Harian Masarakat – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung langsung mengambil keputusan penting setelah kebakaran di Ruko Terra Drone, Cempaka Baru, Kemayoran. Ia memastikan seluruh korban, baik yang luka maupun meninggal, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemprov DKI.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa 9 Desember itu meninggalkan duka mendalam. Di dalam gedung terdapat 76 orang. Sebanyak 54 berhasil keluar. Namun 22 orang lainnya meninggal.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji memastikan jumlah korban berdasarkan pendataan di lokasi. Ia merinci 15 korban tewas berjenis kelamin perempuan dan 7 lainnya laki-laki. Para penyintas langsung menjalani perawatan oleh tim medis Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan PMI. Sementara seluruh jenazah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk identifikasi.
Di tengah proses evakuasi dan penanganan darurat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil keputusan penting. Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa seluruh biaya korban, baik luka maupun meninggal, sepenuhnya ditanggung pemerintah daerah. Ia menyampaikan keputusan ini sebagai upaya meringankan keluarga korban. “Pemerintah DKI Jakarta akan bertanggung jawab untuk seluruh korban berapapun jumlahnya,” ujarnya.
Pramono menegaskan bahwa biaya pemakaman seluruh korban meninggal akan ditanggung. Ia juga memastikan semua korban luka yang dirawat di rumah sakit tidak akan dibebani biaya. “Yang luka dan sebagian nanti akan dirujuk dan kami Pemerintah DKI Jakarta yang akan menyelesaikan biayanya bagi yang luka dan sebagainya,” katanya.
Gubernur menilai tragedi ini menjadi peringatan keras bagi pemilik usaha. Ia menyoroti pentingnya kesiapan jalur evakuasi dalam bangunan yang digunakan sebagai tempat kerja. Ia menyinggung kondisi gedung Terra Drone yang memiliki enam lantai tanpa kesiapan rute penyelamatan. “Kami mengharapkan bagi siapapun yang mempunyai usaha yang seperti ini, hal yang berkaitan dengan keselamatan menjadi penting,” ujarnya.
Hingga kini, proses identifikasi korban gedung Terra Drone dan penanganan keluarga masih berlangsung. Tragedi ini meninggalkan pertanyaan besar mengenai standar keselamatan bangunan dan kesiapan jalur evakuasi di gedung-gedung yang dipakai sebagai area kerja di Jakarta.















