional terhadap kekerasan di Darfur terus meluas. Dalam konferensi diplomasi IISS Manama Dialogue di Bahrain, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyebut situasi sebagai “benar-benar apokaliptik”. “Sudan adalah krisis kemanusiaan terbesar di dunia,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menambahkan, “Kekejaman, eksekusi massal, kelaparan, dan pemerkosaan sebagai senjata perang menunjukkan betapa perempuan dan anak-anak menanggung beban paling berat.” Inggris menambah bantuan kemanusiaan sebesar 5 juta pound sterling atau sekitar Rp101,5 miliar, di luar komitmen sebelumnya senilai Rp2,4 triliun.
Jordania, Mesir, dan Vatikan juga menyerukan tindakan nyata. Menteri Luar Negeri Jordania Ayman Safadi menegaskan dunia memiliki tanggung jawab moral menghentikan penderitaan Sudan.

Pemerintah Sudan Tolak Pasukan Asing
Sementara itu, Perdana Menteri Sudan Kamil Idris menyerukan agar dunia segera bertindak, namun menolak keras kehadiran pasukan internasional. “Kehadiran pasukan asing hanya akan memperburuk kekacauan. Tentara dan rakyat mampu menyelamatkan negaranya sendiri,” katanya kepada harian Blick di Swiss.
Idris menuduh komunitas internasional tidak cukup bertindak. “Dunia berbuat terlalu sedikit. Kami butuh tindakan, bukan kata-kata.” Ia juga meminta agar RSF diklasifikasikan sebagai organisasi teroris dan semua pelaku kekerasan diadili di pengadilan nasional maupun internasional.
Dalam nota diplomatik resmi, negara Afrika tersebut sudah meminta PBB mendukung pembentukan pengadilan internasional untuk mengadili kejahatan perang di negaranya. Namun hingga kini, RSF belum menanggapi tuduhan pembunuhan massal, pemerkosaan, dan penyerangan terhadap tenaga kemanusiaan.
Dalam pernyataan di media lokal Sudan Tribune, RSF hanya mengatakan telah menahan beberapa anggotanya yang diduga melakukan pelanggaran, termasuk seorang komandan bernama Abu Lulu. “Pasukan kami bertindak dengan tanggung jawab dan komitmen pada hukum,” tulis mereka.
Akar Konflik: Warisan Kolonial dan Krisis Kemanusiaan Terbesar
Konflik bermula sejak perang saudara pecah pada April 2023 antara militer Sudan (SAF) dan RSF, kelompok paramiliter yang berakar dari milisi Janjaweed, pelaku genosida di Darfur dua dekade lalu. RSF kini menguasai sebagian besar wilayah barat.
Laporan PBB menunjukkan lebih dari 14 juta warga dari total 51 juta penduduk kini mengungsi. Famine dan wabah kolera meluas, sementara fasilitas kesehatan hancur. Dalam enam bulan pertama 2025, sedikitnya 3.300 warga sipil tewas, sebagian besar di Darfur.
Sejumlah peneliti menilai akar konflik tidak lepas dari warisan kolonial Inggris-Mesir pada masa Anglo-Egyptian Condominium (1899–1956) yang memisahkan wilayah berdasarkan etnis dan agama. Ketimpangan sosial akibat kebijakan itu menjadi benih perang berkepanjangan di Sudan modern.
Paus Juga Menyoroti Kekerasan di Tanzania

Dalam kesempatan yang sama, Paus Leo XIV menyinggung situasi di Tanzania setelah pemilu yang dimenangkan Presiden Samia Suluhu Hassan dengan 98 persen suara. “Saya mengajak semua pihak untuk menghindari kekerasan dan menempuh jalan dialog,” ujarnya.
Oposisi menuduh aparat keamanan bertanggung jawab atas kematian ratusan orang selama tiga hari bentrokan pascapemilu. Paus mendoakan perdamaian bagi Tanzania dan mengajak dunia memperjuangkan keadilan melalui rekonsiliasi, bukan kekerasan.
Refleksi Paus tentang Kematian dan Harapan
Usai doa Angelus, Paus mengumumkan akan memimpin misa di Pemakaman Verano, Roma, untuk mengenang arwah umat yang telah meninggal. “Dalam roh, saya akan berziarah ke makam orang-orang yang saya kasihi, juga mereka yang tidak ada seorang pun mengingatnya. Tuhan mengenal dan mencintai setiap manusia,” katanya.
Ia menutup pesannya dengan seruan harapan, “Kita tidak boleh terjebak dalam masa lalu atau kesedihan. Kita dipanggil untuk mengingat masa depan dan hidup dalam kasih yang memberi kehidupan bagi sesama.”
Dunia di Persimpangan
Krisis di Sudan kini menjadi ujian moral dan kemanusiaan global. Di tengah seruan Paus, laporan kekejaman terus bertambah dan penderitaan warga terus meluas. Gencatan senjata yang diminta Vatikan menjadi harapan terakhir agar rakyat bisa bertahan hidup di tengah bencana yang disebut dunia sebagai “mendekati kiamat”.















