Harian Masyarakat – Munculnya jutaan kasus autoimun di Indonesia membuat banyak dokter melihat pola yang sama. Semakin banyak orang datang ke rumah sakit dengan keluhan yang berulang. Kelelahan berat. Nyeri sendi. Ruam yang tak kunjung hilang. Masalah pencernaan yang terus kembali.
Data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 2,5 juta penduduk hidup dengan kondisi autoimun. Angka ini hanya estimasi. Kenyataannya, jumlahnya bisa jauh lebih besar karena banyak kasus tidak terdiagnosis.
Dalam kondisi autoimun, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi justru berbalik menyerang sel sehat. Lebih dari 100 jenis penyakit telah teridentifikasi. Sebagian menarget organ tertentu. Sebagian bersifat sistemik dan menimbulkan gangguan di banyak bagian tubuh seperti kulit, sendi, paru-paru, usus, saraf, dan kelenjar tiroid.
Lonjakan Kasus Autoimun di Indonesia
dr. Syahrizal, Sp.PD-KAI, dari Primaya Hospital Bekasi Barat melihat akar masalah yang saling terkait. Genetik. Lingkungan. Biologis. Ketiganya bergerak bersamaan dan memicu respons imun yang keliru.
Ia menjelaskan bahwa risiko lebih tinggi ditemukan pada perempuan di usia produktif. Mereka yang berusia 15 sampai 44 tahun menjadi kelompok dengan jumlah diagnosis terbesar. Data Global Autoimmune Institute pada 2024 memperlihatkan angka yang tegas. Sekitar 78 persen penderita autoimun adalah perempuan. Faktor biologis dan hormonal memberikan peran besar. Kromosom X tambahan dan fluktuasi estrogen ikut meningkatkan kerentanan.
Faktor lain yang ikut berpengaruh muncul dari kehidupan sehari-hari. Infeksi yang berkepanjangan. Stres yang berlangsung lama. Ketidakseimbangan hormon. Paparan polusi dan bahan kimia termasuk asap rokok. Pola makan yang tidak seimbang. Semua ini bisa membentuk kondisi peradangan yang terus berlangsung sehingga sistem imun kehilangan arah.
Tanda-Tanda yang Sering Diabaikan
Penyakit autoimun tidak muncul dengan satu bentuk yang sama. Setiap orang bisa merasakan gejala yang berbeda. Namun pola keluhan pasien yang datang ke rumah sakit terlihat jelas.
Beberapa keluhan yang paling sering muncul antara lain:
- Kelelahan berat yang tidak membaik
- Nyeri atau bengkak sendi
- Ruam kulit atau sensitivitas cahaya
- Gangguan pencernaan berulang
- Demam tanpa penyebab jelas
Masalahnya muncul ketika seseorang menganggap keluhan tersebut sebagai kondisi ringan. Banyak pasien baru mencari pertolongan setelah penyakit masuk tahap kronis. dr. Syahrizal mengingatkan bahwa proses diagnosis membutuhkan rangkaian pemeriksaan. Riwayat kesehatan. Pemeriksaan fisik. Tes laboratorium. Semua dilakukan untuk memastikan organ mana yang diserang.
Ia menegaskan pentingnya datang lebih awal. “Apabila seseorang mulai merasakan keluhan tersebut, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter,” ujarnya.
Dampak yang Muncul Bila Tidak Diobati
Tanpa pengelolaan yang tepat, autoimun dapat merusak organ secara bertahap. Kerusakan ginjal pada pasien lupus. Kerusakan saraf pada multiple sclerosis. Risiko penyakit jantung yang meningkat. Gangguan kehamilan termasuk keguguran.
Masalah psikologis juga sering menyertai perjalanan penyakit. Kecemasan. Depresi. Penurunan kualitas hidup. Dukungan keluarga menjadi bagian yang sangat penting karena sifat penyakit yang berlangsung jangka panjang.
Pilihan Terapi dan Pengelolaan
Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan bergantung pada jenis autoimun dan tingkat keparahannya. Beberapa bentuk terapi yang umum diberikan mencakup:
- Pengaturan pola makan
- Obat untuk mengendalikan peradangan
- Imunoterapi
- Terapi plasma exchange untuk kondisi tertentu
Tujuan utama terapi adalah menstabilkan sistem imun agar pasien dapat menjalani aktivitas dengan lebih nyaman. Pendekatan holistik kini menjadi bagian penting dalam pengelolaan autoimun. Istirahat cukup. Olahraga teratur. Manajemen stres. Kepatuhan terhadap obat. Semua terbukti membantu mempertahankan stabilitas jangka panjang.
Layanan Komprehensif untuk Pasien Autoimun
Primaya Hospital Bekasi Barat menghadirkan Klinik Autoimun yang menangani berbagai jenis penyakit. Rheumatoid Arthritis. Psoriasis dan Psoriatic Arthritis. Penyakit Tiroid Autoimun seperti Graves dan Hashimoto. Lupus. Multiple Sclerosis. Celiac Syndrome. Sjogren’s Syndrome. Spondilitis Ankilosa. Dan berbagai kondisi lain. Klinik ini menyediakan layanan imunoterapi. Tes alergi. Terapi plasma exchange. Pemeriksaan laboratorium. Edukasi dan konseling untuk pasien dan keluarga.
Autoimun dapat menyerang siapa saja. Risiko tertinggi berada pada perempuan di usia produktif. Kesadaran masyarakat meningkat, tetapi banyak kasus masih terlambat ditemukan. Bila Anda atau keluarga mengalami gejala yang berlangsung lama, langkah terbaik adalah berkonsultasi lebih awal. Diagnosis cepat memberikan peluang penanganan yang lebih efektif.















