Harian Masyarakat – Sejak zaman dahulu, perempuan dikenal memiliki usia hidup lebih panjang dibanding laki-laki. Fenomena ini terjadi di hampir semua negara dan tidak berubah meskipun kualitas kesehatan, ekonomi, dan teknologi meningkat.
Data World Health Organization (WHO) mencatat rata-rata usia harapan hidup perempuan di dunia mencapai 74,2 tahun, sedangkan laki-laki 69,8 tahun. Di Indonesia, perempuan hidup rata-rata 74,5 tahun, lebih lama sekitar lima tahun dibanding laki-laki (69,4 tahun).
Di beberapa negara, kesenjangannya jauh lebih besar. Di Rusia, perempuan hidup hingga 77 tahun, sementara laki-laki hanya 66 tahun. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah umur panjang perempuan disebabkan oleh gaya hidup, atau sudah tertanam dalam biologi dan evolusi manusia?
Bayi Laki-Laki Lebih Rentan Sejak Lahir
Analisis Saloni Dattani dan Lucas Rodés-Guirao dari Our World in Data (2023) menunjukkan bahwa perbedaan harapan hidup sudah muncul sejak bayi lahir. Bayi laki-laki memiliki risiko kematian lebih tinggi dibanding bayi perempuan karena hanya memiliki satu kromosom X, membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit genetik.
Kesenjangan ini berlanjut hingga remaja dan dewasa. Anak laki-laki lebih berisiko mengalami kekerasan, kecelakaan, serta penyakit akibat perilaku berisiko seperti merokok dan konsumsi alkohol.
Data Riskesdas 2023 menunjukkan laki-laki Indonesia merokok delapan kali lebih banyak daripada perempuan. Akibatnya, angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke lebih tinggi pada laki-laki usia produktif.
Rahasia Evolusi di Balik Umur Panjang

Fenomena perempuan hidup lebih lama tidak hanya terjadi pada manusia. Di dunia hewan, pola serupa muncul pada banyak mamalia.
Penelitian dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology yang diterbitkan di jurnal Science Advances (1 Oktober 2025) menganalisis 1.176 spesies mamalia dan burung di berbagai kebun binatang. Hasilnya:
- 72% mamalia betina hidup lebih lama dibanding jantan, dengan rata-rata selisih umur 13%.
- Namun pada burung, 68% jantan justru hidup lebih lama, dengan selisih sekitar 5%.
Artinya, umur panjang tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan, tapi juga oleh faktor genetik dan strategi reproduksi.
Kromosom: Penentu Ketahanan Tubuh

Salah satu penjelasan utama ada pada kromosom seks.
- Pada mamalia, jantan memiliki kromosom XY, sedangkan betina XX. Dua kromosom X memberi cadangan genetik jika satu rusak, membuat betina lebih tahan terhadap penyakit.
- Sebaliknya, pada burung, jantan memiliki ZZ dan betina ZW, membuat betina burung lebih rentan.
Menurut Johanna Stärk, penulis utama studi tersebut, kromosom memang berperan penting, tapi bukan satu-satunya faktor.
“Beberapa spesies menunjukkan pola yang berlawanan. Misalnya, banyak burung pemangsa betinanya lebih besar dan hidup lebih lama daripada jantan,” kata Stärk.
Peran Ibu dan Investasi dalam Keturunan

Hasil penelitian juga menunjukkan, spesies yang betinanya aktif mengasuh anak cenderung hidup lebih lama. Pada mamalia dan primata, betina berinvestasi besar dalam membesarkan keturunan, sehingga evolusi memberi keuntungan umur panjang agar mereka bisa menjaga anak hingga mandiri.
Dalam konteks manusia, konsep ini dikenal sebagai “hipotesis nenek” (grandmother hypothesis). Nenek yang hidup lebih lama membantu cucunya bertahan hidup, meningkatkan peluang generasi berikutnya untuk tumbuh.
Kekebalan Tubuh Perempuan Lebih Kuat
Riset lain dari Peter MacCallum Cancer Centre, University of Melbourne, yang dipimpin Profesor Sherene Loi, memberikan penjelasan biologis tambahan.
Studi yang diterbitkan di Nature (20 Oktober 2025) menemukan bahwa perempuan yang melahirkan dan menyusui memiliki sel T CD8⁺ khusus di jaringan payudara. Sel ini berfungsi melawan sel abnormal dan melindungi tubuh dari risiko kanker payudara agresif.
“Sel T ini bertindak seperti penjaga lokal, siap menyerang sel berbahaya yang muncul di jaringan payudara,” kata Sherene Loi. Menurutnya, mekanisme ini mungkin berevolusi untuk melindungi ibu pascakehamilan, tapi kini juga menjadi pelindung alami jangka panjang.
Lingkungan Bukan Faktor Utama
Perbandingan data antara hewan di alam liar dan di kebun binatang menunjukkan kesimpulan penting: meski risiko lingkungan seperti predator, cuaca, dan penyakit berkurang, perbedaan umur jantan dan betina tetap ada.
Artinya, faktor lingkungan memang memengaruhi panjang umur, tapi tidak bisa menghapus perbedaan biologis yang sudah terbentuk dalam evolusi.
Manusia dan Masa Depan Umur Panjang

Perempuan manusia mewarisi pola yang sama dengan mamalia lainnya. Dua kromosom X memberi ketahanan genetik lebih kuat, sementara faktor sosial dan gaya hidup memperkuat keunggulan itu.
Namun di era modern, kesenjangan ini perlahan menyempit. Akses kesehatan, pola makan lebih baik, dan kesadaran hidup sehat membantu laki-laki memperpanjang usia. Meski begitu, sains menunjukkan bahwa perbedaan biologis tetap sulit dihapus.
“Kontras antara laki-laki dan perempuan bukan hanya akibat gaya hidup, tapi bagian dari sejarah evolusi yang membentuk kita selama jutaan tahun,” tulis tim peneliti Max Planck.















