spot_img

Target Pertumbuhan Ekonomi 2025 di Ujung Tanduk: Bisakah Indonesia Capai 5,2 Persen?

Harian Masyarakat | Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,2 persen. Namun, hingga triwulan III-2025, realisasi pertumbuhan baru 5,04 persen. Artinya, ekonomi harus tumbuh minimal 5,77 persen pada triwulan IV agar target bisa tercapai. Pertanyaannya, seberapa realistis angka ini di tengah tekanan global, konsumsi yang melambat, dan investasi yang belum efisien?

Kinerja Ekonomi 2025: Stabil Tapi Belum Kuat

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I, II, dan III masing-masing sebesar 4,87 persen, 5,12 persen, dan 5,04 persen. Secara kumulatif Januari–September, ekonomi Indonesia tumbuh 5,01 persen. PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.060 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 3.444,8 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku tetap optimistis. Ia yakin ekonomi bisa tumbuh lebih cepat di akhir tahun. “On track, kita optimis kuartal-IV bisa naik. Hitung aja rata-rata berapa untuk mencapai 5,2 persen,” ujarnya di Jakarta, Rabu (5/11/2025).

Namun, para ekonom melihat tantangan yang tidak kecil. Peneliti Indef, Riza Annisa, menilai target itu berat karena triwulan IV harus tumbuh minimal 5,8 persen—angka yang belum pernah dicapai dalam 12 tahun terakhir. “Itu bukan angka yang sedikit,” katanya dalam diskusi publik Indef (6/11/2025).

Konsumsi Melemah, Investasi Belum Efektif

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama ekonomi dengan kontribusi 53,14 persen terhadap PDB. Namun, lajunya melemah menjadi 4,89 persen, terendah dalam 14 tahun. “Daya beli masih tertekan,” ujar Riza. Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi 29,09 persen, tumbuh sejalan dengan PDB. Ekspor justru naik signifikan 9,91 persen dan kontribusinya meningkat menjadi 23,64 persen.

Ahmad Heri Firdaus dari Indef menilai penguatan ekonomi bisa dilakukan melalui stimulus fiskal langsung ke konsumsi, seperti Paket Ekonomi 8+4+5, dan fokus pada sektor industri pengolahan yang memberi efek berganda tinggi. “Pertumbuhan sektor industri pengolahan perlu menjadi fokus jika ingin mengakselerasi ekonomi,” ujarnya.

Namun, efektivitas investasi masih menjadi persoalan. ICOR Indonesia selama 2016–2023 mencapai 6,3, artinya dibutuhkan enam unit investasi untuk menghasilkan satu unit output. Negara lain rata-rata hanya 3–4. “Selama infrastruktur, SDM, dan kepastian hukum belum mendukung, sulit meningkatkan pertumbuhan ekonomi lewat investasi,” kata Ahmad.

Dorongan Fiskal dan Tantangan Produktivitas

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai investasi fisik harus menjadi motor utama produktivitas. Ia mendorong percepatan belanja modal pemerintah dan penyederhanaan perizinan. “Investasi jangan hanya menambah kapasitas, tapi juga harus meningkatkan efisiensi logistik dan energi,” ujarnya.

Meski begitu, Josua menilai struktur ekonomi masih rapuh. Tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2025 mencapai 4,85 persen. Pekerja formal naik menjadi 42,2 persen, namun banyak pekerja paruh waktu dan upah riil masih stagnan. “Kualitas pertumbuhan membaik, tapi belum cukup untuk melompat ke 8 persen,” ujarnya.

Ekonom Bank Permata lainnya, David Sumual, mengatakan Indonesia membutuhkan dua faktor utama untuk tumbuh lebih tinggi: investasi kuat dan dorongan harga komoditas seperti era boom komoditas pascakrisis 2008. Namun, ia menilai belum ada pergeseran struktural ke arah investasi. “Khusus triwulan III, ini bukan pertumbuhan berkualitas, tapi pertumbuhan yang terjaga,” ujarnya.

Stimulus Pemerintah dan Peran APBN

Untuk menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah menempatkan dana kas negara Rp 200 triliun ke perbankan. Kebijakan ini bertujuan menjaga likuiditas dan mendukung pembiayaan sektor riil. Riza Annisa menilai dorongan belanja pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting yang menjaga pertumbuhan ekonomi. “Tahun ini kesannya sangat di-push, belanja pemerintah menjadi kunci mendorong sektor riil,” katanya.

Ekonom Arfian Prasetya Aji dari Kisi Asset Management menilai pertumbuhan ekonomi masih bisa terjaga di kisaran 5,0–5,1 persen pada akhir tahun. Ia menilai efek stimulus dan peningkatan daya beli akan terasa di triwulan IV. “Ada potensi peningkatan seiring berjalannya paket stimulus dan kebijakan penempatan dana pemerintah di sistem perbankan,” ujarnya.

Sementara itu, Myrdal Gunarto dari Maybank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan IV sekitar 5,08 persen, didorong faktor musiman dan program bantuan sosial. “Realisasi program prioritas pemerintah, baik bansos maupun program ekonomi masyarakat, mulai terasa di lapisan bawah,” kata Myrdal.

Helmi Arman dari Citibank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan kuartal IV tetap di atas 5 persen, meski tidak jauh berbeda dari kuartal III. “Kuartal IV biasanya belanja pemerintah lebih kencang,” ujarnya.

Arah Kebijakan dan Optimisme 2026

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2025 berada sedikit di atas titik tengah proyeksi 4,6–5,4 persen. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menjelaskan optimisme ini didorong oleh ekspor dan belanja pemerintah. “Kami memperkirakan pertumbuhan 2025 akan sedikit di atas titik tengah proyeksi,” ujarnya di Bukittinggi (26/10/2025).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah optimistis target tahunan bisa tercapai. “APBN dikelola efektif, koordinasi erat dengan otoritas moneter menjaga daya beli masyarakat dan kinerja dunia usaha,” katanya. Pemerintah akan terus mendorong sinkronisasi kebijakan fiskal, sektor keuangan, dan investasi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi tinggi yang stabil dan berkeadilan.

Target Bisa, Tapi Butuh Lompatan Nyata

Untuk mencapai target 5,2 persen, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen pada triwulan IV—angka yang belum pernah tercapai selama satu dekade. Konsumsi domestik yang lesu, ICOR tinggi, serta kualitas investasi yang belum merata menjadi tantangan utama.

Namun, dengan dorongan fiskal yang kuat, belanja pemerintah yang meningkat di akhir tahun, dan stabilitas ekspor, peluang masih terbuka. Tahun 2026 diproyeksikan ekonomi tumbuh 5,2 persen, tetapi tanpa perbaikan produktivitas dan efisiensi investasi, pertumbuhan ekonomi tinggi hanya akan menjadi angka di atas kertas.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related news