Harian Masyarakat | Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar meninggal dunia pada Sabtu, 8 November 2025, pukul 10.57 WIB. Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh kuasa hukumnya, Boyamin Saiman.
“Betul, barusan konfirmasi ke teman-teman jaksa dan pengurus Masjid Asy-Syarif. Akan diselenggarakan salat jenazah ba’da Ashar,” ujar Boyamin.
Jenazah Antasari disemayamkan di rumah duka kawasan Les Belles Maisons E-10, Serpong, Tangerang Selatan. Usai disalatkan di Masjid Asy-Syarif BSD, jenazah akan dimakamkan di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat.
Boyamin juga meminta doa bagi almarhum dan keluarga yang ditinggalkan. “Mohon dimaafkan segala salahnya. Kita doakan beliau mendapat pahala sebanyak-banyaknya di akhirat,” katanya.
Kondisi Kesehatan Sebelum Wafat
Antasari Azhar diketahui sempat dirawat di rumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Beberapa rekan penyidik dan mantan penyidik KPK mengonfirmasi bahwa almarhum memang dalam kondisi menurun sebelum berpulang.
M. Praswad Nugraha, mantan penyidik KPK yang kini menjabat Ketua Southeast Asia Anti-Corruption Syndicate (SEA Actions), mengatakan bahwa sejumlah rekan penyidik KPK turut melayat ke Masjid Asy-Syarif. “Kami sedang menuju ke masjid untuk ikut menyalatkan dan insya Allah ikut memakamkan almarhum,” ujarnya.

Profil Singkat Antasari Azhar
Antasari Azhar lahir di Pangkalpinang, Bangka Belitung, pada 18 Maret 1953. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara pasangan H. Azhar Hamid, S.H., dan Hj. Asnani. Ayahnya pernah menjabat Kepala Kantor Pajak di Bangka Belitung.
Antasari menamatkan SD di Belitung, lalu melanjutkan SMP dan SMA di Jakarta hingga lulus tahun 1971. Ia kemudian menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, jurusan Tata Negara, dan lulus pada 1981. Semasa kuliah, Antasari dikenal aktif berorganisasi. Ia menjabat Ketua Senat Mahasiswa, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa, serta aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).
Selain pendidikan formal, ia mengikuti berbagai kursus hukum di luar negeri, antara lain di University of New South Wales, Sydney, dan Environmental Law di EPA Melbourne, Australia.
Antasari Azhar menikah dengan Ida Laksmiwati dan dikaruniai seorang anak perempuan, Ajeng Oftarika Antasari Putri.
Karier Panjang di Dunia Kejaksaan
Karier Antasari Azhar dimulai di Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Departemen Kehakiman pada 1981-1985. Ia kemudian beralih menjadi jaksa fungsional di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (1985-1989).
Kariernya menanjak cepat. Ia bertugas di Kejaksaan Negeri Tanjung Pinang (1989-1992), menjadi Kepala Seksi Penyidikan Korupsi di Kejati Lampung (1992-1994), dan Kepala Seksi Pidana Khusus di Kejari Jakarta Barat (1994-1996).
Antasari Azhar kemudian dipercaya menjabat Kepala Kejaksaan Negeri Baturaja (1997-1999) dan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (2000-2007). Di posisi inilah namanya dikenal publik setelah menangani kasus eksekusi Tommy Soeharto yang menuai sorotan.
Ia juga pernah menjadi Kepala Bidang Hubungan Media Massa Kejaksaan Agung serta Kasubdit Pidana Khusus di institusi yang sama.
Puncak Karier: Ketua KPK
Tahun 2007 menjadi puncak kariernya. Antasari terpilih menjadi Ketua KPK setelah mengungguli kandidat lain seperti Chandra M. Hamzah.
Di bawah kepemimpinannya, KPK melakukan sejumlah operasi besar. Di antaranya penangkapan jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani dalam kasus suap BLBI Syamsul Nursalim, serta penangkapan anggota DPR Al Amin Nur Nasution dalam kasus suap pelepasan hutan lindung di Sumatera Selatan.
Gebrakan itu membuat namanya dikenal luas sebagai pimpinan KPK yang tegas dan berani.
Kasus Hukum dan Grasi Presiden

Tahun 2009 menjadi titik balik hidupnya. Antasari tersandung kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen. Ia divonis 18 tahun penjara pada 2010.
Selama menjalani hukuman, Antasari terus membantah tuduhan tersebut dan menyebut dirinya dijebak.
Pada tahun 2017, Presiden Joko Widodo memberikan grasi yang memperpendek masa hukumannya. Setelah bebas, Antasari hidup lebih tertutup dan jarang tampil di publik.
Kenangan dari Rekan dan Masyarakat
Kabar wafatnya Antasari mendapat respons luas dari kalangan penegak hukum dan masyarakat. Para jaksa, penyidik, serta mantan rekan kerjanya di KPK menyampaikan duka mendalam.
“Beliau tetap sosok yang dihormati di kalangan penegak hukum. Banyak yang mengenang dedikasinya pada masa awal KPK berdiri,” kata salah satu mantan pejabat KPK yang hadir di rumah duka.
Bagi banyak orang, Antasari dikenal sebagai jaksa yang keras kepala dalam menegakkan hukum, namun juga manusia yang penuh semangat belajar dan pantang menyerah.
Warisan Perjalanan Panjang
Meski hidupnya diwarnai kontroversi, kiprah Antasari Azhar meninggalkan jejak penting dalam sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia. Ia termasuk tokoh awal yang membangun citra KPK sebagai lembaga independen dan kuat.
Kini, kepergiannya meninggalkan duka dan sekaligus refleksi panjang bagi dunia hukum Indonesia. Sosoknya akan selalu diingat, baik karena prestasi maupun perjalanan hidupnya yang berliku.















