Harian Masyarakat | Setelah 40 hari lumpuh, Amerika Serikat akhirnya melihat tanda akhir dari shutdown pemerintahan yang memaksa sebagian besar lembaga federal tutup dan jutaan pegawai pemerintah tak digaji. Pada Minggu malam, Senat AS melangkah maju dalam pemungutan suara 60-40 untuk membuka jalan menuju kesepakatan pendanaan sementara hingga 30 Januari.
Langkah ini menjadi titik balik setelah berminggu-minggu perdebatan sengit antara Demokrat dan Republik mengenai kelanjutan subsidi kesehatan dalam program Affordable Care Act (ACA) atau Obamacare.
Shutdown ini telah memicu kekacauan besar. Ratusan ribu pegawai federal di-PHK sementara, jutaan penerima bantuan pangan tertunda, dan lebih dari 2.000 penerbangan dibatalkan akibat kekurangan petugas pengatur lalu lintas udara.
Isi Kesepakatan: Pemerintah Buka, Subsidi Ditunda
Kesepakatan yang lahir dari perundingan maraton antara senator moderat dari kedua partai ini mencakup:
- Pendanaan pemerintah hingga 30 Januari 2026.
- Pembayaran gaji tertunda bagi semua pegawai federal, termasuk militer dan petugas perbatasan.
- Pembatalan PHK massal yang dilakukan pemerintahan Trump selama masa shutdown.
- Pendanaan penuh untuk tiga lembaga utama: Departemen Pertanian, Urusan Veteran, dan Kongres.
Namun, tuntutan utama Demokrat untuk memperpanjang subsidi ACA belum dipenuhi. Sebagai gantinya, kubu Republik hanya berjanji akan menggelar pemungutan suara pada Desember untuk membahas perpanjangan subsidi tersebut.
Senator Jeanne Shaheen, salah satu perancang kompromi, menyebut kesepakatan ini “satu-satunya jalan realistis” untuk mengakhiri krisis. “Prioritas saya tetap membuka kembali pemerintah dan menjaga agar warga tidak kehilangan subsidi kesehatan,” tulisnya di X.
Perpecahan di Tubuh Demokrat
Langkah delapan senator Demokrat yang mendukung kesepakatan ini menimbulkan kemarahan di partainya sendiri. Para pendukung progresif menilai keputusan itu sebagai bentuk “penyerahan diri” terhadap tekanan Republik.
Senator Chuck Schumer, pemimpin Demokrat di Senat, menolak mendukung resolusi tersebut. “Krisis kesehatan ini terlalu serius. Saya tidak bisa mendukung kesepakatan yang mengabaikan jutaan keluarga,” katanya.
Senator Bernie Sanders menyebut langkah moderat Demokrat sebagai “kesalahan fatal.” Sementara Rep. Ro Khanna menilai Schumer “tidak lagi efektif” dan menyerukan pergantian kepemimpinan di Senat Demokrat.
Di sisi lain, kubu progresif di DPR menuduh kelompok senator moderat “mengkhianati rakyat.” Ketua Kaukus Progresif Greg Casar menyebut janji Republik untuk mempertimbangkan subsidi kesehatan hanya “pinky promise” yang tidak bisa dipercaya.
Tekanan Ekonomi dan Krisis Publik
Dampak shutdown terasa di berbagai sektor. Lebih dari 700.000 pegawai federal kehilangan pendapatan, sementara jutaan warga menunggu bantuan pangan dari program SNAP yang tertunda akibat sengketa hukum.
Bank Makanan Capital Area di Washington DC mencatat lonjakan permintaan hingga 20% dibandingkan tahun sebelumnya. “Kami harus menyediakan 8 juta makanan tambahan,” kata lembaga itu dalam laporan mingguannya.
Di sektor transportasi, lebih dari 7.000 penerbangan mengalami keterlambatan pada Minggu, menurut situs pemantau penerbangan FlightAware. Menteri Keuangan Sean Duffy memperingatkan, bila pemerintah tak segera dibuka, perjalanan menjelang liburan Thanksgiving akan “berhenti total.”
Ketegangan Politik di Gedung Putih
Meskipun Presiden Donald Trump mengatakan, “kita semakin dekat dengan akhir shutdown,” posisinya masih ambigu. Ia menentang subsidi ACA, menyebutnya sebagai “keuntungan besar bagi perusahaan asuransi dan bencana bagi rakyat.”
Trump menuntut agar dana subsidi dialihkan langsung ke individu, bukan ke perusahaan asuransi. Namun di sisi lain, pejabat Gedung Putih disebut telah menyetujui sebagian isi kesepakatan Senat demi membuka kembali pemerintahan.
Belum jelas apakah Ketua DPR Mike Johnson akan membawa RUU ini ke pemungutan suara di DPR. Johnson dikenal menolak berkompromi dengan Demokrat dan menunda sidang selama berminggu-minggu.
Latar Politik dan Strategi Kedua Partai
Kebuntuan 40 hari ini mencerminkan konflik lama antara dua partai besar Amerika:
- Demokrat berupaya mempertahankan subsidi ACA yang menurunkan biaya premi bagi jutaan warga berpenghasilan rendah.
- Republik ingin membatasi penerima subsidi dan menyalurkan dana langsung ke individu, bukan ke program asuransi publik.
Sejak diberlakukan pada 2021, subsidi ini menggandakan jumlah peserta ACA menjadi 24 juta orang. Jika tidak diperpanjang, premi diperkirakan melonjak lebih dari dua kali lipat pada tahun 2026.
Sementara itu, ekonomi mulai terguncang. Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett memperingatkan pertumbuhan ekonomi kuartal keempat bisa negatif bila shutdown terus berlanjut.
Jalan Panjang Menuju Pemulihan
Meski kesepakatan Senat dianggap langkah besar, proses hukum berikutnya masih panjang. RUU ini harus disetujui DPR dan ditandatangani Presiden. Proses itu bisa memakan waktu beberapa hari.
Namun di Washington, kelelahan politik tampak jelas. Banyak senator dari kedua partai mengakui tekanan publik dan dampak ekonomi yang semakin berat. Senator Republik Thom Tillis menyebut, “Tekanan meningkat, dan akhirnya semua pihak sadar, kita harus bergerak.”
Jika DPR menyetujui kesepakatan ini dalam minggu mendatang, maka shutdown terpanjang dalam sejarah AS resmi berakhir. Tapi jika gagal, Amerika akan menghadapi risiko penutupan kembali pada Januari mendatang, tepat di awal tahun politik menuju pemilihan presiden 2026.















