Harian Masyarakat | Dalam beberapa hari terakhir, dada kita sesak membaca kabar dari Sumatera bagian utara. Aceh dilanda banjir besar, Sumatera Utara bergulat dengan longsor dan infrastruktur lumpuh, sementara Sumatera Barat kembali diterjang bencana yang merenggut nyawa dan menghanyutkan rumah-rumah warga. Dari jauh, dari kota-kota perantauan, terutama Yogyakarta—para mahasiswa dari tiga wilayah ini hidup dalam kecemasan yang tidak pernah benar-benar reda.
Mereka mengikuti kuliah sambil memantau siaran langsung bencana; membaca pesan keluarga sambil menggigit bibir; dan tidur dengan pikiran yang terseok. Banyak yang dilarang orang tua pulang karena akses jalan terputus. Banyak pula yang kehilangan kiriman uang bulanan karena keluarga mereka sendiri sedang berjuang bertahan.
Di tengah situasi seperti ini, sepi adalah musuh yang paling menyiksa.
Tetapi sepi itu, pada suatu pagi, didobrak oleh sebuah kebaikan yang sederhana—namun efeknya luar biasa.
Warung Makan Nusantara di Yogyakarta mengumumkan sesuatu yang sejuk di tengah hiruk kabar duka:
mereka membuka pintu, menyediakan makanan gratis, khusus untuk mahasiswa perantau dari Aceh, Sumut, dan Sumbar cukup dengan menunjukkan KTP.
Tidak ada syarat lain. Tidak perlu cerita sedih. Tidak perlu bukti transfer tertahan.
Tidak perlu muka memelas.
Cukup datang. Cukup mengaku lapar. Cukup menjadi manusia.
Langkah itu terlihat kecil, tetapi bagi ratusan mahasiswa rantau, ia terasa seperti pelukan panjang yang mereka cari-cari sejak kabar bencana pertama kali pecah.
Persaudaraan antara Yogyakarta dan Sumatera bukan hal baru. Ini bukan kebaikan spontan yang tiba-tiba jatuh dari langit.
Ini adalah mata rantai sejarah yang bergerak pelan, lalu membuahkan kebaikan hari ini.
Dulu, ratusan pelajar dari Minangkabau datang ke Tanah Jawa—ke Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya—untuk belajar agama, seni, politik, dan pergerakan. Para cendekiawan dari dua wilayah ini saling berkelindan dalam sejarah perjuangan bangsa. Di masa kemudian, Sultan Yogyakarta pernah dianugerahi gelar adat dari Minangkabau, sebuah simbol bahwa hubungan dua budaya besar Nusantara ini bukan sekadar komunikasi akademik, melainkan persaudaraan yang bersifat adatiah.
Hari ini, sejarah itu menegaskan dirinya lagi:
bahwa saudara tidak selalu lahir dari rahim yang sama—kadang lahir dari kepedulian yang sama.
Yogyakarta tidak berteriak soal persatuan. Ia mencontohkannya.
Apa yang dilakukan warga Yogyakarta, terutama pelaku usaha kecil seperti Warung Makan Nusantara, adalah tamparan halus bagi kita semua.
Di negeri yang terlalu sering gaduh oleh perbedaan;
di negara yang mudah tersulut isu suku, agama, politik, dan kelompok;
di ruang publik yang penuh kesetiaan palsu dan solidaritas musiman—
Yogyakarta menunjukkan versi terbaik dari Indonesia:
tenang, ramah, menghormati tamu, dan mengutamakan kemanusiaan.
Ini bukan soal harga sepiring makan siang. Ini soal pesan:
bahwa tidak ada orang yang boleh menanggung musibah sendirian—terutama ketika ia sedang mencari ilmu.
Kita boleh berbeda warna kulit, dialek, dan asal kampung. Tetapi ketika bencana melanda salah satu bagian dari tubuh bangsa ini,
maka seluruh tubuh ikut bergetar.
Dan Yogyakarta merespons getaran itu dengan tindakan, bukan slogan.
Salah satu kelemahan negeri ini adalah absennya sistem perlindungan untuk mahasiswa rantau dari daerah bencana. Kabar duka dari kampung halaman sering membuat mereka kelimpungan, sementara perguruan tinggi belum punya mekanisme krisis yang memadai.
Gerakan seperti yang dilakukan Warung Makan Nusantara seharusnya menjadi inspirasi bagi kota-kota lain:
Bahwa dunia pendidikan tidak cukup hanya mencetak sarjana, ia harus menjaga ketenteraman emosional para calon pemimpin masa depan.
Bahwa usaha kecil tidak harus menunggu kaya untuk bisa menolong; kebaikan justru paling indah ketika dilakukan oleh mereka yang hidup pas-pasan.
Bahwa solidaritas tidak selalu berupa uang;
kadang hanya berupa sepiring nasi dan kalimat,
“Di sini kamu tidak sendirian.”
Sebagai anak bangsa dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kita hanya bisa mengatakan terima kasih—meski kita tahu kata itu terlalu kecil untuk membalas ketulusan sebesar ini.
Perjalanan sejarah Indonesia panjang, berliku, dan penuh luka. Tetapi di antara semua itu, selalu ada tindakan-tindakan luhur yang membuat kita percaya bahwa bangsa ini masih punya harapan.
Yogyakarta, dalam kesederhanaannya, mengingatkan kita bahwa kemuliaan tidak datang dari kekuasaan atau gelar—tetapi dari kemampuan menolong di saat orang lain membutuhkan.
Semoga langkah kecil ini menjadi mata air kebaikan,
yang mengalir ke kota-kota lain, ke warung-warung lain,
dan terutama ke hati-hati yang mungkin selama ini lupa bahwa kita sesungguhnya adalah satu keluarga besar.















