Harian Masyarakat | Zohran Mamdani, politikus muda berusia 34 tahun, resmi memenangkan pemilihan wali kota New York dan mencetak sejarah sebagai Muslim pertama yang memimpin kota terbesar di Amerika Serikat. Kemenangannya bukan sekadar simbol keberagaman, tapi juga menandai pergeseran besar dalam arah politik Amerika menuju kekuatan progresif yang menantang dominasi elite lama Partai Demokrat.
Dari Politikus Pinggiran Jadi Wali Kota Terbesar

Setahun lalu, nama Zohran Mamdani nyaris tak dikenal. Ia hanya seorang anggota majelis negara bagian dengan pengaruh terbatas. Namun, kampanye berbasis akar rumput yang menekankan isu keterjangkauan biaya hidup mengubah semuanya. Dalam waktu singkat, ia menyingkirkan mantan gubernur Andrew Cuomo di pemilihan pendahuluan Demokrat dengan selisih 13 poin, lalu mengalahkannya lagi di pemilihan umum. Calon Republik Curtis Sliwa tak mampu bersaing di kota yang mayoritas pemilihnya Demokrat.
Lebih dari dua juta warga New York memberikan suara, jumlah tertinggi dalam pemilihan wali kota sejak 1969. Data pemilihan menunjukkan Mamdani unggul di hampir semua kelompok ras, termasuk pemilih kulit putih, kulit hitam, Latino, dan Asia. Pemilih muda di bawah 45 tahun mendukungnya dengan selisih 43 poin dibanding Cuomo.
Sosialis Demokrat yang Membalikkan Peta Politik
Zohran Mamdani dikenal sebagai sosialis demokrat yang lantang. Ia memimpin kampanye dengan pesan sederhana: biaya hidup di New York sudah tidak manusiawi. Program utamanya mencakup pembekuan sewa untuk hampir satu juta unit apartemen, transportasi bus gratis, layanan penitipan anak universal, pembangunan perumahan terjangkau, hingga rencana mendirikan toko bahan pokok milik kota.
“Ketika kami memulai kampanye ini, tidak ada satu pun kamera televisi yang meliput,” katanya di hadapan ribuan pendukung di Queens. “Empat bulan kemudian, dukungan kami hanya satu persen. Tapi hari ini, rakyat kota ini membuktikan bahwa politik bisa berubah jika suara mereka bersatu.”
Kemenangannya juga menjadi pukulan telak bagi Partai Demokrat moderat. Cuomo, simbol establishment lama, gagal menandingi energi generasi baru. “Ini perang saudara di tubuh Partai Demokrat,” kata Cuomo saat mencoblos. “Sayap kiri yang ekstrem kini menantang kaum moderat.”

Pertarungan Politik dan Serangan Islamofobia
Kampanye ini berlangsung panas dan kerap brutal. Mamdani diserang karena sikapnya yang pro-Palestina. Ia dikritik keras oleh kelompok pro-Israel dan sebagian donor Demokrat. Cuomo bahkan menuding Mamdani sebagai ancaman bagi komunitas Yahudi, sementara sekutu Trump di Kongres menyebutnya “kandidat jihad”.
Serangan makin intens setelah Donald Trump secara terbuka mendukung Cuomo sehari sebelum pemilihan. Trump memperingatkan bahwa jika Mamdani menang, pemerintah federal akan memblokir dana untuk New York. Elon Musk ikut menyerukan hal serupa di media sosial. Mamdani menanggapinya tegas. “Ini bukan hanya serangan terhadap saya, tapi terhadap setiap warga New York yang menolak diam,” ujarnya.
Dukungan dari Tokoh Progresif
Meski dikepung kritik, Mamdani mendapat dukungan kuat dari sayap progresif nasional. Senator Bernie Sanders dan anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez hadir di panggung kampanyenya. Dukungan juga datang dari Jaksa Agung New York Letitia James, Gubernur Kathy Hochul, hingga pemimpin minoritas DPR AS Hakeem Jeffries. Namun, dua senator New York, Chuck Schumer dan Kirsten Gillibrand, memilih diam.
Kampanye Mamdani mengandalkan donasi kecil dan jaringan relawan yang mencapai lebih dari 100.000 orang. Strateginya di media sosial yang cerdas membuatnya populer di kalangan pemilih muda. Banyak dari mereka adalah pemilih pertama kali.
Tantangan di Balik Kemenangan
Setelah kemenangan ini, tantangan besar menanti. Zohran Mamdani harus bekerja dengan legislatif negara bagian dan dewan kota yang sebagian besar tidak mendukung agenda progresifnya. Gubernur Hochul sudah menolak usulnya untuk menaikkan pajak bagi warga superkaya. Selain itu, ia harus membentuk kabinet dan menentukan arah kepolisian New York.
Pada 2020, Mamdani pernah menyerukan agar kepolisian “dikurangi pendanaannya” dan menyebut lembaga itu “rasis dan anti-queer”. Ia kemudian meminta maaf dan mengatakan akan mempertahankan komisaris saat ini sambil mereformasi sistem dari dalam.
Zohran Mamdani juga menghadapi tekanan dari pemerintahan Trump yang mengancam akan memotong bantuan federal dan mengerahkan Garda Nasional ke kota tersebut. Namun, ia tetap optimistis. “Saya tahu ini tidak mudah,” katanya di Bronx. “Tapi memiliki visi itu penting. Kami akan terus menekan dan memastikan dia bekerja untuk rakyat.”

Simbol Pergeseran Politik Amerika
Kemenangan Mamdani bukan sekadar hasil pemilu lokal. Ia menjadi simbol pergeseran besar dalam politik Amerika. Bersamaan dengan kemenangan Abigail Spanberger di Virginia dan Mikie Sherrill di New Jersey, Demokrat membuktikan bahwa pesan ekonomi masih menjadi kunci. Bedanya, Mamdani menawarkan arah baru: keberpihakan penuh pada kelas pekerja dan komunitas tertindas.
Lahir di Uganda dari orang tua keturunan India, Mamdani pindah ke New York pada usia tujuh tahun dan baru menjadi warga negara Amerika pada 2018. Latar belakangnya yang imigran dan perjuangannya melawan diskriminasi memberi bobot moral pada visinya tentang keadilan sosial. “Ini bukan tentang saya,” katanya. “Ini tentang kota yang percaya semua orang berhak hidup layak.”
Kemenangan Zohran Mamdani menandai babak baru politik Amerika. Dari seorang pendatang yang dulu tak punya panggung, kini ia menjadi wajah baru harapan, membawa pesan bahwa politik bisa dimenangkan dengan keberanian, kejujuran, dan kedekatan dengan rakyat.















