Harian Masyarakat | Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merilis hasil Tes Kemampuan Akademik tingkat SLTA sederajat. Data menunjukkan Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib dengan capaian terendah. Rata-rata nasional berada di kisaran 20 hingga 24,9.
Angka Nasional dan Perbandingan Mapel
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Toni Toharudin menyampaikan rata-rata nilai Bahasa Inggris wajib secara nasional sebesar 24,9. Nilai ini paling rendah dibanding mata pelajaran wajib lain.
Bahasa Indonesia mencatat rata-rata 55,3. Matematika berada di angka 36,1.
“Rata-rata dari mata pelajaran wajib Bahasa Inggris, kita lihat rata-ratanya 24,9,” kata Toni di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin (22/12).
Toni menegaskan data ini tidak untuk pemeringkatan. Data menjadi potret capaian kompetensi nasional dan dasar refleksi pembelajaran.
“Perbedaan capaian ini saya kira tidak dimaknai sebagai peringkat atau keinginan saya sampaikan sebagai potret capaian kompetensi nasional sebagai dasar refleksi perbaikan pembelajaran,” ujarnya.
“Data ini akan menjadi bahan evaluasi kebijakan. Kemudian penguatan pendampingan untuk seluruh satuan pendidikan, juga peningkatan kualitas pembelajaran ke depan,” sambung dia.
Rata-Rata Nilai Bahasa Inggris SMA
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati menyebut rata-rata nilai Bahasa Inggris SMA pada TKA sekitar 20. Angka ini menegaskan lemahnya capaian di jenjang tersebut.
Kemendikdasmen juga memaparkan rerata per provinsi.
Jawa Barat mencatat 26,22.
Jawa Tengah 26,22.
Jawa Timur 26,70.
Provinsi dengan nilai di atas 30 hanya DKI Jakarta 33,23 dan DI Yogyakarta 30,00.
Penyebab Rendahnya Capaian
Rahmawati menilai bentuk soal menjadi faktor penting. Soal TKA Bahasa Inggris banyak berbentuk naratif dan deskriptif dengan empat hingga lima paragraf.
“Jumlah paragraf sekitar empat sampai lima. Anak-anak kita biasanya akan sukses menjawab ketika itu keluar di paragraf pertama,” ujar Rahmawati dalam konferensi pers di Kantor Kemendikdasmen, Senin, 22 Desember 2025.
Siswa relatif mampu menjawab pertanyaan tentang kalimat pokok atau pesan di paragraf awal. Kesulitan muncul saat soal menuntut kemampuan inferensial. Siswa kerap gagal menarik kesimpulan dan membedakan fakta dengan opini dalam teks panjang.
Rahmawati menilai siswa belum terbiasa dengan soal berbasis paragraf panjang. Kondisi ini berdampak langsung pada akurasi jawaban.
Arah Evaluasi dan Perbaikan
Kemendikdasmen akan melakukan evaluasi dan refleksi atas hasil TKA SMA tahun ini. Nilai TKA menjadi bahan evaluasi pembelajaran di sekolah.
Toni juga menyoroti penguatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Pendekatan ini diharapkan memperbaiki proses belajar dan berdampak pada hasil TKA berikutnya.
“Di tahun depan kita akan melihat peningkatan hasil dari tes kemampuan pendidikan,” pungkasnya.















